Stunting atau kondisi gagal tumbuh yang biasanya ditandai dengan tubuh pendek menjadi persoalan serius. Di Indonesia, 1 dari 3 anak mengalami hal ini. Maka, kenali risiko stunting.

Prevalensi balita stunting di Indonesia pada 2019 adalah 27,7 persen. Ini masuk kategori kronis. Sebab, menurut standar WHO, suatu wilayah dianggap dalam kategori kronis apabila prevalensinya di atas 20 persen. Prevalensi Indonesia ini juga jauh lebih tinggi ketimbang negara tetangga seperti Vietnam (19,4 persen), Malaysia (17,2 persen), dan Malaysia (16,3 persen).

Stunting yang dialami anak-anak adalah salah satu hambatan terbesar perkembangan manusia. Di seluruh dunia, kira-kira 162 juta anak di bawah 5 tahun mengalami stunting.

Diproyeksikan, pada 2025 masih jumlah ini masih di angka 127 juta anak, jauh di bawah target WHO untuk menurunkan angkanya sampai setidaknya 100 juta. Butuh kerja sama berbagai pihak untuk menekan angka stunting ini.

Penyebab

Kondisi gagal tumbuh ini disebabkan antara lain kekurangan gizi kronis, stimulasi psikososial, dan paparan infeksi berulang, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Penyebab langsung masalah stunting pada anak adalah kurangnya asupan gizi yang diterima oleh bayi atau janin.

Namun, sebenarnya faktor pemicu stunting sangat kompleks dan multidimensi. Selain kurangnya akses ke makanan bergizi seimbang pada keluarga, praktik pengasuhan yang tidak baik bisa memicu stunting pada anak. Semisal, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dan gizi seimbang, kurangnya pengetahuan pemberian makan yang baik untuk bayi atau anak, dan kurangnya stimulasi perkembangan anak.

Hal lain yang memperbesar risiko stunting adalah terbatasnya akses ke pelayanan kesehatan pada 1.000 HPK. Dampaknya, konsumsi tablet penambah darah pada ibu hamil kurang atau tidak ada sama sekali, tingkat kehadiran balita di posyandu rendah, pemeriksaan kehamilan oleh calon orangtua rendah karena layanan kesehatan jauh, atau kurangnya akses layanan imunisasi.

Di samping itu, kurangnya akses air bersih dan sanitasi juga sangat berpengaruh terhadap stunting. Perilaku buang air besar sembarangan, terbatasnya akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, dan tidak mencuci tangan dengan sabun pada waktu-waktu penting dapat memicu seorang anak mengalami stunting.

Baca juga : 

Risiko

Balita yang mengalami stunting berisiko memiliki kecerdasan yang tidak optimal dan lebih rentan terhadap penyakit degeneratif, misalnya diabetes. Pada masa depan, anak dengan riwayat stunting juga berisiko memiliki produktivitas yang rendah.

Tingginya angka stunting di suatu negara juga dalam jangka panjang akan berdampak luas. Produktivitas dan taraf kesehatan yang rendah pada akhirnya secara umum akan menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan, dan memperlebar ketimpangan.

Peran terbesar pencegahan stunting ada di tangan orangtua dan keluarga. Dengan mengenali penyebabnya, kita bisa melakukan langkah pencegahannya, antara lain dengan memenuhi kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, memberikan ASI eksklusif sampai usia anak enam bulan, memantau pertumbuhan balita, menjaga kebersihan lingkungan, dan memastikan sanitasi yang baik.

Baca Juga: Ketahui Penyebab dan Langkah untuk Mencegah Stunting  

Infografik Stunting (Iklan Kompas / Yovieta B)