Semangkuk dessert yang enak rasanya seakan dapat mengubah “hari buruk” menjadi lebih baik. Entah mengapa jika sudah membicarakan dessert, reaksi yang muncul adalah kegembiraan. Ketika ada tawaran, “Beli es krim, yuk” atau misalnya “Minum es campur, yuk” jarang ditolak kecuali jika sedang berada dalam kondisi tertentu.

Dessert atau makanan penutup menjadi hal yang sering ditunggu-tunggu. Awal mulanya dessert merupakan bagian dari tahapan makan para bangsawan Eropa, yang biasa dikenal dengan urutan appetizer (makanan pembuka), main course (makanan utama), dan dessert.

Kini, dessert bukan hanya dinikmati sebagai makanan penutup dan bukan hanya para bangsawan yang bisa menyantapnya. Jenisnya pun semakin beragam. Kapan pun kita mau, dessert semakin mudah dibuat atau jika tidak mau repot tinggal pesan-beli.

Di Indonesia, dessert-dessert yang berasal dari Korea, Taiwan, Jepang, atau Thailand saat ini sedang digemari, khususnya oleh anak-anak muda. Tampilan dessert yang unik menjadi alasan utama para millenial membelinya. Sering kali ini berkaitan dengan kecenderungan generasi millenial yang sering memotret kemudian menggunggah foto atau informasi tentang makanan atau minuman yang mereka konsumsi melalui media sosial.

Kegiatan memotret makanan sebelum menyantapnya dianggap serius oleh para pelaku bisnis termasuk pemilik restoran. Mereka lebih bersemangat untuk membuat menunya tampil cantik di media sosial. Wanda Pogue dari agensi kreatif periklanan Saatchi & Saatchi New York mengatakan, generasi millennial memperhatikan detail makanan, menghargainya, dan menceritakan soal makanan. Semua hal ini membantu mengangkat nilai mewah sebuah merek makanan.

Dessert house atau booth-booth dessert pun merebak dengan cepat di kota-kota besar di Tanah Air. Cek saja merek-merek dessert dingin ala Korea, Taiwan, Jepang, dan Thailand seperti Patbingsoo, Hong Tang, Shirokuma, SumoBoo, dan King Mango yang sedang hits di kalangan anak muda. Merek-merek ini ini dianggap sebagai dessert kekinian.

Selain tampilannya yang cantik dan unik, dessert-dessert tersebut dibuat dengan bahan-bahan berkualitas sehingga rasanya enak. Tak sekadar menjual rasa manis. Harganya pun cocok dengan porsinya. Meski memang, kemasan sering kali masih menjadi pertimbangan utama. Apalagi di zaman yang serba instagrammable ini.

Disinggung soal prediksi kuliner 2018, salah satu celebrity chef Indonesia, Chef Chandra Yudasswara, meramalkan kuliner serba praktis akan semakin merajai. Chef Chandra menyampaikan bahwa beriringan dengan era digital, 2018 ke depan orang akan mencari yang makin praktis. Pesan makanan via on-line dan cenderung otomatis. Makanan yang simpel, kasual, dan affordable makin dapat tempat di kalangan pencinta kuliner. [*/ACH]

Foto – foto : dokumen Shutterstock.com

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 3 Maret 2018