Dibuang sayang. Ini menjadi pemikiran beberapa orang yang akhirnya jatuh cinta dan melihat peluang bahwa barang-barang vintage atau zadul (zaman dulu) dapat menjadi bisnis yang menyenangkan. Bentuk yang khas barang-barang vintage berusia 30–50 tahun mampu terlihat selalu memesona. Terlebih lagi jika Anda dapat memadupadankannya dengan tampilan masa kini seperti yang dilakukan Jakarta Vintage dan Daivintage. Dengan sedikit sentuhan kreatif, barang-barang tersebut akan tampil berbeda dan unik.

Jakarta Vintage adalah sebuah blog yang didirikan sebagai tempat sharing antar-penyuka barang-barang vintage. Hingga akhirnya, Jakarta Vintage memasok mebel vintage khususnya kursi untuk dimasukkan ke berbagai tempat seperti rumah, kantor, dan kafe. Saat ini, Jakarta Vintage juga berjalan sebagai bisnis online shopping.

Apa yang dilakukan Jakarta Vintage dengan tampilan kursi-kursi vintage tersebut adalah memberikan warna yang cerah sehingga membuat kursi-kursi vintage terlihat seperti barang baru. Produk yang dihasilkan Jakarta Vintage pun mengusung konsep green living yaitu reuse, recycle, dan repurposed karena memberdayakan barang-barang yang sudah ada.

Penggunaan kembali barang vintage itu artinya konsep green living tengah dilakukan. Dari hal ini pula, sustainable living atau hidup berkelanjutan diharapkan dapat berjalan secara serempak seiringan, misalnya dengan mengajak pihak lain untuk ikut serta. Hal ini dilakukan Jakarta Vintage dengan berkolaborasi bersama komunitas-komunitas lain di beberapa festival.

Seperti belum lama ini dalam Do Art Project yang diselenggarakan pada 3–9 November 2014 di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Jakarta Vintage menyediakan kursi dan komunitas-komunitas yang mendesain atau menghias kursi-kursi yang akan menjadi display untuk pameran. Selain itu, Jakarta Vintage bekerja sama dengan Aqil Prabowo, seniman cilik berusia 10 tahun penyandang disleksia yang memiliki kemampuan untuk membawa keindahan alam ke dalam lukisan-lukisannya yang murni dan apa adanya untuk menghias kursi-kursi vintage tersebut.

Soal harga, ternyata kursi-kursi vintage ala Jakarta Vintage mampu menembus harga hingga jutaan rupiah untuk satu kursinya. Hal ini dikarenakan para pembeli tidak hanya melihat desainnya, tetapi juga material yang digunakan. Penggunaan kembali barang-barang yang tidak terpakai pun dinilai lebih ramah lingkungan.

Sementara itu, apa yang dilakukan oleh Daivintage tidak jauh berbeda dengan Jakarta Vintage. Bedanya Daivintage tidak hanya menjual kursi vintage, tetapi juga berbagai macam hal barang-barang vintage mulai dari buku, pernak-pernik, pakaian, kalkulator, koper, kartu pos, kamera, hingga piringan hitam. Di Daivintage juga terdapat beberapa produk yang diproduksi sendiri seperti notebook, jewelry, dan recycle chair dari kaleng yang sangat unik.

Dai yang dalam bahasa Italia berarti “ayo” dan vintage biasanya diartikan menjadi “barang klasik”. Sang pemilik rupanya memang memiliki kecintaan dengan benda-benda lama. Membuka tokonya sejak Agustus 2014, Daivintage dapat dijumpai di Pasar Santa, Jakarta Selatan, yang kini sudah semakin ramai dengan berbagai toko-toko unik. Harga untuk beberapa barang vintage di Daivintage mulai ribuan hingga ratusan ribu rupiah.

Tertarik untuk memiliki barang-barang vintage yang unik? Jangan terburu-buru membelinya karena Anda dapat memulainya dengan melihat sekeliling lingkungan terdekat terlebih dahulu. Siapa tahu ada mebel vintage yang dapat Anda rombak ulang menjadi lebih cantik untuk kemudian dapat digunakan kembali. [*/ACH]

Klasikamus

Antik Vs “Vintage”

Antik adalah barang di atas 100 tahun dan seharusnya tidak diubah untuk menjaga nilai dan keasliannya, sedangkan vintage adalah barang yang telah berusia sekitar 30–50 tahun.

noted: cerita baru dari yang dulu