Kepemimpinan adalah salah satu keterampilan penting dalam kehidupan berorganisasi. Sebuah organisasi dalam bentuk apapun, seperti institusi pendidikan, entitas ekonomi, lembaga sosial, maupun organisasi lainnya tak akan bisa berjalan efektif tanpa sosok yang memiliki kepemimpinan yang baik.

Terlebih di era sekarang, dunia bergerak semakin cepat sehingga membutuhkan gaya leadership yang dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Dalam konteks ini, kepemimpinan inklusif menjadi metode yang dapat diimplementasikan untuk menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Hal ini pun dibahas dalam siniar Obsesif bertajuk “Kepemimpinan Inklusif Bikin Kamu Lebih Dihargai” dengan tautan akses dik.si/ObsesifS8EP8.

Apa itu Kepemimpinan Inklusif?

Menurut Saunders dalam Native Leaders – Leading Native: Looking At Inclusionary Tactics For First Nations Implementation (2005), kepemimpinan inklusif adalah suatu mekanisme untuk memberikan hak berbicara pada setiap orang dalam organisasi untuk pengambilan keputusan melalui konsensus.

Metode itu adalah kemampuan mengelola sekelompok orang yang heterogen. Kepemimpinan inklusif termasuk dalam kepemimpinan yang murni, karena tak membeda-bedakan latar belakang seluruh anggota organisasi. Dengan demikian, seluruh anggota organisasi merasa diperlakukan secara adil dan dibutuhkan.

Hasilnya, bisa membantu menyeimbangkan antara tuntutan pekerjaan dengan kebutuhan anggota organisasi. Pekerjaan dilakukan secara kolaboratif sehingga semua anggota terlibat dalam setiap pekerjaan.

Ciri Kepemimpinan Inklusif

Dalam Harvard Business Review, Juliet Bourke dan Titus menjelaskan bahwa kepemimpinan inklusif merupakan solusi agar sebuah organisasi berjalan efektif. Bahkan, pemimpin inklusif dapat meningkatkan kualitas keputusan sebesar 20 persen, aksi kolaboratif sebesar 29 persen, dan kehadiran anggota sebesar 10 persen. Mengutip Fast Company, ada empat ciri yang biasanya diterapkan dalam keseharian.

Mampu Menciptakan Suasana yang Aman dan Nyaman

Lingkungan dengan pemimpin yang inklusif dapat memicu ide-ide dan inovasi. Ketika orang merasa aman untuk berbagi ide baru, mereka akan cenderung lebih berbicara dan berkontribusi terhadap organisasi.

Pemimpin inklusif mampu melihat berbagai peluang bagi setiap orang untuk berbagi ide. Sehingga, seluruh anggota organisasi didorong untuk melakukan diskusi terbuka dan jujur dengan cara berbagi dan berdebat. Dengan demikian, lingkungan organisasi akan lebih positif.

Memberi Kesempatan Anggota Tim untuk Mengambil Keputusan

Pemimpin inklusif selalu mencari cara untuk memberdayakan orang-orang yang memiliki ide.  Bahkan, memberikan tantangan kepada mereka untuk menyelesaikan masalah yang mereka identifikasi.

Metode kepemimpinan ini akan memberi kesempatan untuk mendelegasikan tanggung jawab kepada anggota tim. Namun, tetap melakukan pembimbingan untuk mengembangan keterampilan mereka.

Memberi Penghargaan untuk Keberhasilan

Kepemimpinan inklusif dapat menunjukkan bahwa seluruh anggota tim memiliki kontribusi terhadap keberhasilan yang telah diraih. Hal itu akan menumbuhkan tingkat kepercayaan seluruh anggota tim, sehingga dapat mendorong keterlibatan.

Mendengarkan Semua Anggota Tim

Seorang pemimpin tak hanya menetapkan target kerja. Namun, ia juga harus mampu mengatur ritme organisasi dan memastikan setiap orang pendapatnya didengarkan.

Pemimpin inklusif mampu memastikan semua orang diberi kesempatan yang sama untuk didengarkan. Terlepas dari latar belakang, gelar, dan jabatannya, semua akan diperlakukan adil.

Lantas, bagaimana cara menerapkan kepemimpinan inklusif agar lebih dihargai?

Dengarkan jawaban lengkapnya dalam siniar Obsesif bertajuk “Kepemimpinan Inklusif Bikin Kamu Lebih Dihargai” di Spotify. Akses sekarang juga melalui tautan akses dik.si/ObsesifS8EP8.

Di sana, kamu bisa mendapatkan informasi menarik seputar dunia kerja untuk fresh graduate dan job seeker. Tunggu apalagi, akses sekarang juga siniar Obsesif dan playlist-nya di YouTube Medio by KG Media agar tak terlewat tiap episode terbarunya!

Penulis: Rangga Septio Wardana dan Brigitta Valencia Bellion

Baca juga: Krisis Kepemimpinan atau Krisis SDM?