Ungkapan “know who you are” dan “how does people see you” sering kita dengar di dalam ranah pengembangan pribadi ataupun pengembangan kinerja karyawan di pekerjaan. Setiap orang yang paham mengenai manajemen kinerja, kesuksesan karier, dan efektivitas kepemimpinan tahu pentingnya hal ini. Ini menjadi bagian dari evaluasi diri.

Namun, penelitian juga mengatakan, self-awareness seperti ini sangat langka di tempat kerja. Kita sering menemui orang yang tidak melihat ada kekurangan pada dirinya dan tidak pernah merasa perlu untuk mengoreksi diri. Ketika melakukan kesalahan yang membuat situasi menjadi sulit pun, ia tetap merasa keadaan baik-baik saja. 

Dari penelitian mengenai self-awareness, ditemukan hanya 10–15 persen dari populasi yang benar-benar self-aware walaupun 95 persen populasi merasa bahwa mereka sangat self-aware. 

Di pekerjaan, kita juga mungkin sering menemui orang-orang seperti ini. Mereka sering menikmati kesuksesan masa lalunya, memiliki kualifikasi yang cemerlang, tetapi tidak menyadari apakah kunci sukses mereka mencapai posisinya ini dapat diteruskan sampai tahun-tahun mendatang.

Sebuah survei terhadap kurang lebih 500 karyawan dari berbagai industri menemukan, 99 persen dari mereka pernah menemui paling tidak satu orang pribadi yang unaware seperti itu, yang adalah rekan setara, bawahan, atasan, dan pelanggan. Mereka mengatakan, “Un-self-aware colleagues aren’t just frustrating; they can cut a team’s chances of success in half.”

Selain kinerja yang terganggu, dampak lainnya adalah peningkatan stres, berkurangnya motivasi, dan memperkuat keinginan orang untuk meninggalkan situasi tersebut. 

Filsuf Yunani kuno Socrates mengatakan, “The unexamined life is not worth living.” Namun, kenyataannya, kita melihat kebanyakan dari kita menjalani hidup yang unexamined. Jadi, bila self-reflection ini suatu hal yang penting, mengapa banyak di antara kita yang tidak melakukannya. 

Self-reflection ternyata tidak mudah untuk dipraktikkan. Kita hidup di dunia yang berkembang dengan sangat pesat. Telepon pintar kita selalu memberi notifikasi hal-hal baru yang masuk. Banyak hal yang terlihat lebih menarik daripada melakukan refleksi diri. Padahal, bila tidak memiliki perspektif yang jelas mengenai diri sendiri, kita tidak memiliki gambaran yang jelas bagaimana kita mau berkembang, belajar, menikmati, dan menghargai diri. 

Ada individu yang tadinya sangat sukses, tetapi begitu memasuki masa pensiun beberapa lama jadi punya kebiasaan menyebarkan berita-berita negatif yang mencekam, ada yang emosinya berubah sangat cepat dan sulit membendung emosinya. Banyak orang di sekitarnya melihat perubahan ini, tetapi sering kali tidak ada yang berani memberi masukan kepada mereka. Bagaimana ia dapat memperbaiki diri bilamana ia tidak memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi diri? 

Banyak organisasi yang memiliki pengukuran 360 derajat. Data tentang diri seseorang didapatkan dari penilaian dirinya sendiri yang kemudian dapat dibandingkan dengan penilaian atasan, bawahan, dan rekan kerjanya. Prinsipnya adalah bila ingin memahami diri sendiri secara obyektif, kita perlu membandingkan penilaian kita dengan penilaian orang lain, memandang diri kita dari perspektif lain. Penilaian orang lain biasanya didasari oleh pengamatan mereka pada sikap dan perilaku nyata kita. Namun, terkadang proses ini tidak berjalan mulus. Apa saja penyebabnya? 

Pertama, mendapatkan kenyataan yang tidak sesuai dengan pemahaman pribadi kita tentang diri kita menyebabkan rasa tidak nyaman. Padahal, seharusnya kita bertanya, apa yang harus saya lakukan agar lebih baik? Hal buruk apa yang saya lakukan dan bisa merugikan saya dan orang di sekitar saya? 

Kedua, para penilai juga merasa tidak nyaman membuat laporan penilaian terhadap kita. Oleh karena itu, kita sama-sama perlu meyakinkan diri masing-masing, bahwa kegiatan umpan balik ini dilakukan demi tujuan yang positif. Gunakan magic words sehingga tidak menimbulkan rasa pakewuh dari si penilai.

Kegiatan penilaian 360 derajat ini memang memiliki banyak manfaat, sehingga penting rasanya untuk dilakukan di setiap organisasi besar maupun kecil agar dapat membentuk tim yang memiliki self-awareness dan berkinerja lebih. Well being mental karyawan pun akan menjadi lebih berkembang.

Don’t live the unexamined life

Melakukan refleksi diri ini memang sulit. Banyak orang melakukannya melalui meditasi, retret, ataupun konseling. Apa pun caranya, individu harus memiliki wawasan yang jernih tentang dirinya dalam setiap tahap kehidupannya, agar ia dapat mengambil jarak dan mendapat ukuran yang lebih tepat tentang dirinya sendiri.

Ketika berusaha memandang diri sendiri, emosi sering meliputi mata hati kita seperti halnya kabut yang menutupi pandangan sehingga ada hal yang terlihat kabur tetapi kemudian tiba-tiba membesar ketika ia sudah di depan mata dan sulit dihindari lagi. 

Dalam hampir setiap kesempatan, reaksi-reaksi kita dijalankan secara otomatis tanpa banyak berpikir panjang. Melalui refleksi diri inilah kita berkesempatan memperhatikan reaksi-reaksi kita. Mana yang kurang berkenan di mata orang lain ataupun mana yang membuat orang lain senang. Kita pun jadi belajar lebih dalam apa konsekuensi dari kata dan tindakan kita. 

Berapa pun usia kita, refleksi diri menciptakan kesempatan kita untuk berkembang, mengembangkan hidup yang lebih menyeluruh, terintegrasi, dan sehat. 

Ada beberapa pokok yang bisa kita pertanyakan pada diri sendiri bila kita sudah bisa mendapatkan gambaran yang lebih gamblang tentang diri sendiri. 

  • Pikiran: apakah kita bisa berpikir jernih dan masih tertantang secara intelektual? 
  • Fisik: apakah kondisi fisik kita sehat, bergizi dan kuat? 
  • Jiwa: apakah kita merasa tenang dan terhubung dengan sekeliling kita? 
  • Kerja: apakah kita puas dan bersemangat di tempat kerja? 
  • Bermain: apakah ada aktivitas-aktivitas yang membuat kita bergembira dan relaks? 
  • Cinta: apakah kita merasa positif dengan hubungan interpersonal kita? 

Rutin melakukan refleksi diri seperti ini akan memampukan kita menjadi lebih baik dari hari ke hari.

 

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

HR Consultant/Konsultan SDM

Baca juga: Tanggung Jawab.