Saya ingin menjadi vegetarian.

Kata-kata ini tampaknya sederhana. Namun, bisakah Anda menepatinya?

Saat tren hidup sehat mulai naik, pola makan ala vegetarian menjadi pilihan sejumlah orang. Mengonsumsi sayur dan buah serta menjauhi daging merah dipandang lebih sehat. Pola makan ala vegetarian ini juga bisa menjadi salah satu solusi dalam program penurunan berat badan.

Menjalankan pola makan ala vegetarian butuh komitmen tinggi, berikut konsistensi. Naura (37), seorang pegawai negeri asal Jakarta, mengaku, awalnya ia ingin menjadi vegetarian agar hidup lebih sehat. Namun, akhirnya ia tidak meneruskan niatnya. Bagi Naura, menjalankan pola makan vegetarian tidak mudah. Ia harus menjauhi “makanan-makanan enak”, yang menjurus pada makanan olahan daging merah, ikan, dan ayam.

 

Tantangan-tantangan

Selain menghindari jenis makanan tertentu, ada tantangan lain bagi orang yang ingin menerapkan pola makan vegetarian. Pertama, perlunya menjelaskan tentang gaya hidup ini. Tidak semua orang bisa menerima dengan terbuka tentang keputusan menjadi vegetarian.

Dalam rumah, seseorang pasti akan dihujani beragam pertanyaan tentang alasan menjadi vegetarian, demikian pula lingkungan kerja dan lingkungan pergaulan. Vegetarian pemula pun perlu sabar menjelaskan alasan-alasan atas pilihannya.

“Paling sulit jadi vegetarian adalah saat berada di tengah-tengah lingkungan yang nonvegetarian. Di keluarga atau teman-teman, hanya saya yang vegetarian,” kata Bagia, seorang penganut vegetarian yang berdomisili di Jakarta.

Kedua, mengenai pemilihan menu di restoran. Ketika makan bersama teman, rekan kerja, atau keluarga, vegetarian pemula perlu memilih menu yang berbeda. Menu yang mengandung unsur produk hewani dihindari. Akan lebih baik bila masakan diolah dengan peralatan masak yang terbebas dari unsur produk hewani.

Vegetarian pemula pun perlu menjelaskan pilihan menu kepada pramusaji mengenai jenis makanan yang dihindari. Ini tidak mudah diterapkan di Indonesia. Kebanyakan restoran atau rumah makan masih menggunakan peralatan masak yang sama dalam mengolah beragam jenis makanan yang disajikan. Langkah amannya, vegetarian pemula bisa menjajal ke sejumlah restoran yang menyediakan sajian khusus untuk penganut vegetarian. Misalnya, Loving Hut.

Ketiga, vegetarian pemula perlu lebih sering membaca label kemasan makanan setiap kali berbelanja di supermarket. Meskipun sejumlah makanan terbuat dari buah atau biji-bijian, sering kali ditemukan bahan tambahan dengan kandungan produk hewani. Misalnya, keripik singkong rasa keju. Menghindari makanan dalam kemasan yang benar-benar bebas kandungan produk hewani tidak mudah.

Vegetarian pemula pun perlu menjauhi konsumsi mi instan yang menggunakan bumbu dengan kandungan produk hewani. Mengonsumsi mi instan sebetulnya masih bisa, asalkan tidak menggunakan bumbu yang menggunakan kandungan produk hewani. Ini lebih sulit diterapkan di Indonesia yang mayoritas merupakan penggemar mi instan.

Tantangan keempat bagi vegetarian pemula adalah pemilihan menu sehari-hari. Pilihan sayur dan buah di Indonesia cukup beragam. Vegetarian pemula bisa memilih sayur jenis bayam, kangkung, kol, daun selada, kacang panjang, sawi hijau, sawi putih, wortel, terung, mentimun, tomat, daun singkong, daun pepaya, kecambah, dan masih banyak lagi. Contoh buah untuk variasi antara lain pisang, pepaya, jambu air, jambu biji, nangka, mangga, semangka, dan sirsak. Namun, bagaimana dengan sumber protein?

Pilihannya seolah terbatas pada tahu, tempe, jamur, dan kacang-kacangan. Triknya adalah mengolah sumber protein nabati menjadi beragam jenis menu yang berbeda setiap hari. Ini akan membuat menu vegetarian pemula di Indonesia akan lebih bervariasi. Vegetarian pemula bisa mencari menu vegetarian di buku resep atau sumber internet.

Terakhir, risiko ketidakseimbangan gizi. Menghindari konsumsi produk hewani secara tidak langsung akan membuat seseorang tidak mendapatkan asupan gizi dari produk hewani. Misalnya, vitamin B12, zat besi, dan kalsium. Kurangnya asupan gizi tertentu bisa mengakibatkan gangguan kesehatan. Sebagai contoh, kekurangan vitamin B12 bisa memicu tubuh terasa lemas, susah buang air besar, kehilangan selera makan, dan rentan depresi. Dalam hal ini, terkadang dibutuhkan suplemen khusus agar kecukupan gizi terpenuhi.

 

Cara memulai   

Menjadi vegetarian secara instan tidak mudah. Namun, vegetarian pemula bisa menjadi melakukannya secara bertahap. Awalilah dengan mengurangi menu yang mengandung produk hewani. Sebagai contoh, bila seseorang terbiasa mengonsumsi daging merah atau ayam setiap hari, pada bulan pertama, konsumsilah daging merah atau ayam tiga hari sekali. Pada bulan berikutnya, konsumsilah produk hewani hanya saat akhir pekan. Bulan ketiga, konsumsilah produk hewani 2 minggu sekali, dan seterusnya.

Langkah ini diikuti dengan memvariasikan menu makanan setiap hari. Buatlah agar menu makanan tidak membosankan. Olahlah jenis bahan makanan yang sama dengan bumbu dan cara memasak yang berbeda. Hasilnya, cita rasa pun akan berbeda.

Jangan ragu menggantikan bahan makanan produk hewani dengan nabati. Sebagai contoh, bila terbiasa mengonsumsi opor ayam, cobalah mengganti daging ayam dengan tahu. Alih-alih mengonsumsi sate ayam, buatlah sate dari jamur tiram. Dengan bumbu yang pas, rasanya pun akan tidak jauh berbeda meskipun bahan baku diganti. Jadi, siapkah Anda menjadi vegetarian? [*/MIL]

noted: Tantangan bagi Vegetarian Pemula