Jangan lekas bersedih jika kamu mendapat warisan tanah di lokasi berkontur atau miring dari orangtua. Tanah yang berada di tepi sungai misalnya, biasanya tak landai. Bila mendapat tanah yang demikian, Kamu tak perlu keburu berpikir untuk menguruknya agar rata.

Tanah yang tak rata biasanya malah akan menjadi alas untuk sebuah bangunan yang eksotis dan artistik. Arsitek yang gemar mengasah kreativitas biasanya senang jika ditantang untuk merancang rumah di lahan berkontur. Apalagi jika didekat tanah tersebut terdapat kali kecil dengan air mengalir jernih dan bebatuan yang diam menyembul, ini bisa menjadi komponen bernilai tinggi.

Ada beberapa keuntungan yang bisa diolah dari lahan miring. Pertama, kamu akan memiliki bentuk rumah yang unik. Kedua, rumah yang berdiri di atas lahan miring cocok untuk orang-orang yang berjiwa muda atau memiliki selera seni. Ketiga, setelah kita berhasil membuat rumah apik dengan memanfaatkan kontur tanah, nilai investasi propertimu akan terdongkrak naik.

Biasanya, rumah yang berdiri di atas tanah miring didesain dengan pengelompokan ruangan berdasarkan fungsi. Semisal, ruang keluarga terletak sebidang dengan ruang tamu, atau dapur dengan ruang makan. Pengelompokan ini bertujuan agar rumah menjadi efisien dan efektif.

Rumah di tanah berkontur umumnya akan menggunakan banyak tangga untuk menyatukan ketinggian tanah yang berbeda-beda. Selain itu, arsitek akan mengusulkan adanya split level atau mezzaine. Namun, jika tanah tidak terlalu miring, mezzaine tak terlalu diperlukan.

Bagaimana dengan gaya rumah? Rumah di lahan miring kebanyakan bergaya minimalis modern. Kamu bisa memiliki tiga lantai di level tanah yang berbeda.

Contohnya, lantai satu ada di bawah level tanah, lantai dua sejajar level tanah, dan lantai tiga di atas level tanah. Di lantai tiga, arsitek dapat menerapkan jendela-jendela besar. Selain itu, kamu dapat pula mengeksplorasi pencahayaan, di dalam dan luar ruangan. Lampu-lampu yang dipasang tak hanya untuk penerangan, tetapi juga dapat berfungsi sebagai aksen.

Taman berjenjang

Di bagian depan rumah, jika masih tersisa lahan kosong, kamu bisa membuat suatu taman yang indah. Taman inipun akan menampilkan jenjang tanah secara jelas. Jenjang paling atas dapat kamu tanami dengan beberapa jenis bunga warna-warni. Misalnya, petunia, pentas, kembang sepatu, bugenvil, atau anggrek.

Sementara itu, jenjang tengah bisa diisi dengan tanaman perdu. Contohnya, tanaman ekor tupai, lili paris, rombusa mini, atau sutra bombai yang ketika berbunga tampak cantik. Sedangkan jenjang paling bawah, bisa kamu hamparkan rumput hias. Kamu bisa memilih rumput jepang, manila, gajah mini, atau rumput swiss yang memesona.

Adapun sebagai penahan dinding antarjenjang agar tidak mudah longsor, kamu dapat menggunakan bebatuan alam. Misalnya, batu palimanan, andesit, batu templek, atau batu sukabumi yang menawan.

Yang harus diperhatikan pada lahan miring adalah kecenderungan tanah yang kurang stabil. Oleh sebab itu, sistem drainase harus dibuat dengan baik. Beberapa tanaman pencegah longsor atau erosi bisa dipertimbangkan, misalnya bambu dan pohon mangga. [*]