Di media sosial, kita bisa dengan mudah menemukan resep-resep masakan berikut video cara memasaknya. Kita juga dapat mengenal beragam bumbu masakan dari luar negeri yang mungkin masih asing di telinga kita.

Salah satu tanaman yang juga menjadi bumbu masakan adalah thyme (baca: timi) atau Thymus vulgaris. Dulu, kita mungkin pernah mendengar tanaman melalui iklan komersial permen yang menggunakan ekstrak timi.

Awalnya, timi sering digunakan untuk keperluan kesehatan. Bahkan, pada zaman Mesir kuno, timi dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pembalsaman jenazah para pharaoh atau raja-raja Mesir agar bisa diawetkan.

Masyarakat Yunani kuno juga menggunakan timi yang dibakar sebagai pengantar doa dan pujian di kuil-kuil pemujaan dewa-dewi. Pada sekitar abad pertengahan, timi menjadi perlambang keberanian. Ranting timi biasanya disematkan pada scarf yang dikenakan para prajurit sebelum berperang.

Dalam perkembangannya, timi juga dipakai untuk bumbu masakan. Timi mirip tumbuhan perdu yang tumbuh bergerombol. Batang dan tangkainya kecokelatan. Daunnya hijau segar dan berukuran kecil. Bagian bawah daunnya berwarna keputihan. Timi menguarkan aroma khas yang segar.

Kaya manfaat

Dalam dunia kuliner, timi kerap digunakan sebagai bumbu sup dan campuran beragam jenis saus. Timi biasanya dicampur dengan daun bawang dan bawang bombai untuk sup. Penggunaan lainnya, timi sering dijadikan bahan bumbu rendaman daging ayam, sapi, dan ikan sebelum dimasak.

Sebagai bumbu masakan, timi kerap digunakan pada makanan di kawasan Mediterania dan Eropa bagian selatan. Timi dipakai untuk menyedapkan pasta, makaroni, jamur, dan masakan lainnya. Selain bumbu masakan, timi juga diolah menjadi teh herbal sebagai minuman kesehatan.

Kandungan vitamin dalam timi cukup banyak. Di antaranya, vitamin A, B kompleks, C, E, dan K. Mineral dalam timi pun cukup lengkap. Dalam timi terkandung potasium, zat besi, kalsium, mangan, magnesium, dan selenium. Kandungan antioksidan dalam timi juga cukup tinggi.

Tanaman timi juga mengandung thymol. Ini adalah minyak esensial yang mempunyai beragam manfaat. Di antaranya sebagai antiseptik dan antijamur.

Tak mengherankan bila sejak abad pertengahan, timi juga mulai digunakan sebagai bahan untuk berkumur dan digunakan sebagai obat oles. Aromanya yang segar dimanfaatkan untuk menangani masalah pernapasan. Misalnya, batuk dan sesak napas.

Riset yang dimuat Food Microbiology pada 2004 menyebutkan, minyak esensial timi dapat membersihkan daun selada dari mikroorganisme penyebab diare. Minyak esensial timi juga dapat membersihkan sayuran lain dari sejumlah bakteri berbahaya.

Mengawetkan makanan

Yang tak kalah menarik, timi juga bisa diolah menjadi bahan untuk membantu mengawetkan makanan. Dengan dicampur daun basil atau kemangi, timi dapat membuat kesegaran makanan yang tidak dimasak, seperti salad, menjadi lebih tahan lama. Warna dan aroma salad pun cenderung stabil berkat campuran timi.

Manfaat timi lainnya, yaitu dikonsumsi untuk membantu menurunkan tekanan darah dan kolesterol, meringankan batuk, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan sebagai aromaterapi.

Timi pun mengandung bahan antiserangga dan antikutu serta antihama tanaman. Minyak timi biasa dioleskan pada lengan dan kaki untuk mencegah gigitan nyamuk. Timi bahkan menjadi bahan untuk deodoran dan bahan pengharum ruangan alami. Meski manfaat timi cukup banyak, tanaman herbal ini masih terbilang jarang di Indonesia. [*]