Cinta adalah salah satu bentuk perasaan yang paling manusiawi. Cinta bisa dialami oleh siapa saja dan hadir dalam berbagai kondisi. Tidak selamanya menyenangkan, cinta bahkan terkadang berakhir tragis dan mengenaskan.

Itulah yang dialami Virginia Val­le­jo, jurnalis dan pengarang Ko­lombia, yang pada pertengahan dekade 1980-an menjalin hubungan romantis dengan gembong narkoba dari kartel Medellin, Pablo Escobar. Kisah romantis tersebut dituliskan Virginia dalam memoir bertajuk Loving Pablo, Hating Escobar, yang terbit pada 2007. Memoir itulah yang menjadi inspirasi film Loving Escobar.

Foto-foto : dokumen IMDB.

Kisah pada film diawali adegan Virginia (Penelope Cruz) terbang da­ri Kolombia dikawal pasukan an­ti­narkoba AS (Drug Enforcement Administration/DEA) pada tahun 2006. Terlihat jelas kekhawatiran akan keselamatannya. Bahkan, se­ka­dar meminta obat ketika sakit kepala pun Virginia kesulitan. Ia membandingkan kondisinya saat ia masih bersama Pablo.

Yang dimaksud Virginia adalah si gembong narkoba Pablo Escobar (Javier Bardem). Adegan kemudian flashback, kembali ke masa Pablo mulai dikenal publik dan menjadi tokoh penting di Kolombia. Untuk merayakan suksesnya, Pablo ber­mak­sud mengadakan pesta di ke­diamannya. Banyak tamu pen­ting yang diundang, termasuk di antaranya Virginia, yang kala itu menjadi pembawa acara televisi kenamaan.

Para tamu datang naik pesawat-pesawat kecil dan dijemput lang­sung oleh Pablo naik jip. Virginia masih belum mengenalnya sehingga ia mengira Pablo hanyalah salah satu pengawal di tempat yang setiap sudutnya itu dijaga pengawal bersenjata api. Malamnya, ketika ia diterima langsung oleh si empunya pesta, barulah Virginia tahu bahwa orang yang dikiranya pengawal tak lain tak bukan ternyata Pablo Escobar yang tersohor itu.

Dari pertemuan awal yang ber­kesan, hubungan Virginia dan Pablo berlanjut. Virginia terkesan, betapa Pablo sangat peduli dengan warga miskin di sekitar Medellin. Ia membangunkan perumahan yang layak bagi mereka. Tak heran, Pablo ibarat pahlawan dan dewa penolong bagi banyak orang.

Untuk melancarkan bisnis gelap­nya, Pablo dengan royal menyuap pejabat dan politisi. Belakangan, karena merasa butuh kekuasaan yang lebih besar, Pablo mencoba masuk ke dunia politik. Untuk melancarkan jalannya, lagi-lagi uang yang berbicara. Bahkan, dalam kondisi terdesak, ia tak segan-segan untuk memerintahkan pembunuhan terhadap orang-orang yang merin­tangi jalannya.

Pablo menghujani Virginia de­ngan beragam hadiah mewah. Na­mun, hubungan mereka yang unik tidak hanya karena alasan harta. Apalagi, karier Virginia sebenarnya juga sedang moncer. Mereka sa­ling mengagumi, bertemu dalam ber­ba­gai kesempatan, hingga ber­hubungan di atas ranjang. Padahal, Pablo masih memiliki keluarga dan menempatkan istri serta anak-anaknya sebagai prioritas utama.

Sementara itu, bisnis Pablo menjalar sampai ke AS. Ia memegang rantai distribusi narkoba ke negara adidaya itu. Pemerintahan AS di bawah presiden (kala itu) Ronald Reagan khawatir dengan kondisi tersebut dan bertekad untuk me­merangi serta memenjarakan dalang di baliknya. Semua orang tahu bahwa Pablo adalah otak di balik bisnis narkoba yang diselundupkan ke AS. Namun, mereka kesulitan untuk menangkapnya.

Sepak terjang Pablo mengalami pasang-surut. Setelah sempat menyerah dan dipenjara di sebuah penjara mewah yang ia bangun sendiri, Pablo kemudian melarikan diri hingga akhirnya diburu oleh gabungan pasukan khusus dari AS dan Kolombia. Demikian pun hubungan Pablo dengan Virginia, yang akhirnya justru membocorkan kelemahan sang buron.

Menonton Loving Pablo se­akan ­akan kita diajak menyimak doku­mentasi kehidupannya. Ada bagian-bagian yang cukup detail dan ada pula yang didramatisasi. Film ini berhasil mengajak penonton untuk masuk dalam kehidupan pribadi sang tokoh yang begitu dibenci sekaligus dicinta. Jika Anda penyuka film-film kriminal, Loving Pablo termasuk yang layak ditonton [ACA]

Sutradara :
Fernando Leon de Aranoa

Skenario :
Fernando Leon de Aranoa

Pemain :
Javier Bardem, Penelope Cruz

Rilisan :
Spanyol

Tayang Perdana :
Juli 2018

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 2 Agustus 2018.