Anda mungkin pernah mendapat anjuran untuk minum obat antibiotik sampai habis sesuai dengan resep. Namun, kebanyakan biasanya pasien ngeyel. Baru 1–2 hari, sudah merasa sehat dan enggan menghabiskan obatnya. Memangnya kenapa kalau tidak dihabiskan?

Kebiasaan tidak menghabiskan obat antibiotik tidak langsung muncul efek sampingnya, tetapi tetap saja berisiko bagi tubuh. Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Dengan tidak mengonsumsinya sampai habis, hal ini bisa menyebabkan bakteri malah bermutasi dan menjadi resisten atau kebal terhadap antibiotik. Hasilnya, infeksi akan sulit disembuhkan.

Kasus resistensi antibiotik sudah mengglobal

Kasus resistensi antibiotik ini sudah menjadi persoalan global, bukan saja di Indonesia. Sebuah hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Proceedings of National Academy Services (PNAS) menyebutkan, tingkat konsumsi antibiotik melonjak hingga 39 persen selama periode 15 tahun (2000–2015). Dosisnya pun meningkat, dari 11,3 dosis harian menjadi 15,7 dosis per 1.000 orang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyebut, peningkatan penggunaan antibiotik ini menyebabkan kasus resistensi antibiotik juga bertambah. Bahkan, resistensi antibiotik dianggap sebagai penyebab sekitar 700 ribu kematian di seluruh dunia. WHO memperkirakan, akan ada 10 juta kematian secara global setiap tahun pada 2050.

Di Indonesia, sebenarnya aturan pengendalian resistensi antibiotik sudah dikeluarkan dalam bentuk Permenkes Nomor 8 Tahun 2015. Melalui aturan ini, setiap rumah sakit diwajibkan memiliki tim Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) dan menerapkan program pengendalian antibiotika.

Kapan perlu minum antibiotik?

Sebenarnya yang tahu kapan Anda memerlukan obat antibiotik adalah dokter. Namun, sebenarnya jika hanya terkena penyakit ringan seperti batuk atau pilek, Anda bisa saja menolak mendapat antibiotik. Itu adalah hak pasien.

Namun, konsekuensinya, pengobatan dapat menjadi lebih lama dan panjang. Jika sakit terus berlanjut sampai lebih dari 3 hari, Anda harus kembali berobat karena bisa jadi penyakit itu disebabkan hal yang lebih serius.

Efek samping

Walaupun mampu melawan infeksi bakteri, antibiotik bukan tanpa efek samping. Ada beberapa efek samping antibiotik yang mungkin Anda rasakan, seperti diare, mual, hingga muntah atau memicu alergi.

Oleh karena itu, dokter biasanya bertanya tentang ada tidaknya riwayat alergi obat pada pasien. Jika ada, beri tahukan atau coba untuk mengingat obat yang pernah memicu alergi tersebut agar tidak berulang kejadiannya.

Hal yang harus diketahui

Menurut pakar pengobatan darurat, Larissa May, minum antibiotik mungkin saja mampu membunuh bakteri, tetapi bisa saja tetap meninggalkan bakteri yang resisten. Oleh karena itu, sebaiknya Anda melakukan beberapa hal ini.

  1. Habiskan

Jangan berhenti untuk meminumnya walaupun Anda sudah merasa sehat dan obat belum habis. Bakteri yang resisten akan kembali menjadi lebih kuat dan mungkin saja kambuh. Jangan disisakan untuk diminum pada lain hari atau jika kambuh.

  1. Ikuti dosis dokter

Jangan mengurangi dosis yang sudah diresepkan dokter. Ikuti petunjuk yang sudah diberikan dokter.

  1. Jangan berbagi dosis dengan orang lain.

Kebutuhan antibiotik seseorang berbeda-beda. Dosis yang Anda perlukan belum tentu sama dengan dosis untuk orang lain. Hal ini bisa menyebabkan kekebalan bakteri.

  1. Harus dengan resep dokter

Jika sudah sembuh dan pada lain waktu sakit lagi, jangan gunakan resep yang lama untuk membeli obat antibiotik itu di apotek. Hal ini resep tersebut hanya untuk sekali pemakaian.

  1. Antibiotik hanya untuk bakteri

Tidak semua infeksi atau penyakit bisa disembuhkan dengan antibiotik. Jadi, jangan asal meminum antibiotik jika terkena infeksi atau sakit. Selain itu, antibiotik bukan untuk melawan virus, hanya untuk bakteri.

Leave a Response