Kurangnya aktivitas fisik seseorang merupakan salah satu faktor penyebab kegemukan atau obesitas selain pola makan. Jika kurang berkegiatan fisik, kalori berlebih yang terserap dalam tubuh tidak terbakar dan pada akhirnya tubuh menjadi gemuk.

Di Indonesia, penduduk yang tergolong aktif bisa dibilang masih lumayan banyak. Dalam Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan, sekitar dua pertiga (74 persen) penduduk Indonesia tergolong berkegiatan aktif.

Penduduk Bali merupakan provinsi dengan penduduk yang tergolong paling aktif. Sebanyak 85,8 persen masyarakat di Bali terbiasa berkegiatan fisik secara rutin dalam seminggu. Provinsi lain yang persentase penduduk aktifnya hampir sama adalah Kalimantan Selatan (80,2 persen) dan Bangka Belitung (80 persen).

Sementara itu, DKI Jakarta termasuk kategori penduduk yang paling kurang aktif. Hanya sebagian dari penduduk Ibu Kota (55,5 persen) yang memiliki aktivitas fisik yang cukup. Sisanya atau sekitar 44 persen, beraktivitas kurang dari atau sama dengan 150 menit setiap minggu.

Aktivitas sedentari

Aktivitas fisik yang minim tersebut dikenal dengan istilah sedentari. Perilaku sedentari adalah perilaku seseorang yang tidak atau kurang banyak gerakan. Aktivitas sehari-hari yang santai ini meliputi menonton televisi, bekerja di depan komputer, membaca, main game, dan lain-lain, tidak termasuk perilaku tidur.

Dalam laporan ini diketahui, seperempat bagian masyarakat di perkotaan memiliki perilaku sedentari lebih atau sama dengan 6 jam. Proporsi perilaku sedentari terbanyak orang kota adalah 3–5 jam yaitu 42 persen.

Pada masa serba-instan seperti saat ini karena teknologi yang semakin berkembang, pola hidup masyarakat pun berubah. Di perkotaan, gedung perkantoran hingga pusat perbelanjaan modern menggunakan elevator atau eskalator yang nyaman tanpa banyak mengeluarkan keringat untuk memakainya. Jikapun masih tersedia tangga, hanya digunakan untuk keadaan darurat.

Belum lagi perkembangan televisi berteknologi tinggi yang memanjakan pengguna, mulai teknologi high definition (HD) hingga tiga dimensi, membuat penonton televisi enggan beranjak dari depan layar canggih tersebut. Bahkan, televisi saat ini menyediakan fasilitas berselancar di internet yang dikenal dengan istilah smart television (televisi pintar). Teknologi yang memudahkan membuat manusia cenderung malas bergerak.

Perilaku sedentari juga terbentuk menurut kelompok usia. Pada usia produktif yakni 20 hingga 50 tahu, aktivitas fisik seseorang cukup banyak. Artinya, pada kategori usia produktif, tidak banyak masyarakat yang berperilaku sedentari lebih dari 6 jam dalam sehari atau tidak aktif. Kegiatan dan kesibukan sehari-hari di usia ini membuat seseorang cukup banyak melakukan aktivitas fisik.

Seiring usia, saat seseorang mencapai 50 tahun ke atas, tercatat perilaku sedentarinya semakin lama. Di kelompok usia ini aktivitas fisik berkurang. Hal tersebut mengakibatkan perilaku sedentari lebih dari 6 jam kembali meningkat. Di kategori usia 65 tahun ke atas, perilaku tidak aktif lebih dari 6 jam mencapai lebih dari sepertiga (37 persen) penduduk di kelompok usia ini. (LUP/Litbang Kompas)

Grafis:

Provinsi kategori penduduk aktif tertinggi dan terendah

NomorProvinsiAktif (tinggi)NomorProvinsiAktif (rendah)
1.Bali85,81.DKI Jakarta55,8
2.Kalimantan Selatan80,22.Papua61,1
3.Bangka Belitung80,03.Papua Barat62,2
4.Jawa Tengah79,54.Sulawesi Tenggara dan Aceh62,8
5.DI Yogyakarta79,25.Maluku63,2

Sumber : Riskesdas 2013, Kementerian Kesehatan

noted: perilaku sedentari masyarakat