Penantian akan kehadiran tokoh pahlawan super Gundala yang sudah heboh dalam beberapa waktu belakangan ini berakhir dengan mulai diputarnya filmnya di layar lebar, Kamis (29/8/2019). Film ini menjadi pembuka jalan memasuki jagat pahlawan super Tanah Air.

Ini adalah kali kedua karakter ini muncul di layar lebar, setelah sebelumnya pada 1981 dengan tajuk Gundala Putra Petir. Namun, reboot versi sutradara Joko Anwar kali ini sungguh berbeda.

Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) adalah anak dari buruh pabrik yang tewas saat membela haknya. Celakanya, ibunya yang mencoba mencari nafkah di kota tak kunjung pulang sehingga Sancaka memutuskan untuk pergi dari rumah.

review film gundala
Foto-foto: Screenplay Films, Bumilangit Studios

Ia pun hidup menggelandang di jalanan. Kerasnya kehidupan mengajarkan Sancaka untuk menjauhi masalah dan hanya mengurus diri sendiri. Itu yang tertanam dalam dirinya hingga kemudian Sancaka menjadi dewasa (Abimana Aryasatya) dan bekerja sebagai tenaga keamanan di sebuah pabrik.

Namun, pertemuan dengan Wulan (Tara Basro) membuat Sancaka berpikir ulang tentang apa yang diyakininya. Apalagi dengan kekuatan ajaib yang dimilikinya selepas terkena sambaran petir, Sancaka dapat menolong mereka yang diperlakukan sewenang-wenang.

review film gundala

Belakangan, sepak terjang Sancaka mengusik Pengkor (Bront Palarae), sosok yang ditakuti karena tidak segan-segan menghabisi nyawa orang yang berseberangan pendapat dengannya. Pengkor kemudian menggalang kekuatan untuk melawan Sancaka.

review film gundala

Baca juga : Review Film Bumi Manusia : 3 Jam yang Tiga Membosankan

Lambat

Kehadiran film ini memang sudah dinanti-nantikan penggemar tokoh pahlawan super dalam negeri. Namun, boleh jadi ekspektasi tinggi mereka harus sedikit dikurangi.

Bukan berarti kerja keras penulis dan sutradara kawakan Joko Anwar mengecewakan. Sama sekali tidak. Namun, memang tidak mudah untuk menghadirkan kisah yang dapat memuaskan semua penonton. Terlebih karena karakter Gundala sudah melegenda di Indonesia.

review film gundala

Joko sempat menyebut bahwa menulis naskah Gundala merupakan salah satu pekerjaan terberat dalam kariernya di dunia film. Tantangan bagi Joko tidak hanya membuat kisah yang menarik bagi penggemar lawas Gundala, tetapi juga memikat bagi penonton milenial yang mungkin belum pernah mengenal karakter ini.

Selain itu, seperti petunjuk pada film, kisah yang disajikan tampaknya menjadi pembuka dan pintu masuk ke dalam semesta tokoh-tokoh pahlawan super Bumi Langit, pemilik hak intelektual atas karakter-karakter tersebut.

review film gundala

Film ini boleh jadi membosankan dan berjalan lambat karena pembuat cerita berusaha menjalin detail dan membuat pijakan untuk pengembangan cerita lebih lanjut. Sekali lagi, Joko menunjukkan kepiawaiannya merajut cerita yang solid dengan melibatkan banyak adegan perkelahian. Demikian banyaknya sehingga sebagian penonton akan merasa jadi berlebihan.

Di sejumlah bagian terselip humor yang cukup mengundang tawa. Namun, porsinya terbilang minim dan terasa sekadar bumbu untuk keseluruhan film yang lebih kental aura kelam dan keras.

Secara keseluruhan, Gundala tetap merupakan film yang menyenangkan untuk ditonton—walau bukan untuk konsumsi anak-anak. Sebagai film pahlawan super Tanah Air, kita patut berbangga dan mengapresiasi. Namun yang lebih jelas terasa adalah penasaran pada kelanjutan film ini, karena terdapat sejumlah petunjuk akan hadirnya karakter-karakter lain yang mungkin membuat sekuelnya patut diduga lebih menarik. Kita nantikan saja.

Sutradara:
Joko Anwar

Produser:
Bismarka Kurniawan, Sukhdev Singh, Wicky V Olindo

Penulis:
Joko Anwar; berdasarkan karakter karya Hasmi

Pemain:
Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Muzakki Ramdhan, Tara Basro, Lukman Sardi, Ario Bayu

Rilisan:
Indonesia

Durasi:
123 menit

Tayang perdana:
29 Agustus 2019