Bernostalgia dengan hal-hal indah di masa lalu merupakan aktivitas mengasyikkan. Mengenang masa lalu bukan hanya diterjemahkan dengan menonton film klasik atau mendengar musik tempo dulu. Ternyata, kita juga dapat merepresentasikannya dalam penampilan sehari-hari.

Nah, agar nostalgia kian terasa utuh, tak ada salahnya mewarnai penampilan dengan gaya vintage. Menengok perjalanan panjangnya, vintage sendiri berasal dari bahasa Perancis yang berarti sesuatu yang ikonis dan abadi.

Gaya ini pertama kali meledak di era 1970 dan 1980-an. Saat itu, bisa jadi Anda belum lahir dan merasakan terpaan tren itu. Namun, berkat cita rasanya yang ikonis, elegan, dan unik, gaya vintage tetap trendi sepanjang waktu.

Banyak pengamat mode mengatakan bahwa pakaian yang dikategorikan vintage, yaitu yang mengambil tren lebih dari 20 tahun hingga 100 tahun silam. Di atas 100 tahun, tren itu sudah diklasifikasikan sebagai antik.

Secara umum, busana vintage berasal dari pakaian bekas, baru, buatan pabrik, maupun buatan tangan. Perlu diketahui, sebelum setenar seperti sekarang, pakaian tersebut memang berupa barang bekas.

Perjalanan mode

Namun, sebelum mengadopsi tampilan tersebut, sebaiknya kita perlu mengetahui perjalanan inspirasi mode ini. Gaya vintage pertama kali berkembang luas terutama di Amerika dan Inggris

Menurut berita dalam situs web BBC berjudul Vintage style: The Rise of Retro Fashion, inspirasi ini menggelora sejak 1950-an. Di era inilah perang dunia telah berakhir. Saat itu, banyak orang bersuka cita menikmati masa yang damai dan tentunya lebih menyenangkan.

Di era inilah, untuk pertama kalinya, implementasi mode tidak mengekang aktivitas perempuan. Maklum saja, selama ratusan tahun sebelumnya, dari masa Renaisans hingga Viktoria, kaum perempuan sulit mendapatkan kebebasan.

Bagian pinggang perempuan lebih diekspos dengan pemakaian korset ketat di atas rok yang bertumpuk. Sempat di era 1850-an, pinggang ditonjolkan dengan rok ekstralebar yang ditopang bingkai berbentuk sangkar burung. Kemudian, gaya glamor juga sempat mendominasi ranah mode di tahun 1920-an dalam representasi gaun flapper. Inilah gaun dengan garis pinggang yang jatuh, serta rok lipit yang berjumbai.

Barulah perempuan menemukan pakaian yang lebih sederhana ketika memasuki era Perang Dunia I dan II. Kondisi itu terjadi karena produk pabrik tekstil dan bahan kain sangatlah langka. Potongan baju yang lebih praktis menjadi opsi perempuan berpakaian sehari-hari.

Akhirnya, gaya 50-an mampu mengakomodasi kebutuhan bergerak bebas dengan munculnya gaun dan rok lebar yang nyaman. Tren yang naik daun di era itulah yang kembali berulang pada era 1980-an. Di era ini, banyak perempuan berlomba memamerkan gaya atraktif mengenakan pakaian bekas, yang kemudian menjadi cikal bakal gaya vintage yang inspiratif.

Selain mendapatkan lungsuran dari ibu atau nenek tercinta, perempuan di kala itu, bisa membeli pakaian vintage dari toko pakaian bekas. Tentu di samping agar terlihat bergaya, hal ini dilakukan untuk penghematan.

Jurnal berjudul Forever Vintage: How Changes in the Fashion Industry Helped Vintage Style Become a 40-Year Trend dalam laman Academia.edu menyebutkan bahwa di era itu industri fashion tidak mendapatkan banyak laba dari tren vintage. Alasannya, saat itu masih sangat sedikit desainer dan label pakaian yang menciptakan koleksi bertema vintage. Mereka beralasan gaya tersebut identik dengan pakaian bekas yang berkarakter kumal dan usang.

Sayangnya, pandangan itu salah. Pierre Bourdieu, sosiolog terkemuka Perancis dalam salah satu bukunya mengatakan, tren mode vintage justru berhasil menciptakan pasar ekonomi alternatif yang sukses. Tanpa membutuhkan banyak modal uang, tema ini berhasil mendatangkan keuntungan berlipat ganda bagi para pemilik toko barang bekas. Di sisi lain, tren ini menciptakan sebuah budaya pop yang dengan cepat mewabah ke penjuru dunia.

Akhirnya, ketika desakan pencinta mode semakin besar, inspirasi lawas dimodifikasi kembali pada koleksi pakaian terbaru, seperti yang dilansir label pakaian ataupun desainer ternama. Tahun ini pun aksentuasi vintage kembali menjadi salah satu tren yang digemari.

Ranah runway internasional diwarnai inspirasi back to 70s. Bahkan di perhelatan akbar sekelas The Academy Awards, Minggu (22/2), Emma Stone dan Lupita Nyong’o adalah dua artis yang menjadi panutan karena berhasil membalut tubuhnya dengan gaun vintage yang menawan. [AJG]