Dalam kehidupan sehari-hari, kita semakin disadarkan dengan pentingnya menjaga kesehatan. Pusat-pusat kebugaran menjamur di mana-mana, dari yang premium sampai yang minimalis terjangkau kantong mahasiswa.

Restoran pun semakin banyak yang menyediakan opsi menu plant based bagi yang ingin mengurangi konsumsi daging untuk menjaga kesehatannya. Kesehatan mental juga tak luput dari perhatian. Sering kita mendengar generasi muda yang sibuk melakukan healing karena menjaga mental health-nya.

Banyak yang memamerkan aktivitas liburan di media sosialnya dengan semangat healing demi kesehatan mentalnya. Apakah menjaga kesehatan mental agar kita dapat produktif dengan lebih optimal hanya dapat dilakukan dengan berlibur yang artinya membutuhkan izin cuti bagi sebagian besar pejuang korporasi?

Wendy Suzuki, seorang ahli saraf dan profesor di Universitas New York, menemukan bahwa olahraga dapat memicu pelepasan berbagai neurokimia yang membuat otak lebih bahagia.

Dopamin, yang sering disebut sebagai neurotransmitter untuk perasaan positif akan meningkat dengan olahraga dan membuat mood yang lebih positif. Serotonin yang mengatur suasana hati, nafsu makan, dan tidur juga meningkat sehingga mengurangi gejala depresi dan kecemasan. Tidak ketinggalan peningkatan endorphin, si pereda nyeri alami dan menciptakan perasaan euforia yang sering disebut runner’s high.

Dalam bukunya Healthy Brain, Happy Life, Suzuki menjabarkan bagaimana latihan fisik teratur akan meningkatkan aliran darah ke otak sehingga memberikan lebih banyak oksigen dan nutrisi yang membantu menjaga kesehatan sel-sel otak serta merangsang pertumbuhan neuron baru di hippocampus. Ini berdampak pada peningkatan fungsi memori, mengurangi peradangan yang merupakan faktor risiko demensia, dan membangun cadangan kognitif yang kuat untuk membantu otak bertahan dari kerusakan neurologis.

Hippocampus adalah salah satu area pertama yang mengalami kerusakan pada penyakit alzheimer dan bentuk demensia lainnya. Jadi, teratur berolahraga dapat meningkatkan fokus dan produktivitas dalam bekerja, menurunkan stres dan kecemasan, serta memperbaiki emosi kita.

Bangun konsistensi hingga terbiasa

Awal dari penelitian mengenai hubungan antara olahraga dan fungsi otak serta mental adalah pengalaman pribadi Suzuki sendiri. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota dan kesuksesan kariernya, ia merasakan kekosongan dan stress sehingga akhirnya memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru.

Ia mendaftar pada kelas kickboxing di pusat kebugaran dekat rumahnya. Setelah melakukan beberapa kali latihan yang intensif, tubuhnya terasa lebih kuat, pikirannya lebih jernih, dan suasana hatinya mulai membaik.

Transformasi pribadi ini membangkitkan rasa ingin tahunya sebagai seorang ilmuwan—bagaimana olahraga bisa memiliki dampak sebesar ini pada otak dan mentalnya? Ia mulai melakukan beberapa eksperimen para mahasiswanya.

Mahasiswa yang awalnya mengantuk dan kurang bersemangat, tiba-tiba menjadi lebih terjaga dan aktif setelah membuka kelas dengan aerobik singkat. Interaksi mereka lebih hidup, dan pemahaman mereka terhadap materi kuliah meningkat dengan cepat.

Yang perlu diperhatikan dalam melakukan olahraga itu adalah mulai dengan target-target kecil yang memang bisa dicapai. Menetapkan target besar yang kelihatannya menantang bisa jadi malah menimbulkan rasa frustrasi ketika tidak tercapai dan membuat kita patah semangat.

Selain itu, temukan kegiatan yang memang menarik minat kita. Betapa pun gerakan-gerakan yoga terlihat keren, tidak semua orang menikmatinya. Ada yang mungkin lebih bersemangat untuk melakukan gerak zumba yang lebih dinamis. Menikmati kegiatan olahraga ini sangatlah penting karena kunci dari keberhasilan adalah konsistensi.

Hanya dengan gerakan fisik secara konsistenlah, olahraga berdampak pada kekuatan otak, memperbesar ukuran hipokampusnya. Betapa pun bagusnya sebuah olahraga, bila hanya dilakukan sesekali tanpa keteraturan akan sulit mendapatkan dampak yang diharapkan.

Baca juga: Pemimpin Ambidextruous

Mengubah mindset

Selain berolahraga secara teratur, Loretta Breuning penulis Habits of a Happy Brain menemukan cara-cara bagaimana kita dapat melatih otak untuk mengeluarkan zat-zat kimia yang dapat membawa kebahagiaan. Dalam penelitannya, ia melihat bahwa otak kita pada dasarnya berfokus pada skema bertahan hidup.

Otak kita tidak dirancang untuk menciptakan kebahagiaan. Ia bisa memproduksi zat kimia yang membuat kita bahagia, tetapi zat kimia tersebut bertujuan untuk bertahan hidup saja sehingga biasanya dilepaskan dalam jumlah kecil. Produksi kortisol di otak memberikan informasi pada kita mengenai hambatan yang akan ditemui sehingga kita terdorong untuk mencari jalan agar merasa lebih baik.

Namun, setelah mengatasi satu hambatan, produksi kortisol mendorong otak menemukan hambatan berikutnya. Kebiasaan berfokus pada masalah dan hambatan akan semakin memperkuat produksi kortisol ini dalam otak kita sehingga sering membuat kita merasa buruk.

Untungnya, ada cara dalam menghentikan proses ini dengan membangung sirkuit positif. Luangkan satu menit untuk mencari hal positif tiga kali sehari selama 45 hari sampai terbangun kebiasaan baru otak.

Kita mungkin merasa sulit menemukan hal positif di dunia yang penuh masalah. Namun, sekecil apa pun hal positif yang kita temui akan membangun jalur otak yang mencari dan mengharapkan hal positif. Kebiasaan ini kemudian akan memperbaiki lensa kita sehingga semakin jeli dalam melihat hal-hal baik.

Olahraga akan mendorong peningkatan hormon-hormon bahagia, harapan positif yang realistis juga dapat merangsang zat kimia kebahagiaan dalam tubuh kita. Kombinasi dua hal ini dapat kita lakukan di sela-sela kehidupan kita sehari-hari sehingga kita dapat merasa bahagia dan terus produktif, tidak hanya saat-saat tertentu setelah liburan saja.

“Ketika datang arus deras jangan melawan, akan tergilas. Saat arus deras kita harus menepi.”

Jakob Oetama

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman dan Emilia Jakob

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.