Alat utama sistem senjata atau alutsista adalah peralatan utama beserta pendukungnya yang menjadi suatu sistem persenjataan guna menopang pelaksanaan tugas pokok militer suatu negara. Alutsista terdiri atas beragam peralatan, mulai dari pesawat militer, kapal perang, kendaraan tempur, senjata, munisi, peralatan komunikasi militer, hingga peralatan perang elektronik.

Pecahnya Perang Dunia II mendorong negara-negara yang terlibat melakukan rekayasa teknologi pada alutsistanya. Bahkan, setelah perang besar itu berakhir, inovasi persenjataan dan sistem pertahanan terus menggelinding. Dalam pelayaran militer misalnya, diciptakan kapal selam yang mampu mengarungi laut tanpa sering muncul ke permukaan.

Alutsista tersebut dikembangkan dengan memanfaatkan nuklir. Pada 1951, perwira Angkatan Laut AS, Kapten Hyman G Rickover, bereksperimen membuat kapal selam yang dilengkapi reaktor nuklir. Kapal yang diberi nama USS Nautilus itu menjadi kapal selam bertenaga nuklir pertama di dunia.

Penerapan tenaga nuklir untuk menggerakkan kapal selama mugkin menjadi terobosan revolusioner kala itu. Sebab, pengoperasian reaktor nuklir mampu membangkitkan tenaga gerak propeler (baling-baling) dan mengisi ulang (recharge) baterai-baterai yang digunakan motor listrik. Dalam teknologi ini, peran mesin diesel digantikan reaktor nuklir mini, adapun motor listriknya tetap dipertahankan.

Prosedur pengalihan pembangkit dari mesin diesel ke listrik juga tak diperlukan lagi. Kapal selam nuklir mengusung reaktor nuklir untuk menghasilkan panas yang diperoleh dari fusi atom uranium. Panas ini kemudian didorong dan disalurkan ke ketel uap yang berisi air. Air tersebut lantas mendidih sehingga menghasilkan kekuatan tekanan uap yang amat besar.

Tekanan uap itu kemudian disalurkan pada generator turbo yang menghasilkan tenaga untuk reaktor. Di samping itu, juga disalurkan pada turbin utama untuk menciptakan tenaga gerak kapal dan pengisian baterai. Sisa uap air yang terus mengalir lalu dialirkan ke motor pendingin agar uap berubah kembali menjadi air. Selanjutnya air ini diteruskan kembali ke ketel uap. Begitu seterusnya.

Setelah kapal selam memanfaatkan tenaga nuklir, kemampuannya terbukti kian mumpuni. Terutama dalam hal konsistensi untuk tetap berada di bawah laut. Itu dimungkinkan karena sistem pembangkit nuklir (reaksi fusi atom uranium) tak membutuhkan sirkulasi udara. Dengan demikian kapal selam tak perlu sering muncul ke permukaan. Bahkan, kapal selam nuklir mampu mengelilingi dunia dalam waktu dua bulan tanpa muncul ke permukaan.

Pelayaran kapal selam nuklir juga lebih efisien dalam hal bahan bakar. Dengan uranium, kapal selam nuklir milik AL AS dapat beroperasi hingga 25 tahun tanpa mengisi bahan bakar. Yang diganti biasanya hanya komponen baterai yang sudah rusak.

Negara dengan alutsista kapal selam nuklir

Beberapa negara maju mengoperasikan sedikitnya 9 alutsista kapal selam bertenaga nuklir. Berikut di antaranya.

Amerika Serikat

Amerika Serikat menempati posisi teratas dalam daftar negara dengan kapal selam bertenaga nuklir terbanyak di dunia. Mereka mengoperasikan 67 kapal selam.

Rusia

Rusia berada di peringkat kedua. Dengan 31 kapal selam bertenaga nuklir, Rusia telah menorehkan jejaknya sejak era Uni Soviet dengan peluncuran K-3 Leninsky Komsomol pada 1957.

China

China sejauh ini tercatat memiliki 12 kapal selam bertenaga nuklir. Proyek kapal selam nuklir China dimulai 1958. Negeri Tirai Bambu ini membuktikan kemampuannya dengan peluncuran Changzheng 1 tipe 091 pada 1974. Komponen kapal selam ini diklaim buatan dalam negeri.

Inggris

Inggris melayarkan 10 kapal selam bertenaga nuklir. HMS Vanguard, kapal utama dari kelas Vanguard, telah berdinas sejak 1993 dengan kemampuan membawa alutsista rudal balistik Trident.

Perancis

Perancis melengkapi alutsistanya dengan 9 kapal selam bertenaga nuklir. Kapal selam pertama mereka, Le Redoutable, berlayar pada 1967. Setelah 20 tahun bertugas, kapal ini berubah menjadi museum hidup.

[*]

Baca juga: Mengenal 7 Jenis Kapal yang Kerap Berlayar di Indonesia