Hampir semua perusahaan mapan, apalagi kelas multinasional, amat menyeleksi kondisi kesehatan calon karyawannya. Syarat kesehatan ini memiliki bobot yang sama pentingnya dengan hasil psikotes.

Alasan perusahaan untuk menegakkan syarat kesehatan ini memang serius. Selain menjamin kinerja karyawan pada masa mendatang, perusahaan tak mau dibebani ongkos yang terlalu besar untuk karyawan yang ternyata mengidap benih-benih penyakit serius. Lantas, apa sajakah tes kesehatan yang harus dijalani oleh calon karyawan?

Tes hepatitis hingga narkoba

Calon karyawan biasanya akan diminta untuk melakukan pemeriksaan melalui sampel darah dan urine. Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah calon karyawan bebas dari penyakit hepatitis B, jantung, hingga TBC.

Selain itu, banyak perusahaan yang mewajibkan tes bebas narkoba dan HIV/AIDS. Khusus untuk tes deteksi HIV/AIDS, perusahaan biasanya mengeluarkan biaya lebih banyak. Bila ternyata calon karyawan itu mengidap HIV/AIDS, perusahaan tidak boleh memberitahukan secara langsung, tetapi melalui konselor.

Tes buta warna dan stamina

Untuk mengisi posisi yang menuntut keahlian, seperti desainer grafis, diadakan tes buta warna. Mereka yang menyandang buta warna dipastikan tidak akan lolos tes ini. Sementara itu, posisi yang membutuhkan ketahanan dan kekuatan fisik, seperti pertambangan, keamanan, atau petugas pemadam kebakaran, umumnya harus mengikuti tes EKG, treadmill, dan tes stamina.

Tes kesehatan gigi

Pengecekan kondisi kesehatan gigi calon karyawan juga sering menjadi saringan untuk mendapatkan suatu pekerjaan. Infeksi pada gigi, contohnya, dapat merembet hingga saluran pernafasan dan pencernaan. Akibatnya, organ seperti faring, tonsil, atau paru-paru bisa mengalami gangguan.

Bahkan, gigi berlubang bisa memicu stroke atau serangan jantung. Penyakit-penyakit tadi tentu akan memengaruhi kinerja dan produktivitas karyawan. Di samping itu, jenis-jenis pekerjaan yang membutuhkan penampilan fisik biasanya mensyaratkan calon karyawan yang memiliki susunan gigi relatif rapi.

Tes kesehatan jiwa

Ada juga pekerjaan yang mensyaratkan sehat jiwa. Tes kesehatan jiwa berbeda dengan psikotes yang dilaksanakan oleh psikolog. Calon karyawan yang memiliki faktor risiko pada kesehatan jiwanya bisa tidak optimal saat bekerja kelak.

Faktor yang memengaruhi gangguan kejiwaan, antara lain lingkungan dan budaya, efek samping konsumsi alkohol atau obat-obatan, riwayat keturunan (genetik), dan efek penyakit tertentu semisal cedera otak atau kanker. Tes kesehatan jiwa biasanya dilakukan di rumah sakit oleh dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater). Tesnya meliputi wawancara, pemeriksaan fisik, dan mengisi kuisioner.

Dari tes tersebut, calon karyawan akan dinilai tinggi rendahnya risiko mengalami gangguan kejiwaan. Beberapa jenis gangguan jiwa, di antaranya gangguan psikotik, bipolar, gangguan kecemasan, dan gangguan obsesif-kompulsif.

Persiapan

Oleh sebab itu, calon karyawan harus menyiapkan diri sebelum mengikuti tes kesehatan. Caranya sebenarnya sederhana, semisal menjaga stamina dan kebugaran tubuh dengan beristirahat yang cukup dan mengonsumsi makanan bergizi.

Jangan pula merokok, minum kopi, dan mengonsumsi alkohol. Hindari juga begadang sebelum mengikuti tes kesehatan agar tekanan darah normal. Bila sejak awal telah mengalami gangguan serius pada mata, sebaiknya jangan melamar pekerjaan yang membutuhkan kesehatan mata yang prima.

Bila akhirnya calon karyawan dinyatakan gagal karena dianggap mengidap atau berpotensi atas suatu penyakit, jangan putus asa. Tetap berpikir positif bahwa Anda mendapat kesempatan mengetahui kondisi kesehatan diri dan memiliki peluang untuk memperbaikinya. [*]