Inspirasi dari Hujan dan Kereta Api

Keakraban dengan moda transportasi kereta api sejak di bangku SMA, ternyata malah menjadikan seorang Gardika Gigih Pradipta (24) menjadi komponis muda yang potensial.  

Pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, ini berkenalan dengan musik bukan karena keinginan pribadinya. Saat berumur sembilan tahun, Gigih kecil diikutkan kursus privat bermain keyboard oleh ibunya. Alasannya sederhana, anak semata wayangnya ini memiliki keahlian tambahan.

Kini, Gigih cukup aktif dalam dunia musik. Dia pernah terlibat dalam acara Art Music Today, sebuah komunitas musik seni baru. Dia juga aktif sebagai anggota Forum Musik Tembi (FOMBI). Gigih juga pernah berkolaborasi dengan komponis, pianis, dan pemusik pianika asal Jepang, Makoto Nomura. Mereka berdua menampilkan duet pianika pada 2012.  Sebelumnya, karya solo pianonya “Kampung Halaman” juga pernah dipentaskan di Bank Art NYK, Yokohama, Jepang, oleh Nomura pada 2011. Dan masih banyak lagi segudang prestasi dari seorang Gigih.

Menariknya, kebanyakan dari inspirasinya dalam bermusik karena kedekatannya dengan kereta api dan hujan. Pada 2012, sebuah konser musik bertema kereta api berhasil dia selenggarakan. Klasika Kompas mewawancarai Gigih perihal proses pencarian inspirasinya yang menarik ini.
Halo, apa kabar? Tengah sibuk apa sekarang?

Kabar baik. Masih sibuk dengan pembuatan komposisi musik untuk film-film pendek dan beberapa video ilustrasi sembari mengerjakan tesis saya untuk program Pascasarjana Antropologi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

 

Lalu, bagaimana dengan konser? Masih adakah rencana konser lagi?

Dalam waktu dekat ini belum ada, tetapi sedang persiapan untuk Suara Awan #2 berkolaborasi dengan Banda Neira dan Layur serta String Trio. Rencananya, akhir tahun ini atau awal tahun depan di Bandung. Kolaborasi yang pertama sudah tampil dan dipentaskan pertama kali di Tembi Rumah Budaya Jogja, 26 April lalu.

 

Kereta menjadi inspirasi seorang Gigih dalam berkarya. Kenapa kereta?

Sebenarnya hal ini karena sejak SMA, setiap minggu saya pulang ke Sragen dengan kereta sore. Memori itu sering kali terbawa. Suasana kereta itu sangat khas dan banyak cerita di dalamnya. Selain itu, kereta itu sangat musikal, ada ritmenya kalau sedang berjalan. Asyik.

 

Jadi, sampai akhirnya waktu itu mengadakan konser The Journey of Indonesian Railways karena pengalaman itu?

Ya. Itu karena kecintaan pada kereta itu, saya tertarik untuk membuat komposisi-komposisi musik orkestra bertema kereta api di Indonesia. Ide ini kemudian saya ikutkan program Hibah Seni kategori karya inovatif dari Yayasan Kelola di Jakarta. Dan, ternyata itu diterima. Hasilnya, pada November 2012, konser Train Music-The Journey of Indonesian Railway itu dilangsungkan di Societer Taman Budaya Yogyakarta.

Soal komposisi-komposisi tentang kereta api sendiri, saya mengawali proses pembuatan dari riset. Berbagai macam riset saya lakukan, dari sejarah perkeretaapian di Indonesia, datang ke Museum Kereta Api di Ambarawa, mengamati suasana stasiun. Seringnya saya mencermati Stasiun Lempunyangan, Yogyakarta. Riset ini menginspirasi proses penciptaan komposisi untuk orkestra.

 

Dari demikian banyak karya dan penampilan, nama Gigih justru belum tenar. Apakah menjadi masalah bagi Gigih?

Tidak masalah, karena itu saya anggap sebagai sebuah perjalanan. Misalnya, saat dulu saya membuat karya di Soundcloud dan mulai mengunggah beberapa komposisi orkestra-instrumental, hanya ada beberapa puluh saja pendengarnya. Namun, lambat laun ada pendengar yang mengapresiasi karya model seperti ini, yang kebanyakan karya saya itu ilustratif dan instrumental.

Sekarang, apresiasi mulai banyak berdatangan di Soundcloud dan saya sudah senang sekali. Senang bisa berbagi rasa dengan orang lain. Namun, itu semuanya merupakan proses. Butuh waktu untuk karya saya didengarkan banyak orang. Proses itu juga termasuk bagi saya sendiri yang masih ingin terus mencoba hal baru, terus berekplorasi dan berkembang.

 

Selain kereta, adakah inspirasi lain?

Ada. Saya suka sekali hujan. Banyak karya saya juga yang tentang hujan. Misalnya, “Hujan dan Pertemuan”, “Hujan dan Cahaya”, “Dan Hujan”, dan “Kita Sama-sama Suka Hujan”. Buat saya, impresi hujan itu sangat sendu dan sentimentil. Jadi, tepat sekali untuk membuat musik. He…he…he…. Selain hujan, saya juga suka dengan senja hari karena saat senja, suasana menjadi hangat dan kadang-kadang seperti mimpi.

 

Dari kacamata seorang komponis muda, bagaimana pandangan Gigih dengan karya instrumental di Indonesia sekarang ini? Karena, karya instrumental di Indonesia justru lebih terkenal di luar negeri.

Sulit memang memetakan asumsi ini. Namun, yang penting di era internet dan media yang semakin terbuka ini membuat anak muda semakin mudah mengakses musik instrumental dan mengapresiasinya.

Kalau berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa karya yang memiliki ruang apresiasi sendiri. Maksudnya, musik ini tidak bisa ditiru dan dinyanyikan di kafe atau saat nongkrong bareng teman-teman. Musik instrumental menawarkan pengalaman yang berbeda dan menurut saya bisa jadi sangat ilustratif dan memancing imajinasi lebih karena ketiadaan kata-kata. Contohnya, Layur, teman saya. Musik instrumentalnya dia indah dan inspiratif. Banyak yang suka juga. Sedangkan, kalau untuk apresiasi di luar negeri, saya kurang begitu tahu.

Kalau soal hambatan, sulit untuk langsung mengidentifikasi masalahnya di mana. Menurut saya, ada satu kepercayaan kalau musik itu memang kuat, baik identitas, atmosfer, dan “rasa”-nya, pasti akan ada musik itu akan berkembang sendiri. Dia akan mencari jalannya sendiri, termasuk ke kamar-kamar pendengar, ke lamunan pendengar, dan sebagainya. Itu bayangan saya, lho. He…He…He…. Tapi, ada contonya. Seperti Olafur Arnalds, komponis-pianis dari Islandia. Pendengarnya banyak sekali di seluruh dunia.

 

Masih ada impian lainnya?

Saya masih ingin membuat full album pribadi yang berisi komposisi baru seperti Maret lalu saat saya berkolaborasi bersama Sarita Fraya dan Matthijs Steur dalam album kompilasi Bertemusik. Lalu, ke depannya ada keinginan untuk riset musik-musik tradisi Indonesia setelah saya lulus dari studi Antropologi Budaya di UGM.

 

Tiga kata untuk menggambarkan seorang Gigih?

Sendu, hangat, dan dalam.

 

[VTO]