Bermain terbukti ilmiah mampu merangsang tumbuh kembang otak anak secara optimal. Sementara itu, dengan rutin bermain, tubuh si kecil secara alamiah akan menciptakan “alarm” penanda rasa lapar dan kenyang dengan lebih efektif.

Saat bermain, anak-anak juga melatih keseimbangan tubuh dan gerak motorik halus atau kasar. Jika bermain secara teratur, anak-anak juga akan terbiasa menggerakkan otot-ototnya. Di samping itu, mereka juga belajar mengoordinasikan gerakan, melatih dan mempertajam fungsi pancaindera, serta menyalurkan energi.

Namun, untuk mendapatkan kebaikan dari bermain, sebaiknya orangtua juga memperhatikan kebutuhan anak. Untuk itu, coba perhatikan enam saran berikut ini.

Bijaksana

Tujuan bermain tidak hanya untuk senang-senang dan penyegaran, tetapi juga sebagai suatu medium pembelajaran bagi anak. Oleh sebab itu, perlu kebijaksanaan orangtua untuk memberikan permainan yang tepat. Dengan demikian, pada saat bermain, anak-anak bisa memperoleh manfaat maksimal bagi perkembangan kepribadiannya.

Terlibat

Jangan lupa, orangtua mesti terlibat untuk bermain bersama anak. Melalui keterlibatan ini, secara efektif akan terbentuk emosi positif yang bermanfaat bagi si kecil. Kebaikan dari emosi positif, yakni mengoptimalkan tumbuh kembang otak anak, menjalin kedekatan emosi, melatih konsentrasi, dan menciptakan komunikasi terbuka.

Tepat

Kegiatan bermain memang perlu didukung peralatan permainan yang tepat, sesuai usia serta karakter anak. Menurut beberapa ahli, anak berusia 1–4 bulan akan mulai mengenal rasa, bentuk, dan gerak melalui anggota tubuhnya.

Ada juga yang menyebut masa-masa menjelang satu tahun adalah fase oral bagi anak. Tak mengherankan jika si kecil selalu bermain dengan memasukkan sesuatu ke mulut sebagai cara mengecap rasa dan pengenalan bentuk. Rattle atau music box bernuansa cerah dan bisa mengeluarkan suara-suara, dapat menjadi mainan yang tepat untuk anak pada fase usia ini.

Mulai eksplorasi

Menginjak usia 4–12 bulan, anak mulai melakukan spontaneous play dan eksplorasi lebih jauh. Sebab, pada usia ini, mereka mulai mampu menggunakan kedua tangannya secara independen. Permainan yang dapat diberikan berupa teething atau yang membantu anak untuk belajar duduk, tengkurap, bahkan berdiri.

Permainan “cilukba” juga menjadi satu permainan sederhana yang dapat mengenalkan anak pada sesuatu hal yang dapat hilang dan muncul. Tombol-tombol yang mampu mengeluarkan cahaya berwarna-warni juga bisa diberikan untuk pengenalan warna.

Menyusun dan koordinasi

Ketika berusia 12–24 bulan, anak bisa mulai mengenal permainan menyusun dan koordinasi bentuk, seperti puzzle sederhana, gelas susun, dan memasukkan bola-bola. Saat anak sudah mampu berdiri dan akan melangkah, rangsang dia dengan alat bantu jalan yang menarik perhatiannya, apalagi jika dilengkapi warna-warna cerah dan musik.

Permainan karakter

Di atas usia 24 bulan, mengembangkan imajinasinya dengan permainan-permainan pura-pura bisa menjadi cara tepat untuk menstimulasi anak. Ajak anak untuk menjadi suatu karakter sesuai khayalannya. Permainan profesi atau karakter dapat menjadi pilihan pas.

Mari, berikan pengalaman-pengalaman positif bagi perkembangan si kecil. Bermain di rumah juga menjadi trik untuk mengusir kebosanan anak selama pandemi. [*]