Jejak-jejak perjalanan sebuah negara atau pemimpinnya, tak hanya dapat dilihat melalui tulisan, rekaman audio video, ataupun foto-foto yang terpajang rapi di sejumlah museum. Alat transportasi seperti kendaraan klasik atau mobil kuno pun turut menjadi saksi bisu penggalan sejarah sebuah negara.

Salah satu mobil kuno yang memiliki catatan sejarah adalah Zavod Imeni Likhacheva (ZIL) 111. Sedan lansiran 1958 asal Uni Soviet (sekarang Rusia) ini pernah digunakan oleh Presiden I Republik Indonesia Soekarno. Memang, mobil ini tidak setenar sedan kuno lainnya yang pernah digunakan oleh orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Beberapa waktu lalu, tepatnya di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2016, di Kemayoran, Jakarta, mobil ini terpajang di antara belasan mobil kuno yang dihadirkan Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI).

Melihat Sejarah Indonesia Lewat Mobil Tua 6

Mobil kuno yang catnya sudah banyak terkelupas tersebut merupakan hadiah dari Uni Soviet kepada Soekarno. Mobil ini dibiarkan dengan kondisi seperti aslinya. Tak heran jika interiornya, termasuk jok, sudah banyak yang usang dan sobek. Sebelum dipamerkan di ajang otomotif berkelas internasional tersebut, Limosin hitam ini tersimpan di sebuah galeri.

Selain ZIL 111, komunitas itu juga menghadirkan Cadillac Fleetwood 1959 berwarna pink. Mobil klasik yang dikenal dengan Cadillac Elvis Presley 59 tersebut pernah digunakan oleh Gubernur DKI Jakarta ke-9 Ali Sadikin. Mobil yang awalnya berwarna putih ini merupakan pemberian dari pemerintah Jepang untuk orang nomor satu di Jakarta tersebut.

Pertama dan unik

Mobil lain yang juga memiliki sejarah bagi bangsa ini adalah Buick-8. Mobil buatan Amerika Serikat ini merupakan mobil kepresidenan Republik Indonesia pertama yang digunakan Presiden Soekarno setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Kendaraan bernomor pelat Rep-1 ini banyak berjasa karena turut mendukung Soekarno dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dalam periode 1945-1949.

Buick-8 menjadi mobil kepresidenan yang memiliki cerita cukup unik. Pada 1945, Ketua Barisan Banteng, Sudiro, menemukan mobil ini di belakang kantor Departemen Perhubungan yang digunakan Jepang. Gedung ini sekarang menjadi kantor Direktorat Jenderal Perhubungan Laut di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta.

Sudiro paham, Buick-8 bukanlah mobil sembarang. Ia lantas membujuk sopirnya untuk pulang kampung di Kebumen, Jawa Tengah, dan meminta kuncinya agar diberikan kepada Soekarno. Sudiro menganggap mobil ini pantas ditumpangi kepala negara.

Meski mobil tersebut sudah berumur puluhan tahun, wibawanya masih terasa hingga sekarang. Di dalam kabinnya terdapat selembar kaca yang berfungsi sebagai pemisah antara pengemudi dan penumpang.

Sebagai catatan, Buick-8 merupakan mobil tipe Limited-8, bukan Buick biasa yang diproduksi pada 1931. Mobil terbatas ini dibuat pada 1939 dengan kapasitas mesin 5.247 cc.

Chrysler Crown Imperial Limousine 1954 yang diproduksi pada 1954 juga pernah digunakan Soekarno. Limosin yang didapat dari Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito, ini digunakan Soekarno pada 1963-1964. Mobil klasik yang hanya diproduksi 50 unit ini, selain sebagai mobil operasional Soekarno, juga digunakan untuk keperluan kenegaraan, di antaranya menjemput tamu negara.

Kendaraan lain yang menjadi mobil dinas Presiden Soekarno adalah Cadillac 75, GAZ 13, dan Lincoln Cosmopolitan (Limosin Cabrio).

Melihat Sejarah Indonesia Lewat Mobil Tua 3

Sumbangan

DeSoto, yang dibuat pada 1942, juga menjadi kendaraan klasik yang menjadi saksi sejarah bangsa ini. Mobil asal Amerika Serikat berpelat Rep-2 ini digunakan oleh Wakil Presiden I RI Mohammad Hatta.

Tak seperti mobil Buick-8 yang ditemukan di jalan, DeSoto adalah sumbangan dari paman Hatta yang juga menjadi pengusaha, Djohan Djohor. Pengusaha sukses di Jakarta masa itu bermaksud turut serta dalam memobilisasi perjuangan.

Menariknya lagi, mobil itu sempat berpindah tangan. Oleh pemilik yang baru, mobil tersebut dijadikan angkutan umum (oplet). Namun, Hatta membelinya kembali dan merestorasinya dengan bantuan pengusaha Hasyim Ning. [BYU/TYS]

 

1 Comment

Leave a Response