Tetap optimistis, kita membuka tahun 2020 dengan banyak tantangan. Tepat ketika pergantian tahun, hujan yang seakan tiada hentinya mengguyur Kota Jakarta mengakibatkan hal yang sangat mengejutkan: banjir tidak hanya di tempat-tempat yang biasa terkena banjir, bahkan di tempat yang tidak biasa.

Sudah pasti masyarakat menengok kepada para pemimpin dan menunggu apa yang akan dilakukan mereka sebagai solusi atas kemalangan ini. Sudah sewajarnya kita berharap bahwa pemimpin memiliki solusi yang lebih tajam daripada solusi kita, para rakyat yang merupakan followers.

Ketika seseorang dipilih menjadi pemimpin, ia diharapkan untuk dapat memberikan solusi. Untuk menghindari masalah timbul pada last minute, pemimpin seyogianya melakukan antisipasi. Hal ini sudah terlihat pada beberapa pemimpin yang sudah atau pernah berhasil mengatasi masalah banjir. Ada pemimpin yang sudah mengantisipasi dengan memeriksa keadaan pompa, mengecek sampah yang bertumpuk, hingga memperdalam waduk penampungan agar paling tidak air dapat mengalir ke tempat yang lebih bisa dikendalikan.

Pemimpin yang tidak siap dengan solusi cenderung tidak berpikir antisipatif. Alih-alih, sasaran dari kepemimpinannya menjadi sekadar meminimalisasi masalah yang akan timbul. Masalah-masalah menjadi kian bertumpuk. Di pemerintahan maupun di korporasi besar, office politics, pencitraan, cari muka, permainan power, hingga pemutarbalikan fakta sudah sering terdengar gaungnya. Tidak hanya permasalahan internal, dalam persaingan bisnis, kompetitor pun dapat menimbulkan masalah yang berpotensi membuat hubungan kita dengan pelanggan lama menjadi tidak harmonis.

Karl Popper, salah seorang filsuf ilmu pengetahuan pada abad ke-20, menyatakan, “All life is problem solving”, dan “I’ve often contended that the best leaders are the best problem solvers”. Para pemimpin memang diharapkan untuk menjadi pemecah masalah. Untuk dapat menjadi pemecah masalah, pemimpin harus mampu dan mau berbesar hati mundur selangkah. Melihat suatu permasalahan secara lebih luas, dari hulu ke hilir, sebelum dan sesudah suatu gejala muncul. Pemimpin yang efektif melihat masalah dari kacamata kesempatan: kapan suatu kondisi dapat menimbulkan masalah.

Bicara mengenai masalah, hidup ini memang terdiri atas sekumpulan masalah. Besar dan kecil. Seorang wanita influencer yang terlihat sejahtera dan bahagia setelah melahirkan, bisa saja mempunyai masalah dengan bayinya yang tidak mau menyusu. Selain itu, seorang manajer yang terkesan sukses di pekerjaan, ternyata memiliki masalah dengan keluarga istri yang berbeda budaya. Ini baru contoh kecil permasalahan rumah tangga. Negara tentunya memiliki masalah yang jauh lebih besar. Menteri BUMN yang baru saja menduduki jabatan beberapa hari, sudah harus menangani masalah direktur yang melakukan pelanggaran, sementara beliau juga harus menghadapi permasalahan utang yang sudah tidak tertanggulangi dari perusahaan di bawah naungannya.

Dengan banyaknya masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan ini, kita sering kali merasa tidak cukup waktu untuk mencari solusi dan keluar dari masalah. Tanpa terasa, masalah kian bertumpuk sehingga kita terkadang memutuskan mengambil jalan pintas berupa solusi sementara atau bahkan tidak mencari solusi sama sekali. Pada akhirnya, kita sering kali tidak menuntaskan masalah dan tidak mendapatkan solusi yang mendasar. Kita terjebak dalam suatu siklus, hubungan sebab akibat, timbal balik yang tidak berujung: lingkaran setan. Pernahkah Anda mengalami situasi ini?

Mengapa orang menunda mencari solusi

Terkadang kita sebagai follower tidak sabar dan geregetan melihat pemimpin kita tidak segera keluar dengan solusi tertentu. Namun, pernahkah kita menelaah apa sebenarnya masalahnya dengan pencarian solusi ini?

Pemecahan masalah adalah cara berpikir yang sering disebut sebagai fungsi intelektual yang paling kompleks pada manusia. Ini adalah keterampilan kognitif tingkat tinggi yang bekerja ketika seseorang harus memindahkan suatu situasi dari keadaan tertentu ke sasaran yang diinginkan. Kesenjangan akan suatu keadaan ideal dengan realitanya inilah yang sering kita lihat sebagai situasi yang sederhana, tetapi ternyata mempunyai bermacam bentuk.

Terkadang situasi tidak terlihat jelas. Hal ini bisa terjadi karena pemimpin tidak terbiasa meneropong situasi dan fakta-fakta secara teratur dan rinci, atau memang karena ini adalah pengalaman baru. Misalnya, seseorang yang mempunyai kapal, tetapi jarang menggunakannya, dan tiba-tiba harus mengendalikan kapal tersebut menghadapi badai. Bingung, bukan?

Contoh lain adalah situasi yang seperti memakan buah simalakama. Ada beberapa sasaran yang harus dipenuhi, yang masing-masing sasaran memiliki risiko dan konsekuensi tersendiri. Lantas si pengambil keputusan bingung, langkah apa yang akan diambil. Dalam kebingungan ini, pemimpin bisa saja terlihat seperti tidak mengambil keputusan.

Situasi lain yang sering membuat sulitnya mencari solusi adalah kompleksitas dari suatu situasi, yang ada berbagai hal yang harus dicarikan solusi sementara. Solusi juga tergantung dari berbagai aspek. Terakhir, situasi yang dinamis juga memberikan kesulitan tersendiri. Contohnya dalam kasus banjir Jakarta. Solusi harus dicari saat itu juga, padahal kendala untuk melaksanakan solusinya juga masih banyak. Pencarian solusi menjadi seolah berkejar-kejaran dengan situasi yang bergerak.

Lantas dengan memahami berbagai kendala dalam situasi, apakah kita lalu bisa memahami pemimpin dan membiarkan ia tidak mencari solusi? Tidak. Situasi pemecahan masalah sama dengan keadaan perang. Pemimpin harus segera menentukan bagaimana menghentikan, menyerang, ataupun menghindari gejala tertentu. Pemimpin bisa saja terlahir cerdas, tetapi dalam konteks kepemimpinan ini, kecerdasannya harus menggerakkan course of action. Kemampuan inilah yang harus diasah dan dipraktikkan sepanjang karier seorang pemimpin. Pengalaman gagal dan sukses sudah pasti akan terjadi, tetapi insight dari keberhasilan maupun kegagalan itulah yang menjadi modal ketajaman pengambilan keputusannya.

Belajar dari pemimpin-pemimpin besar dunia, kita tahu Julius Caesar menaklukkan sebagian besar dataran Eropa dengan metode perang yang inovatif. Alexander The Great, membangun jembatan raksasa yang tidak disangka ternyata digunakan untuk memindahkan alat-alat berat untuk pengepungan dalam rangka menguasai sebuah pulau. Mahatma Gandhi, memersepsi penjajahan Inggris sebagai masalah yang berat. Ia kemudian justru membuat perlawanan tanpa kekerasan. Jumlah manusia yang ikut serta dalam gerakannya jauh melebihi jumlah tentara Inggris sehingga akhirnya ia memenangkan kemerdekaan India. Inilah contoh pemimpin dengan solusi yang ber-impact.

Bagaimana dengan kita?

Kita tidak bisa membiarkan diri menjadi individu yang hanya menunggu solusi muncul. Kita tidak perlu menunggu sampai saat kita menjadi pemimpin, baru kemudian belajar untuk giat mencari solusi. Kita harus memunculkan selfleadership dan mulai menjadi si pencari solusi. Lantas, kebiasaan apa yang dibangun pencari solusi?

Pertama, peka terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Kita perlu mampu menganalisis latar belakang masalah, penyebab suatu gejala, akibat dan dampaknya. Kedua, selalu awas dengan keberadaan sumber daya yang ada di sekitar kita. Pahami kekuatan setiap sumber daya yang ada dan apa yang bisa dimanfaatkan darinya. Ketiga, kita perlu mengerti peran-peran yang bisa dimainkan oleh setiap anggota tim kita atau orang-orang di sekitar, sehingga kita bisa menggerakkan mereka secara efektif. Dan, terakhir, kita juga perlu awas terhadap adanya hambatan, tantangan, bahkan serangan “musuh” atau kompetitor. Berpikir dari hulu ke hilir, tidak sekadar mengidentifikasi hambatan atau tantangan, tetapi juga kapan suatu hambatan bisa muncul.

Bila sudah terbiasa melakukan kegiatan-kegiatan di atas, dalam keadaan genting, kita tidak perlu lagi berlama-lama menganalisis semua unsur masalah dari nol. Kita sudah siap menyusun barisan untuk merancang course of action. Kita datang dengan solusi. Jadi, Andakah si pencari solusi itu?

Eileen Rachman & Dyah Larasati

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 11 Januari 2020.