Di tengah riuhnya musik folk yang membahana dan sedang naik daun, masih ada unit-unit rock, metal, dan hardcore yang setia melantangkan suaranya. Salah satunya adalah Forever / Always.

Yogawerda Kessawa (gitar/bas), Fadil McGee (vokalis), Adrey C (drum), dan Rama Florenza (bas) sepakat untuk bersatu dalam satu visi di bawah bendera Forever / Always. Awalnya, band ini hanya ide dari dua orang, yaitu Kessa dan Fadil. Hingga pada akhirnya, dua orang lagi datang.

Melalui EP perdana, Paradise Lost EP, yang dirilis dalam dua format, empat sekawan ini membawa pendengarnya untuk memahami hidup lebih jauh lagi. Berikut adalah wawancara bersama Kessa dan Fadil.

 

Kenapa memberi nama Forever/Always, terdengar kurang gahar seperti musiknya yang keras?

Fadil : Wah, enggak tahu juga kenapa. Ha…ha…ha…. Yang jelas, Forever / Always datang dari hasil tukar pikiran dan diskusi gue sama Kessa aja. Lagipula, kalau dipikir-pikir kita semua juga enggak ada yang gahar juga (tertawa lagi).

Kessa: Benar apa kata Fadil, enggak tahu juga kenapa namanya Forever / Always. Namun, bisa saya jelaskan. Menurut saya Forever/Always itu dua kata berbeda, tetapi punya arti mirip. Makanya, kita pisahkan dengan tanda baca garis miring. Maksudnya, forever tidak selalu always, begitu juga always tidak selalu forever. Kayak cinta aja. Ha…ha…ha….

Jadi, bagaimana kalian mendefinisikan musiknya sendiri? Masuk genre mana?

Fadil: Kalau saya mendefinisikan musik kami sebagai musik yang penuh amarah tentang rasa frustasi terhadap banyak hal yang tidak semestinya di dunia ini. Di Paradise Lost, saya bercerita banyak mengenai perjalanan hidup selama ini dalam menemukan cara untuk bersabar.

Kessa: Ya, kalau soal genre, kita banyak mengategorikan ke dalam post-hardcore yang banyak terpengaruh band semacam Touche Amore, La Dispute, dan Pianos Becomes The Teeth.

EP pertama ini dirilis dengan siapa?

Kessa: Album EP kami dirilis di dua label pertama dengan rilisan fisik yang berbeda. Untuk rilisan dalam format CD dan unduhan digital, kami bekerja sama dengan Sailboat Records, sedangkan untuk format kaset, kami bekerja sama dengan Rise & Grind Records. Kalau yang ada di situs web Bandcamp, itu demo kami.

Bagaimana proses kreatifnya sendiri di Forever / Always?

Fadil: Simple sebenarnya. Kita membagi tugas masing-masing. Untuk instrumen, Kessa yang lebih incharge. Kalau saya sendiri bikin lirik dan pola vokalnya.

Kessa: Yup. Seperti itu alur kerja kita. Dari awal bentuk band ini, saya dan Fadil memang sudah menentukan porsi masing-masing. Instrumen saya yang pegang, Fadil lebih pada lirik dan vokal karena dia yang nyanyi juga.

Dalam hal bermusik, apa atau siapa yang memengaruhi?

Kessa: Apa saja. Namun, kalau saya sih lebih banyak soal hal-hal tentang keseharian, kehidupan, musik, atau film. Banyaklah.

Fadil: Sama seperti Kessa, banyak hal yang memengaruhi kita dalam bermusik. Seperti contohnya, waktu kita membuat Paradise Lost EP itu. Saya sendiri sangat terinspirasi beberapa penyanyi musik rap dan reggae.

Lalu, bagaimana ke depannya sekarang? Adakah rencana selanjutnya setelah EP? Sesuai namanya, apakah kalian akan tetap bersama dalam bermusik, forever always?

Fadil: I don’t really know. Mungkin Kessa yang bisa menjawabnya. Bagaimana, Kes? Kalau soal bermusik bareng, I hope so.

Kessa: Ya, tidak jauh-jauh dari rilisan lagi. Kita sih inginnya bikin materi sebanyak-banyaknya saja untuk album atau mungkin split EP dengan band lainnya. Ke depannya, mungkin kita jalanin saja dulu. Ha…ha…ha….

Oke. Semoga sukses untuk kalian ke depannya

Thank you so much for the opportunity to cover us.

Video

Bandcamp

noted: perkenalan di ep perdana