Bertambahnya jumlah penduduk di kota-kota besar membuat kebutuhan akan tempat tinggal terus meningkat. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan akan tempat tinggal di kota-kota besar di Indonesia telah mencapai 18,4 juta unit. Dengan kebutuhan sebanyak itu, tentu pembangunan tempat tinggal dalam jumlah masif sangat diperlukan.

Di sisi lain, ruang terbuka hijau yang tersedia pun semakin menurun jumlahnya karena dialihfungsikan menjadi lahan pembangunan. Ditambah pembangunan yang berlangsung juga mengabaikan kondisi lingkungan di sekitarnya sehingga membuat kondisi dengan alam menjadi tidak seimbang.

Ketika kondisi alam menjadi tidak seimbang, tentunya banjir dan tingginya tingkat polusi udara pun meningkat. Salah satu solusi dalam menghadapi kondisi tersebut adalah dengan menciptakan sebuah bangunan dengan konsep eco-house atau eco-building.

Konsep desain eco-house atau eco-building adalah penyelarasan bangunan dengan alam. Alam menyediakan air, cahaya, dan udara. Semua itu didapat dengan gratis sehingga alangkah baiknya semua itu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk bangunan.

Pemanfaatan ini dimaksudkan agar keseimbangan lingkungan tetap terjaga dan memberikan dampak positif bagi pengguna bangunan dan makhluk hidup di sekitarnya. Di tengah terpaan pemanasan global, munculnya berbagai desain bangunan berkonsep living with nature diharapkan mampu memaksimalkan segala kebaikan yang diberikan oleh alam.

Beberapa aspek yang ada di alam berkontribusi penting dalam terciptanya konsep ini, seperti pemanfaatan air. Desain rumah minimalis dengan atap dak diharapkan mampu berperan sebagai media penampung hujan sementara. Air ini kemudian dapat dimanfaatkan untuk berbagai fungsi, misalnya untuk mencuci dan menyirami tanaman. Selain itu, pemanas air di kamar mandi dapat memanfaatkan energi matahari melalui panel surya.

Selanjutnya, pemanfaatan cahaya. Cahaya matahari dioptimalkan di dalam eco-house atau eco-building sebagai pencahayaan alami. Aplikasinya adalah dengan sky light system. Sky light system merupakan atap transparan dari kaca khusus dan dapat dipasang di atap dak di lantai 2. Aplikasinya terletak di beberapa titik rumah dengan dimensi yang cukup besar diharapkan mampu menerangi ruangan dalam rumah sehingga lampu tidak perlu menyala pada siang hari. Supaya bisa masuk ke lantai 1, dibuat void di ruang tengah.

Kemudian, pemanfaatan udara. Suhu Bumi yang semakin panas mengharuskan bangunan butuh sistem pendingin udara. Salah satu cara paling instan adalah air conditioning (AC). Kondisi ini justru menimbulkan dampak negatif pada lapisan ozon Bumi. Untuk itu, dalam desain eco-house, rumah dapat didesain dengan memanfaatkan aliran udara semaksimal mungkin agar ruangan rumah tidak panas. Sistem penghawaan alami diaplikasikan dengan memperbanyak bukaan pada dinding rumah, juga dengan merendahkan dinding interior agar udara tetap mengalir bebas.

Sistem bukaan dapat diterapkan seperti jendela bambu modifikasi. Jendela bambu modifikasi terbuat dari rangka aluminium. Sebagai bukaan yang respons terhadap angin dan cahaya, bukaan jendela dibuat dengan kisi-kisi bambu yang didesain miring agar cahaya dan udara dapat masuk. Jendela seperti ini juga dapat diputar sesuai kebutuhan pengguna ruangan.

Material atap rumah yang digunakan pun turut diperhatikan. Dengan cara mengaplikasikan atap terbuat dari lapisan bitumen dengan campuran material sintetik, serpihan aspal, dan karbon. Tujuan penggunaan atap ini tak lain untuk mengurangi radiasi. Sementara, di bawah atap terdapat insulator yang terdiri atas aluminium dan bubble. Untuk konstruksinya, bangunan dapat menggunakan rangka baja ringan, bata ringan untuk dinding, dan marmer untuk lantai. [*/ACH]

 

Klasikamus

Void adalah ruang kosong yang berada di antara lantai atas dan bawah. Biasanya digunakan untuk mengatur teknik sirkulasi udara agar suhu yang berada di dalam ruangan tetap terasa sejuk dan tidak panas.