Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai lembaga swadaya masyarakat bertugas menghimpun data serta menganugerahkan prestasi superlatif dan karya masyarakat Indonesia.

Seperti pada 12 Juli 2022, masyarakat Dayak melaksanakan adat Kukui yang dilakukan oleh 1.258 peserta dalam acara Ilau Dayak Agabag IX, Musyawarah Adat dan Musyawarah Besar.

Jaya Suprana menjelaskan perihal fungsi MURI untuk memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia agar berprestasi. Penjelasan Jaya tersebut ada dalam siniar bertajukMelahirkan MURI Imbas Sakit Hati” yang tayang di Spotify.

 

Jaya mengungkapkan bahwa rekor-rekor yang dicatat kebanyakan sifatnya kuantitas, bukan kualitas. Namun, bukan berarti rekor-rekor tersebut tidak berkualitas.

Rekor-rekor yang ada di MURI menjadi pemantik sekaligus pencatat budaya dan warisan intelektual masyarakat Indonesia. Jaya menyadari bahwa budaya dan warisan intelektual dapat punah jika tidak mendapat apresiasi. 

Kisah yang menginspirasi

Jaya mengakui bahwa kesadaran dirinya atas budaya dipengaruhi oleh kisah Mahabarata, Ramayana, dan cerita-cerita silat. Karena menurut Jaya, cerita-cerita yang sifatnya fiktif itu mampu memberinya inspirasi.

Salah satu wujud kesadaran serta apresiasi Jaya atas budaya dan kekayaan intelektual masyarakat adalah dengan mendirikan MURI. Jaya merasa sakit hati ketika dirinya dengan bangga membawa batik ke kancah dunia, lalu ditolak.

Berdasarkan penolakan dan sakit hati itu, Jaya mendirikan MURI untuk menghargai budaya dan kekayaan intelektual masyarakat Indonesia.

Belajar dari pertemuan

Untuk bisa mengapresiasi budaya dan warisan intelektual yang berbeda-beda, diperlukan keikhlasan belajar.

Proses belajar tidak hanya didapatkan dari sekolah atau pendidikan formal saja. Menurut Jaya, semua orang yang kita temui dapat memberikan pembelajaran.

Akan tetapi, untuk dapat mendapat pembelajaran itu, kita harus ikhlas. Artinya, tidak boleh merasa pintar dan terus haus untuk mendapat pengetahuan baru.

Jangan mengedepankan ego

Selain itu, Jaya juga mengungkapkan kunci apresiasi tidak boleh iri serta mudah tersinggung. Kedua hal itu adalahi penghambat kemajuan.

MURI tidak membeda-bedakan masyarakat Indonesia untuk mengapresiasi. Oleh sebab itu, MURI terus mengapresiasi dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia agar berprestasi sebagai wujud kebinekaan.

Masih banyak informasi perihal MURI dan pentingnya mengapresiasi perbedaan dari Jaya Suprana. Simak obrolan lengkapnya dalam siniar Beginu bertajuk “Melahirkan MURI Imbas Sakit Hati”.

Ikuti juga siniarnya agar tak tertinggal tiap episode terbarunya!

Penulis: Zen Wisa Sartre dan Fandhi Gautama