Setiap karyawan memiliki gaya kerjanya sendiri. Demikian pula setiap generasi. Sudah sering kita mendengar komentar para baby boomers tentang anak-anak muda sekarang. Mulai dari mereka tidak memahami kepatuhan, banyak bicara sebelum menyelesaikan tugas, maunya serba instan, dan banyak lagi lainnya yang bisa jadi membuat sakit hati mereka yang mendengar.

Saat ini, mereka memang menduduki jabatan paling rendah, tetapi apakah mereka tetap berada di posisi yang sama 5 tahun lagi? Atau mereka sudah meninggalkan perusahaan kita untuk meraih sasaran yang lebih menantang. Perlakuan kita yang salah akan membuat perusahaan kehilangan mereka. Dengan jumlah mereka sebanyak 70 persen dari populasi di tahun 2025 nanti, bisakah kita membayangkan perusahaan tanpa ada makhluk-makhluk digital ini?

Siapa milenial sebenarnya?

Gen Y atau kaum milenial ini tumbuh pada saat marak-maraknya evolusi teknologi. Mereka adalah angkatan terakhir yang masih sempat melihat perangkat dengan sistem analog, tetapi yang juga dengan gesit belajar tentang keluar masuknya teknologi dan sangat lincah beradaptasi dengan berbagai perangkat baru dalam kehidupan sehari-hari.

Mau tidak mau, mereka adalah pemimpin dalam know-how teknologi di tempat kerja. Mereka memang terbiasa berpikir dan bekerja dengan cara berbeda. Perspektif yang berbeda ini sebenarnya bisa menjadi penyegar dan tidak boleh kita hindari, apalagi kita takuti.

Kata kunci bagi para milenial adalah kemajuan. Buat mereka, pengembangan karier adalah kunci. Mereka gerah bila pekerjaan terasa stagnan. Mereka juga sangat antusias mempelajari hal baru. Mereka juga sangat mandiri, tidak mengapresiasi micromanagement. Mereka hanya butuh akses pada semua perangkat yang diperlukan untuk menyelesaikan tugasnya. Pandangan mereka tentang diversity, inclusiveness sangat luas. Mereka adalah generasi yang paling toleran. Walaupun tampak banyak menyendiri, mereka sebenarnya senantiasa terhubung melalui teknologi dan media sosial. Hal ini juga memudahkan mereka mencari sumber informasi dan koneksi yang dibutuhkan. Work life balance sangat penting bagi mereka.

Jadi, sulitkah mengelola para milenial ini? Derajat kesulitannya sebenarnya sama dengan bagaimana kita mengelola generasi yang lebih tua. Sama-sama memiliki perbedaan kebiasaan dan cara berpikir. Dibandingkan dengan baby boomers dan gen X, kita bisa melihat bahwa kedatangan mereka memang membawa perubahan radikal dalam cara kita berpikir dan bekerja.

Generasi masa lalu harus memasuki masa depan

Meskipun kita sering merasa bahwa generasi milenial bersikap “sotoy” alias sok tahu, pada dasarnya, kita tidak punya pilihan selain menjadi pihak yang lebih aktif memahami mereka karena merekalah penghuni masa depan, bukan kita. Tugas kita sekarang adalah membantu agar mereka lebih siap untuk menjalankan masa depan. Kita juga tidak bisa kecewa dan mundur. Kitalah yang harus berubah.

Pertama, kita perlu mempertanyakan apakah budaya kita sudah kuat dan bermakna bagi para milenial. Buat para milenial, uang bukanlah segala-galanya. Waktu ketika karyawan hanya melakukan absen pagi dan sore sudah berlalu. Para milenial lebih senang bila perusahaan menghargai prestasi dan kontribusi mereka dapat berdampak pada dunia.

Kedua, work life balance perlu diinterpretasikan dengan baik oleh perusahaan. Ini bukan lagi konsep keseimbangan jam kerja antara rumah dan kantor. Milenial adalah generasi yang memiliki lebih banyak kemampuan, pengetahuan, dan kesempatan berhubungan dengan orang lain secara global. Harus berada di kantor, sementara akses data dan internet bisa dilakukan dengan fasilitas cloud sudah dianggap para milenial sebagai pola pikir yang ketinggalan zaman.

Ketiga, walaupun mereka sangat berorientasi pada hasil dan enggan pihak lain ikut campur pada saat mereka mengerjakan pekerjaannya, mereka justru sangat mengharapkan adanya umpan balik. Itulah sebabnya perusahaan seperti Twitter, Google, dan Facebook tetap dengan intensif melakukan program mentorship mereka.

Keempat, karena dunia sudah menuntut organisasi kita untuk beroperasi secara digital, kita justru dapat memanfaatkan mereka yang lebih sadar teknologi daripada kita. Larangan untuk mengakses internet, menggunakan ponsel sudah tidak bisa diberlakukan lagi. Biarkan mereka memanfaatkan gadget mereka untuk membantu pekerjaan. Hal ini juga membuktikan bahwa kita bisa mempercayai mereka.

Kelima, pada era pamer foto seperti ini, banyak milenial memang senang mencari puji-pujian. Kita juga bisa secara kreatif membuat banyak program penghargaan yang menghargai pekerjaan, keterampilan dan kerja keras mereka. Apresiasi tidak perlu berbentuk trofi, tetapi validasi, recognition, dan reinforcement akan mereka hargai.

Keenam, tidak cukup hanya memberi mereka pekerjaan. Milenial bekerja sambil melihat masa depan. Mereka sangat mementingkan apa yang akan dihadapi mereka pada hari esok. Oleh karena itu, perusahaan perlu menggambarkan bentuk kesempatan pengembangan karier masa depannya.

Ketujuh, anggapan bahwa generasi milenial arogan sebetulnya perlu ditinjau kembali karena merekalah yang memulai segala macam kolaborasi yang tidak pernah terpikirkan generasi sebelumnya. Kolaborasi ini perlu kita bicarakan secara serius karena ini pun memotivasi para milenial.

Kedelapan, dengan sikap positif dan can do-nya, para milenial merasa sangat percaya diri. Mereka dididik dengan kepercayaan bahwa mereka bisa meraih mimpi apa pun yang mereka punya. Kita bisa memanfaatkan optimismenya ini sebagai potensi kepemimpinan. Kita tidak perlu ragu untuk memberi tanggung jawab yang lebih besar sehingga mereka lebih cepat matang.

Do it right, jangan salah perlakuan. Bila tidak hati-hati, perusahaan kita bisa tertinggal dalam bertransformasi dan berinovasi.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING