Dengan berubahnya lingkungan ekonomi sebagai akibat dari pandemi dan perkembangan teknologi yang pesat, kebutuhan untuk membuat dampak yang kuat menjadi sangat penting. Dalam media sosial, kita dapat melihat bagaimana tokoh yang tiba-tiba membuat dampak besar dapat memiliki pengaruh sampai ke  tokoh politik pun. Namun, membuat dampak memang bukan perkara mudah. Banyak yang melakukan beragam upaya keras, tetapi tetap tidak memberikan efek yang signifikan.

Sebagai pemimpin, kita pun ingin menjadi pemimpin yang memiliki dampak ke organisasi, tim, bahkan sampai kepada pelanggan. Dampak adalah kekuatan memengaruhi lingkungan sekitar sehingga orang lain terinspirasi untuk melakukan tingkah laku positif. Ungkapan John Maxwell yang mengatakan bahwa leadership is influence – nothing more, nothing less, perlu ditambahkan dengan terciptanya dampak ke lingkungan sekitar. Kemampuan memengaruhi tidak selamanya dapat membuat dampak. Meskipun memang dengan berhasilnya kita memengaruhi orang lain, kesempatan membuat dampak tentunya menjadi lebih besar. Leaders influence, but not every leader produces impact. Untuk menjadi efektif, dampak yang terasa perlu ada secara berkesinambungan. Intinya, dampak adalah pengaruh yang menginspirasi orang lain. Seorang pemimpin dapat memiliki pengaruh besar terhadap cara kerja, tata krama, sampai kepada kondisi mental anak buahnya.

Jadi, apa sebenarnya yang membedakan seorang pemimpin yang berhasil membuat dampak dengan yang tidak?

Pertama, pemimpin yang memiliki dampak biasanya terampil dalam mempraktikkan emotional agility. Pemimpin yang efektif biasanya tidak menyembunyikan perasaan dan penghayatan internalnya. Semua pembicaraan batin dan self talk-nya dilakukan dengan cara yang mindful dan produktif.  Seorang pemimpin yang ingin bekerja dengan para pengikutnya, bahkan memiliki pengaruh pada orang di sekitarnya memang perlu menyelesaikan semua konflik dan kekhawatiran yang ada dalam dirinya dulu. Ia perlu selesai dengan dirinya sehingga kuat untuk agile secara emosional. Dengan demikian, apa pun masalahnya, emosi dan pikirannya tetap di bawah kontrol.

Pemimpin dengan emotional agility biasanya lebih mudah berkomunikasi secara transparan dengan para pengikutnya. Ia memberikan ruang terbuka pada mereka untuk dapat berterus terang menyatakan perasaan, pendapat maupun ide-ide mereka di forum. Ia perlu bersikap autentik dalam memberikan tanggapan sehingga anggota tim pun merasa diberdayakan dan dimudahkan. Sikap ini sangat dibutuhkan apalagi dalam situasi yang serba tidak jelas ini. Semakin terbuka dan transparan suasana kerja, semakin mudah para anggota kelompok mencapai sasarannya. Pemimpin dapat menjadi hub untuk informasi dan perputaran komunikasi. Dengan demikian, rasa percaya antar-anggota tim juga lebih mudah terbentuk. Individu yang sudah merasa “aman” dapat menjadi dirinya sendiri dan bisa berprestasi lebih optimal.

Seorang pemimpin yang berdampak juga memberikan kejelasan arah dan tujuan bagi para pengikutnya. Mereka perlu mengupayakan agar para bawahan mengerti  the why of work. Para pengikutnya perlu menyadari arti dan nilai dari apa  yang mereka kerjakan. Dari sinilah akan timbul inspirasi, motivasi, dan nilai-nilai yang  dihayati anak buahnya hingga mereka terdorong untuk berprestasi.

Seorang pemimpin berdampak akan menunjukkan cara berpikir yang sistematik.  Situasi bisnis terkini dengan ekosistemnya penuh dengan hal-hal yang terinterkoneksi dan tumpang tindih. Pemimpin perlu mengurai dan menyusun sistematika permasalahannya agar ia dapat menavigasi kelompoknya dan memampukan mereka untuk bersikap responsif terhadap ketidakjelasan  dan perubahan-perubahan mendadak yang terjadi. Pemimpin yang memiliki helicopter view dapat membantu anggota timnya agar lebih memahami mengapa dan bagaimana mereka mengatur responsnya.

Oleh karena itu, untuk menjadi lebih berdampak, pemimpin perlu meningkatkan keterampilannya dalam beberapa hal berikut ini.

  • Menguatkan energi tim. Tim akan mengeluarkan energi lebih kalau mereka merasa pasti, aman dan jelas sasarannya. Seorang pemimpin perlu terampil merabarasakan energi tim yang mulai melemah. Di sinilah ia perlu meningkatkan komunikasi yang mengingatkan kembali pada tujuan kelompok, mengurangi kekhawatiran, dan meningkatkan moral.
  • Menggalakkan kolaborasi, baik secara internal maupun eksternal. Bigger results come from bigger efforts. Sebagai pemimpin, kitalah yang perlu memiliki obsesi untuk menyatukan bagian-bagian yang masih terpisah, yang tentunya menyulitkan inovasi. Kita perlu meyakini bahwa kolaborasi akan membawa banyak kemungkinan lain yang bisa menjamin kesuksesan yang lebih besar.
  • Menumbuhkan kreativitas. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, kita dapat memancing kreativitas anggota tim. Diskusi-diskusi positif akan menelurkan inovasi. Ketika tanya jawab seperti ini sudah menjadi kebiasaan, tim akan tumbuh menjadi tim yang kuat dan kreatif.
  • Menggunakan pengaruh, bukan kekuasaan. Semenjak kapan pun, tidak ada bawahan yang senang ditekan dan dipaksa. Kesabaran, kehalusan tutur kata, dan persuasi akan memperlemah hati yang keras sekalipun sehingga dapat membangun sambung rasa untuk meningkatkan dampak.
  • Memberikan penghargaan. Hargai kemajuan sekecil apa pun itu. Hindari suasana toksik yang penuh tegangan tinggi, bernada menghukum, dan penuh penilaian. Hindari “killer C”, seperti criticizing, complaining, comparing, colluding, ataupun Pelihara kata-kata penuh energi. Dengan menebarkan semangat untuk maju, tim akan menunjukkan respek dan semangat serta meminimalisasi pemikiran tentang hambatan.
  • Berfokus pada apa yang benar, bukan siapa yang benar. Jangan berpihak. Manfaatkan konflik untuk menjadi sumber inspirasi perbaikan.

Jelas tidak ada jalan pintas untuk tiba-tiba menjadi pemimpin yang berdampak, tetapi tidak ada jalan lain selain upaya keras untuk  menuju ke sana. Seorang CEO mengatakan, “The potential leaders in our pipeline need to show up, step up, and increase their leadership impact.” Sebaiknya kita memulai saja.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Baca juga : Mengembangkan Diri di Tengah Kesibukan

Motivasi Diri

Budaya Memotivasi