Setelah memenangi kompetisi Converse Get Loud, Morfem meluncurkan album mini berisikan enam lagu baru bertajuk Sneakerfuzz. Selain mendapatkan kesempatan membuat album, mereka mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan salah satu label musik indie yang terbaik di Indonesia.

Bagaimanakah bentuk album itu dan cerita-cerita di balik penggarapan album ini? Berikut adalah wawancara Kompas Klasika dengan para punggawa dari superband ini di markas Sinjitos Records di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta, Jumat (31/10).

Kenapa band seperti Morfem tertarik untuk ikut kompetisi musik, dalam hal ini Converse Get Loud?

Jimi :

Pada dasarnya, kami memang suka manggung. Ada tawaran dari Converse untuk itu. Kami kira itu. Cuma manggung biasa saja. Setelah tahu itu ternyata kompetisi, kami juga masih biasa saja. kami tidak berpikir soal menang kalah.

Kami mulai agak “panas” setelah melihat linimasa “kompetitor”. Mereka bilang, “Begini aja nih kompetisinya?” Langsung gue ajak anak-anak untuk lebih semangat. Kami buat rame. Dari situ kami kerahkan fans Morfem untuk dukung kami di kompetisi ini.

Padahal, kami hanya buat status pendek. Seperti, sneakers get loud. Kami sendiri cukup kaget dengan dukungan mereka, walaupun sering juga mencari dukungan atau berinteraksi secara viral.

Pandu :

Karena kompetisi ini bukan seperti kompetisi musik pada umumnya. Untuk maju ke final, kamijuga harus mendapatkan dukungan dari fans seperti video atau foto. Hasilnya, keren-keren. Banyak yang kreatif.

Bisa diceritakan sedikit mengenai proses penggarapan album ini?

Pandu: Kalau Jimi bilang ini album 2,5. Karena, ini awalnya tidak masuk ke dalam rencana penggarapan album. Nah, lagu di album ini datang saat kami ngejam bebas saat latihan. Kami bingung mau ditaruh di mana, akhirnya di album ini saja.

Jimi: Sebenarnya, sebelumnya kami sudah siap dengan materi lagu untuk album ketiga. Ada 17 album karena sedang on fire. Namun, belum ada vokalnya. Nah, tiba-tiba ada kompetisi ini dan menang. Kami inginnya masukkan lagu yang sudah dibuat. Ternyata, Converse hanya menyediakan hadiah untuk membuat mini album yang 4-5 lagu, tetapi karena pendek-pendek bisa 6 lagu.

Lalu, bagaimana pengalaman bekerja sama dengan Iyub (Joseph Saryuf)?

Jimi: Sebenarnya, kami sudah punya pengalaman kerja sama dengan Iyub sewaktu album pertama. Namun, belum pernah diproduseri. Kami hanya rekaman. Jadi, kami sudah tahu karakternya dia. Ya, kalau disebut top five music engineer Indonesia, dia masuk di dalamnya.

Kami rekaman selama dua bulan. Album ini juga kami tahan dulu untuk rilisnya untuk melewati masa euforia pilpres agar tidak tenggelam. Setelah reda, baru rilis.

Pandu: Awalnya, kami mau kerjai dia sedikit. Karena, Iyub lebih biasa dengan indie rock dan dance music. Bagaimana kalau kami kasih dia hardcore? Ha-ha-ha. Tadinya ingin kami berikan 15 lagu pendek-pendek dengan genre hardcore. Ya, pengalaman berbeda saja. Lagu hardcore seperti ini di-mixing sama Iyub. Jadi, lebih luas dan lebar karakternya.

Adakah perbedaan di album ini dengan album sebelumnya, baik secara musik dan lirik?

Pandu: Secara sound, gitar lebih berbeda dan source yang kami pakai di Sinjitos juga sudah bagus dan keren. Jadinya, hasilnya juga beda.

Jimi : liriknya sendiri, ya, masih dengan karakter dan analogi-analogi gue. Kalau dikatakan ada kritik sosial yang terkandung di dalamnya, memang tidak pernah ada niat seperti itu. Keseharian saja. Memang lebih enak apa yang kita rasakan saja, jadi tidak ada yang fake.

Kalau gue sendiri paling suka saat menggarap lagu di judul “Planet Berbeda”. Oh, begini nih bikin lagu cinta. Jadinya, gue berpikir, bisa tidak buat lagu cinta dengan aransemen lebih asoy? Ide awalnya, memang gue lagi mendengarkan Rolling Stones yang judulnya “Time is On My Side”.

Lebih menarik lagi pembuatan “Rayakan Pemenang”. Tadinya, lagu ini tidak masuk hitungan. Saat latihan, Pandu memberi lagu baru tanpa lirik. Inspirasinya, saat lagi teringat teman yang dulu mungkin tidak pernah dikira akan sukses, ternyata dia sudah bisa pameran seni hingga ke luar negeri.

Pandu: Iya, tiap hari gue tanya terus liriknya. Padahal, itu sudah mau take vocal. Sempat khawatir juga soalnya. Namun, Jimi ternyata datang sudah ada liriknya. Dia buat liriknya saat lagi dalam perjalanan ke studio di dalam taksi.

Setelah meluncur satu bulan di pasar, bagaimana responsnya?

Jimi: Cukup positif sebenarnya. Ada yang sudah mulai mengutip liriknya di Twitter.

Pandu: Ada yang sudah mulai juga posting di Path. Ada juga yang foto CD-nya di dalam kubikal tempat kerjanya langsung mengunggah di jejaring sosial sembari memberikan tagar Kubikal Rock. Sesuai dengan lagu pembuka kami di album.

Kabarnya, video klip akan digarap?

Jimi: Iya, sebentar lagi akan keluar video klipnya. Kami sedang menyeleksi pemerannya. Konsepnya adalah seorang pelari perempuan yang sedang berlari. Seleksi pun sebenarnya tiba-tiba. Awalnya bercanda. Kita ingin bikin konsep seperti beauty pigeon. Ternyata yang kirim biodata lumayan banyak juga. Dari sekitar 20-an pengirim, kita pakai Chelsea Islan. Ditunggu saja video klipnya. [VTO]

Kuis Trivia Musik

Untuk album Sneakerfuzz ini, apa nama label rekaman yang menjadi produser Morfem?

Kirim jawaban via Twitter. Follow dan mention @morfem_band + @KompasKlasika. Sertakan jawaban dengan tagar #TriviaMusik.

Dipilih dua pemenang yang akan mendapatkan masing-masing 1 CD Morfem teranyar, Sneakerfuzz. Sepuluh (10) pengirim jawaban pertama yang tepat akan diundi untuk mendapatkan CD edisi khusus bertandatangan personel Morfem. Jawaban ditunggu hingga Selasa, 4 November 2014 pukul 24.00 WIB. Pemenang akan diumumkan pada rubrik #TriviaMusik edisi 11 November 2014.

noted: Album Kebetulan Penuh Totalitas