Kehadiran internet membuat berbagi informasi menjadi lebih mudah, termasuk yang berhubungan dengan kuliner. Kini, banyak orang senang berbagi informasi tentang berbagai resep makanan maupun tempat-tempat makan yang direkomendasikan. Tak heran, sekarang kita mengenal istilah food blogger atau melalui media sosial salah satunya Instagram banyak memunculkan food photographer baik yang awam maupun profesional.

Pria dan perempuan kini tak merasa sungkan lagi berurusan dengan yang namanya “dapur”. Apa yang mereka masak atau mereka nikmati, kini dengan mudahnya di-share via media sosial.

Namun, jauh sebelum itu, terdapat orang-orang sudah terlebih dahulu secara konsisten melestarikan berbagai kekayaan kuliner tradisional Nusantara melalui buku-buku resep masakan. Melalui buku resep inilah, berbagai sajian Nusantara tetap dapat dinikmati oleh anak cucu.

Sayang, buku resep masakan yang ada sampai dengan era 1970-an belum ada yang menuliskan detail tentang bahan-bahan, takarannya, dan cara memasak yang mudah diikuti. Semua buku resep yang ada tampak hanya mengandalkan “perasaan rata-rata” dalam memasak. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Hiang Marahimin, yang kala itu menjabat sebagai penanggung jawab rubrik Dapur di Majalah Femina.

 

Meresepkan kekayaan kuliner Indonesia

Perempuan yang telah mengabdikan dirinya di dunia kuliner Indonesia sejak 1974 ini kemudian mencoba membuat ulang resep masakan sehari-hari agar lebih mudah diikuti oleh para perempuan Indonesia. Bermula dari rubrik “Dapur”, Hiang secara tidak langsung telah ikut serta dalam melestarikan kekayaan kuliner Indonesia. Hingga akhirnya pada 1983, buku resep rumahan pertama yang dituliskan secara jelas dan detail berjudul Masakan dan Kue Indonesia terbit di Indonesia. Buku resep itu disusun bersama Roos Suyono dan diuji coba di dapur Femina oleh Hayatinufus Tobing.

“Pada 1970–1980-an, saya melihat bahwa ibu rumah tangga yang baru menikah itu suka bingung ketika harus masuk dapur. Karena sibuk belajar, apalagi kalau kuliah di luar kota, membuat banyak remaja pada masa itu sudah tidak sempat membantu ibu di dapur. Bagaimana masak opor, apa bumbu ayam goreng, bikin lodeh, dan pecel tidak tahu. Sehingga tak jarang, para perempuan yang baru menikah kemudian bingung mau masak apa, terlebih lagi jika tidak ada yang mengajarkan,” kenang Hiang.

Jadi, ia menambahkan, tujuan utamanya kala itu adalah membantu para ibu rumah tangga dalam problem solving urusan dapur. Buku masak pertama itu berisi masakan Indonesia rumahan. Dengan buku masakan tersebut, diharapkan para perempuan dapar lebih belajar mandiri.

Terkait pelestarian kuliner Nusantara, perempuan yang kini juga fokus dalam food combining menceritakan bahwa dirinya menyadari kalau mau melestarikan masakan Indonesia, harus dibangun rasa cinta pada masakan Indonesia. Cara yang paling sederhana adalah memperkenalkan masakan Indonesia sedini mungkin pada generasi muda melalui masakan rumahan.

“Jika rasa cinta pada masakan Indonesia sudah terbentuk waktu muda, meskipun dia pergi dan tinggal di luar negeri, ia akan nostalgia dan mencari masakan masa lalunya. Bukankah masakan ibu selalu paling enak? Sampai sekarang pun saya tetap percaya bahwa mereka yang diperkenalkan pada masakan Indonesia waktu anak-anak, entah dengan masak sendiri atau makan di restoran, akan tetap cinta pada kuliner Indonesia. Karena itu, kaum ibu berperan serta dalam pelestarian kuliner Indonesia,” terang Hiang.

Menurut perempuan kelahiran Mei 1941 ini, generasi saat ini harus dapat berprestasi lebih dalam melestarikan kekayaan Indonesia. Generasi saat ini harus dapat lebih berbangga diri terhadap kekayaan kuliner Nusantara.

“Dulu, kuliner tidak dianggap bergengsi, masak-memasak itu dianggap urusan ‘orang belakang’. Orang malu kalau disuruh ngurusin dapur. Apalagi sulit sekali mencari orang untuk staf redaksi dapur. Hampir semua pelamar menolak. Tapi lihat sekarang, orang berebut dan bangga masuk bidang kuliner. Jadi, perkembangan kuliner di Indonesia, menurut saya, bagus sekali,” paparnya. Ia mencontohkan, kini banyak anak muda yang masuk ke bidang kuliner dan belajar di luar negeri untuk menjadi chef. Hal ini mempunyai dampak yang bagus pada kuliner Indonesia yang menjadi hidup dan tidak stagnan dengan kemunculan kreasi-kreasi baru yang memanfaatkan warisan kuliner Indonesia.

 

Kebanggaan para perempuan Indonesia

Ditanya mengenai kontribusi perempuan Indonesia dalam berkarya dan memajukan bangsa ini, Hiang menyampaikan bahwa sebagai perempuan Indonesia kita harus sangat bersyukur karena dapat memilih profesi apa saja.

“Saat ini, mau jadi chef tidak ada yang melarang, mau jadi presiden pun pintu terbuka. Karena itu manfaatkan kesempatan yang telah dirintis oleh Ibu Kartini, kembangkan potensi diri. Tapi setelah itu, jangan lupa untuk menularkan dan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh untuk memperbaiki lingkungan Anda,” ujar Hiang.

Menurut Hiang, perempuan Indonesia tak boleh takut menghadapi perubahan dan selalu menjadi diri sendiri. “Selain itu, jangan pernah berhenti belajar dan pandai-pandailah beradaptasi. Ikuti perkembangan karena kehidupan sekarang penuh perubahan dan perubahan akan makin cepat terjadi,” pungkasnya. [ACH]

noted: Mencintai Indonesia Lewat Cita Rasa