Seorang eksekutif yang profesional, loyal, dan berprestasi, sangat dihormati oleh atasan yang kebetulan adalah juga empunya perusahaan. Ia sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pimpinan perusahaan pada masa depan. Namun, sayangnya, ia tidak suka bergaul ataupun berbincang hal-hal yang tidak terlalu penting.

Bila ditanya alasannya, ia selalu mengatakan tidak suka bergunjing atau berpolitik. Akibatnya, walaupun semua orang tahu dan mengenalnya, ia jarang memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dalam rapat-rapat. Power-nya tidak terasa.

Namun, ketika suatu saat pemimpin perusahaan mengumumkan bahwa teman kita ini akan menduduki jabatan sebagai pengambil keputusan, tiba-tiba saja banyak orang bersikap lebih ramah kepadanya, mendekatinya saat makan siang, bahkan menanyakan pendapatnya pada setiap kesempatan. Ia sampai merasa heran karena selama ini ia merasa invisible di antara teman-teman kantornya. Ia baru menyadari, politik kantor itu memang ada dan bergerak dengan powerful.

Seorang teman lain menyatakan diri anti-politik kantor. Ia menolak mengikuti berbagai grup Whatsapp di kantor, kecuali terkait langsung dengan proyek tertentu. Prestasinya baik-baik saja, baginya yang penting adalah get things done. Namun, ketika ada pengurangan karyawan akibat krisis, ia salah satu yang terkena PHK. Isu yang beredar menyatakan, hal ini karena ia tidak terlalu dikenal oleh manajemen sehingga mereka tidak tahu apakah ia memiliki sense of belongingness pada perusahaan atau tidak.

Semakin dipelajari, semakin kita yakin bahwa politik kantor terjadi baik di lembaga-lembaga pemerintah, kantor swasta besar maupun kecil, bahkan di gereja dan organisasi keagamaan sekalipun. Jadi, mau tidak mau, dalam setiap tahapan kariernya, individu memang perlu mengembangkan keterampilan diri dalam politik organisasi.

Politik kantor tidak selamanya negatif

Terlepas dari konotasinya yang negatif atau positif, politik kantor sebenarnya meliputi dua hal penting: pengaruh dan hubungan. Kekuatan pun muncul dari kedua hal ini.

Ada banyak orang beranggapan, orang yang berpolitik itu adalah orang yang “tidak baik”. Dalam satu survei kecil, sekelompok orang diminta menggunakan tiga kata untuk mendeskripsikan kegiatan politik kantor. Hasil yang didapatkan adalah toksik, mengecewakan, berbahaya, melelahkan, tidak adil, tidak perlu, berkomplot, dan gosip. Bahkan, ada yang berkomentar: menyakitkan hati. Bila pandangan banyak orang bahwa politik kantor itu negatif, bagaimana pula orang kemudian dengan sengaja mempelajarinya? Berpolitik kantor memang bisa dilakukan secara tidak etis, tetapi dapat pula dilakukan dengan etis, bukan?

Sebenarnya politik kantor adalah rangkaian upaya informal, tidak resmi, yang bertujuan tercapainya agenda sang “politikus”. Bila ingin meloloskan proyek divisi kita dalam rapat tahunan di organisasi, kita dapat melakukannya dengan dua cara. Pertama, mencari tahu prioritas dan perspektif para pembuat keputusan, sedikit membuat diri kita dikenal oleh mereka karena tak kenal maka tak sayang sehingga para pembuat keputusan dapat meyakini proyek ini akan berhasil karena berada di tangan orang yang dapat mereka percaya. Namun, di sisi lain, kita juga dapat menyebarkan rumor tentang kejelekan atau kelemahan proyek-proyek lain sehingga mereka tidak diprioritaskan. Keduanya dilakukan dengan tujuan meloloskan agenda pribadinya, tetapi dilakukan dengan cara yang berbeda. Bedanya memang tipis. Prinsip yang mendasarinyalah yang membuatnya jadi berbeda. Untuk itu, kita perlu berlatih tetap memegang etika sambil berusaha mengembangkan kekuatan posisi kita menjadi lebih efektif. As human beings, we are social creatures and the use of relationships, informal influence, and power plays is part of how we engage — for better or for worse.

Self-promotion itu penting

“You can’t let your work speak for you; work doesn’t speak.” Karena yang dapat berbicara hanya manusia, baik diri kita sendiri maupun orang lain. Berbicara tentang pekerjaan kita itu bukan seperti membacakan job description. Kita perlu mengemasnya dalam konteks yang dapat menggambarkan seberapa pentingnya pekerjaan kita dalam menunjang pencapaian tujuan organisasi.

Kuatkan relationship currency

Dalam berkarier, sering kali kita berfokus pada performance currency-nya. Hal ini memang penting untuk mendapatkan kredibilitas dan beragam konsekuensi positif yang menyertainya. Namun, kita perlu ingat bahwa berinvestasi dalam network dan koneksi yang bisa menjadi advocate yang memberi referensi tentang diri kita tidaklah kalah pentingnya. Inilah yang dinamakan strategic relationship.

Jangan pernah berhenti membangun pertemanan baik dengan calon kawan maupun lawan. Bila kita secara teratur membina jejaring ini, suatu saat kita akan merasakan kekuatan political savvy kita, membuat kita semakin kuat dalam menghadapi para stakeholder dalam organisasi. Kekuatan berpolitik kita tidak boleh luntur meskipun sesekali kita mengalami kegagalan. Ingat perkataan Winston Churchill: “In war you can only be killed once. In politics you can be killed many times.”

Berpolitik di lingkungan kerja virtual

Ketika kita tidak bertemu muka, apakah permainan power dan manuver informal dalam politik kantor ini menghilang? Ternyata, walaupun tidak bertatap muka, sebagai makhluk sosial, karyawan tetap lebih suka berkomunikasi informal daripada yang baku dan formal. Kita tidak bisa menilai hal ini gejala negatif karena ini adalah hakikat manusia.

Dengan demikian, kita perlu jeli mencari di mana orang melakukan hang out secara virtual. Apakah di grup Whatsapp, Zoom, atau media lainnya. Media sosial selain sebagai hiburan dan ajang pergaulan informal dapat dimanfaatkan untuk berkoalisi, baik dengan teman sekantor maupun dengan yang di luar kantor.

Akhir kata, politik kantor adalah hal yang tidak bisa kita hindari. Bagaimana kita melakukannya tergantung pada prinsip yang kita anut. Politik kantor selalu melibatkan relationship currency dan modal pengaruh. Selain itu, power dari kedua hal ini bisa menguntungkan Anda atau bisa meninggalkan Anda.

 

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

HR Consultant/Konsultan SDM