Dalam satu dekade ke depan, dunia akan memiliki lebih banyak kota. Permukiman yang selama ini setara kota satelit akan berkembang menjadi kota besar yang turut menopang perekonomian utama. Kalau kamu ingin tetap tinggal di kota, lalu model hunian seperti apa yang cocok? Selain itu, kamu harus menyiapkan dana lebih banyak untuk bisa tinggal di kota.

Hunian vertikal seperti apartemen saat ini menjadi salah satu solusi untuk menyiasati lahan-lahan permukiman kota yang kian sempit. Apartemen umumnya juga dibangun berdekatan dengan ruang-ruang publik dan fasilitas umum.

Lokasi tetap menjadi pertimbangan utama dalam membangun hunian. Orang tidak ingin menghabiskan banyak waktu dalam perjalanan untuk mencapai lokasi tertentu. Oleh karena itu, apartemen menjadi incaran hunian untuk tinggal di perkotaan. Meski tak memiliki tanah pribadi, harga unit apartemen di lokasi strategis tetap mahal.

Unit terbatas

Namun, ada model hunian lain yang bisa kamu pilih selain apartemen. Kamu bisa mencoba mencari town house. Beberapa kalangan mendefinisikan town house sebagai rumah bandar.

Hunian ini berlokasi di tengah kota berupa komplek dengan sedikit rumah. Jumlah rumah dalam town house rata-rata hanya 30 unit.

Ciri lain town house biasanya bersifat tertutup. Contohnya, dari jalan utama komplek town house tidak terlihat seperti perumahan. Terkadang, area sekitar town house tersamarkan oleh pepohonan atau tanaman hijau.

Karena tak terlalu kasatmata, town house dianggap memiliki keamanan lebih baik meski berada di pusat kota. Selain itu, biasanya town house hanya memiliki satu pintu gerbang dengan penjagaan 24 jam. Jadi, biarpun berada di tengah keramaian, keamanan tinggal di rumah bandar terbilang cukup terjamin.

Privasi penghuni juga menjadi keunggulan town house. Tiap unit town house biasanya merupakan bangunan yang terpisah. Dengan jumlah rumah yang terbatas dan tersamar, akan membuat kenyamanan tersendiri bagi penghuni di dalamnya.

Soal fasilitas, town house terbilang komplet, seperti kolam renang, jogging track, dan taman. Pengembang rumah bandar biasanya tak setengah-setengah dalam membangun town house. Pengembang menarget kalangan amat mapan atau kelas atas sebagai pangsa pasarnya.

Harga selangit

Sebenarnya town house bukan tipe hunian model baru. Konsep ini telah muncul sekitar tiga dekade lalu. Saat itu, pasar utamanya adalah kalangan ekspatriat.

Namun, saat ini, peminat town house tidak hanya berasal dari warga negara asing yang bekerja di Indonesia. Masyarakat urban mapan yang tidak ingin repot menempuh perjalanan jauh dari pinggir kota banyak yang berpaling pada town house.

Dengan segala kelebihannya, tidak mengherankan bila satu unit town house bisa sangat mahal dibanding apartemen. Di Jakarta, rumah bandar berlantai dua harga per unitnya bisa lebih dari Rp 25 miliar. Meski harganya selangit, konsumen town house tetap banyak, bahkan tergolong tinggi.

Lalu, apakah town house punya kekurangan? Tentu saja. Ruang lingkup sosial yang terbatas barangkali bisa menjadi pertimbangan kamu sebelum memilih town house.

Pertimbangan lainnya adalah akses. Satu akses untuk keluar-masuk mungkin aman bagi beberapa pihak. Namun, bagi orang lain, adanya akses kedua untuk kondisi darurat tetap dibutuhkan. Sejumlah kalangan tetap memandang satu akses akan “mengurung” kebebasan keluar-masuk komplek. [*]