Tren membuat ulang kisah-kisah klasik animasi dari Walt Disney Pictures terus berlanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, penonton bioskop telah disuguhi antara lain Cinderella (2015), The Jungle Book (2016), Beauty and the Beast (2017), dan Aladdin (2019). Yang terkini yang sedang diputar di bioskop adalah The Lion King.

Ini adalah versi live action, atau lebih tepatnya versi photorealistic—karena tetap menggunakan animasi komputer—dari versi animasi buatan tahun 1994. Sebagai salah satu karya animasi legendaris, merupakan tantangan bagi sutradara Jon Favreau untuk membuat film ini minimal tidak mengecewakan. Jelas bukan tugas yang mudah.

FOTO-FOTO: DOKUMEN WALT DISNEY STUDIOS MOTION PICTURES

Film orisinal The Lion King pada 2016 lalu dipilih Perpustakaan Kongres AS untuk masuk dalam Daftar Film Nasional karena “signifikansinya terhadap budaya, sejarah, dan estetika”. Tentu tidak tanpa sebab keputusan itu dibuat.

The Lion King memiliki cerita yang kuat. Berkisah tentang singa kecil Simba dari kerajaan satwa Pride Rock di Pride Lands, salah satu sabana Afrika. Simba telah dipersiapkan untuk menjadi raja menggantikan ayahnya, Mufasa. Namun, karena muslihat licik pamannya, Scar, Simba mengasingkan diri. Sekian waktu berlalu, Simba ternyata harus kembali memenuhi takdirnya untuk menjadi raja kerajaan satwa Pride Rock yang telah rusak karena ulah Scar.

Bukan hanya menarik secara dramatik dan kaya akan pesan moral tentang kehidupan, The Lion King juga adalah film musikal. Terdapat sejumlah lagu yang menjadi elemen kunci pada bagian-bagian tertentu film yang pasti lekat dalam ingatan. Nyaris mustahil keluar dari gedung bioskop tanpa terngiang di telinga lagu-lagu “Circle of Life”, “Hakuna Matata”, atau “Can You Feel the Love Tonight”.

Menikmati ulang

Begitu kuatnya karya orisinal sehingga pasti dibutuhkan keberanian untuk bahkan sekadar berimprovisasi pada versi yang baru. Dan, Jon Favreau memilih untuk tetap setia pada plot cerita orisinal.

Hal inilah yang mengundang kritik, yang menuding Walt Disney Pictures membuat versi remake sekadar untuk meraup untung. Sejumlah komentator, yang boleh jadi penggemar fanatik film orisinal, mempertanyakan perlunya hadir versi “live action” jika tidak memberikan sesuatu yang baru atau nilai tambah dibandingkan versi aslinya.

Namun, ada pula yang menyambut baik hadirnya versi baru ini. Yang berada pada barisan ini memuji versi baru sebagai cara yang menarik untuk mengenal alam, utamanya flora dan fauna Afrika. Walau demikian, tak kurang juga kritik yang mengomentari kekurangakuratan film ini secara realistis.

Misalnya, kritik yang menyebutkan bahwa suara auman Simba lebih mirip harimau ketimbang singa. Selain itu, caranya mengaum dengan membuka mulut lebar-lebar sebenarnya stereotip yang keliru karena singa mestinya mengaum dengan posisi mulut nyaris tertutup, mirip serigala yang melolong.

Terlepas dari pro-kontra tersebut, bagi penonton yang belum pernah terpapar film orisinal, The Lion King akan menjadi tontonan yang sangat menarik dan memanjakan mata. Melihat lanskap belantara Afrika dengan latar belakang Gunung Kilimanjaro benar-benar memesona. Pun, bagi yang sudah menonton film orisinal, tetap menarik untuk menikmati ulang film ini.

Semua keunggulan dari film terdahulu masih dapat dirasakan: kisah yang kuat, drama yang memikat, hingga lagu-lagu yang mudah diingat. Sebagai tontonan keluarga, apalagi yang memiliki anak kecil, The Lion King tak boleh dilewatkan. Bagi yang sudah dewasa atau ingin mengenang kejayaan film terdahulu, silakan menonton tanpa harus membanding-bandingkan. Dijamin, film ini akan menjadi tamasya yang indah ke kerajaan satwa.

Sutradara:
John Favreau

Produser:
Jon Favreau, Jeffrey Silver, Karen Gilchrist

Skenario:
Jeff Nathanson; berdasarkan The Lion King (1994) oleh Irene Mecchi, Jonathan Roberts, Linda Woolverton

Pengisi suara:
Donald Glover, Seth Rogen, Chiwetel Ejiofor, Alfre Woodard, Billy Eichner, John Kani, John Oliver, Beyoncé Knowles-Carter, James Earl Jones

Rilisan:
AS

Durasi:
118 menit

Tayang perdana:
17 Juli 2019