Di sebuah hutan di Jawa Tengah, Tutut si burung perkutut muda dari balik dahan pohon sedang mengintip teman-temannya yang terbang dengan bebas di langit. Burung-burung perkutut itu tampak riang menjelajahi langit.

Tapi, Tutut hanya bisa bersedih sambil menatap teman-temannya itu. Tanpa ia sadari, ternyata Tuan Papai si tupai, sedang mengamatinya.

“Mengapa kau bersedih?” tanya Tuan Papai.

“Aku ingin bisa terbang seperti teman-temanku yang lain Tuan Papai. Tapi, aku terlalu takut untuk terbang,” jawab Tutut.

Tuan Papai pun mengamati dengan saksama. Tuan Papai lalu berkata, “Kau punya sayap yang utuh seperti teman-temanmu. Mengapa kau harus takut?”

“Saat kecil dahulu, pada saat kami belajar terbang, aku tidak bisa mengepakkan sayapku sehingga terjatuh dari atas dahan. Sejak itu, aku jadi takut untuk terbang,” jelas Tutut.

“Oh, itu adalah hal yang wajar. Tidak apa untuk merasa takut, tetapi kau harus mengalahkan rasa takut itu. Kau tidak perlu terus-menerus merasa takut hanya karena gagal dalam mencoba sesuatu,” ujar Tuan Papai sambil tersenyum.

“Tapi…” kata Tutut penuh keraguan.

“Sekarang, cobalah berdiri di ujung dahan sana dan meloncatlah,” ujar Tuan Papai.

Tutut pun mengikuti arahan Tuan Papai. Namun, saat berdiri di ujung dahan dan melihat ke bawah, ia merasa sangat ketakutan. “Aduh Tuan Papai. Aku tidak bisa. Aku takut sekali untuk melihat ke bawah dan meloncat dari sini.”

“Tidak apa Tutut. Kau memiliki sayap yang sempurna seperti teman-temanmu yang lain. Percayalah pada dirimu. Yakinlah bahwa kau bisa terbang,” ujar Tuan Papai.

Tutut pun kembali mengikuti arahan Tuan Papai. Ia mulai berjalan ke ujung dahan. Rasa takutnya membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Sambil memejamkan mata ia pun meloncat dari ujung dahan.

“Whoosh….”

Terpaan angin, membuat Tutut tanpa sadar mengembangkan dan mengepak-ngepakkan sayapnya.

Perlahan, ia mencoba membuka matanya. Betapa terkejutnya Tutut saat melihat dirinya tidak jatuh membentur tanah.

“Aku berhasil! Aku bisa terbang!” serunya kegirangan. Ia terbang tinggi menuju langit. Ia terkejut saat melihat dunia dari atas langit. Semua terlihat begitu indah.

Ia pun kembali kepada Tuan Papai. “Terima kasih Tuan Papai, berkat dirimu, aku bisa menaklukkan rasa takutku dan melihat dunia yang begitu indah.”

“Tentu saja. Ingatlah, kau hanya perlu menaklukkan rasa takutmu untuk bisa melihat keindahan dunia yang lebih besar lagi,” pungkas Tuan Papai.

Sekarang, Tutut tidak takut lagi terbang. Justru terbang menjadi hal yang paling ia sukai. Karena dengan terbang, ia dapat menjelajahi langit dan melihat keindahan dunia.*

logo baru nusantara bertutur

Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Meutia Mirzananda
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita