Helm dan tali pengaman sudah terpasang, sepatu yang cukup lentur itu pun sudah dikenakan. Cornelius (10) lalu memandang ke atas, ke dinding panjat yang tingginya setara gedung dua lantai itu. Ia tampak ragu.

Memanjat dinding adalah sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Namun, pelan-pelan ia memupuk keberaniannya, kemudian menapakkan kaki di salah satu pijakan. Kakinya lalu terus melangkah sampai di ketinggian tujuh meter. Setelah itu, keraguannya hilang. Ia bersemangat memanjat dinding lain di Bremgra Indoor Climbing, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, itu.

“Favoritku dinding yang berbentuk seperti ular tangga!” kata Cornelius. Di area Funwall, tempatnya berkenalan dengan panjat dinding, papan-papan panjat memang didesain dengan kreatif. Papan panjat seperti ular tangga yang disebutkan Cornelius adalah papan dengan pijakan yang saling tersambung dan agak berkelok. Sambil memanjat, di papan ini kita harus menggeser panel kecil untuk dimasukkan ke lubang yang berada di bagian atas papan.

Selain itu, ada pula papan panjat lain dengan bentuk yang menarik, jaring laba-laba, dan pilar berwarna-warni yang dapat dilompati. Di area Funwall, tali pengaman yang digunakan menggunakan sistem hidrolik sehingga ketika turun atau jatuh dari papan panjat, tubuh pemanjat akan tersangga dan turun perlahan-lahan.

Manajer Aktivitas Bremgra Yusep Pelano mengatakan, Bremgra menjadi tempat untuk memasyarakatkan olahraga panjat yang masih jarang di Indonesia. “Kami ingin orang tahu bahwa memanjat itu olahraga yang fun,” ujar Yusep, Jumat (17/3).

Selain area Funwall, Bremgra juga menyediakan arena panjat dinding yang sesungguhnya, yang dibuat oleh Wallutopia dengan standar kualitas internasional. Di sini, kita bisa menemukan beragam bentuk dinding panjat yang melatih teknik panjat seperti slab yang mengandalkan gaya gesekan sebagai penumpu, hang yang seperti sisi miring pada tebing, atau overhang yang membuat posisi pemanjat seperti menggantung. Standar tingkatannya mengikuti standar Perancis, dari 4b yang terendah sampai 7c yang tertinggi.

Arena panjat dinding ini bisa digunakan oleh orang dewasa maupun anak-anak. Arun (9) contoh pengunjung lainnya, kerap meluangkan waktu untuk berlatih panjat dinding di Bremgra.

“Kakakku seorang pemanjat dan dia menginspirasiku,” tutur Arun, “dia pergi ke gunung-gunung untuk memanjat dan berkata itu sangat menyenangkan. Aku ingin seperti dia.”

 

Untuk fisik dan kognitif

This slideshow requires JavaScript.

 

Melihat antusiasme anak-anak ketika melakukan panjat dinding adalah kegembiraan tersendiri bagi Yusep. Pria yang sudah menjadi pemanjat sejak remaja ini mengatakan, “Memanjat melibatkan banyak otot dan melatih endurance. Kegiatan ini juga melatih otak untuk menyusun strategi.”

Berbagai riset menunjukkan, memanjat dinding memang memberikan banyak sekali benefit bagi anak-anak. Pertama, melatih kekuatan dan ketahanan. Anak-anak mengembangkan kekuatan tangan dan jarinya ketika memegang dan bergantung pada beragam bentuk dan ukuran pijakan panjat dinding. Memanjat juga melatih otot perut dan kakinya.

Koordinasi motorik juga berkembang. Ketika memanjat, anak harus menggunakan kedua sisi tubuhnya bersamaan. Polanya biasanya tangan dan kaki kanan bergerak bersamaan untuk naik, diikuti tangan dan kaki kiri. Gerakan ini berguna untuk stabilitas dan keseimbangan tubuh anak.

Tidak hanya untuk fisik, memanjat dinding juga memberikan manfaat bagi perkembangan mental dan kognitif anak. Bentuk dan ukuran pijakan yang berbeda-beda memberikan anak tantangan untuk sampai ke atas. Keberhasilan yang dicapainya memupuk rasa percaya diri pada anak.

Jalur yang menantang juga membuat anak harus belajar bersiasat dalam memilih pijakan dengan ukuran risiko-risikonya. Ini membantu anak mengembangkan kemampuannya memecahkan masalah.

Pada dasarnya, hampir semua kegiatan yang membuat fisik anak aktif akan berkontribusi untuk tumbuh kembang anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan anak hingga remaja usia 5–17 tahun aktif bergerak setidaknya 60 menit sehari.

Pakar stimulasi anak Irene F Mongkar bahkan mengatakan, stimulasi motorik pada anak harus sudah mulai diberikan sejak bayi baru lahir. Tahap motorik awal anak, terutama proses merayap, merangkak, hingga berjalan sangat penting untuk keseluruhan pemrograman otak.

Keaktifan gerak anak ini idealnya harus tetap dijaga sampai dewasa. Dan, anak-anak yang sejak kecil aktif akan cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang gesit pula. Berolahraga dengan cara yang menyenangkan, seperti memanjat dinding, adalah salah satu upaya untuk membuat anak-anak menikmati aktivitas fisik mereka. [Fellycia Novka Kuaranita]

Foto-foto: iklan Kompas/Fellycia Nova Kuaranita dan dokumen Bremgra

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 19 Mei 2017