Pada era perjuangan, saluran apa pun bisa menjadi alat untuk melawan penjajah. Tak melulu dengan senjata dan diplomasi, bidang jurnalisme pun mampu menjadi awal pergerakan nasional. Inilah yang dilakukan oleh Raden Mas Djokomono atau lebih dikenal sebagai Tirto Adhi Soerjo.

Tirto sejatinya merupakan keturunan bangsawan. Hal ini terlihat dari namanya yang menyandang gelar raden mas. Mengutip Tirto.id, buku 7 Bapak Bangsa (2008) menyebutkan pergantian nama menjelang dewasa dalam sistem keluarga raja-raja Jawa sudah lazim dilakukan.

Tirto awalnya merantau ke tanah Betawi karena hendak melanjutkan sekolah di Hogere Burger School (HBS). Selepas HBS, Tirto muda diterima di sekolah dokter bumiputra, yaitu School tot Opleiding van Inlandsche Artshen (STOVIA). Namun, alih-alih menjadi dokter, Tirto malah tertarik dengan dunia tulis-menulis.

Kala itu, dirinya sudah sering mengirimkan tulisan ke berbagai surat kabar terkemuka saat itu, sebut saja Bintang Betawi, Chabar Hindia Olanda, dan Pembrita Betawi. Surat kabar terakhir menjadi tempat berkarier Tirto dan sempat menjadi redaktur dalam waktu singkat.

Di surat kabar itu, Tirto mendapatkan pelajaran langsung dari jurnalis senior dan pemimpin redaksi Niews van den Dag. Dari penulisan berita, mengelola penerbitan, hingga belajar hukum untuk bisa menghantam kolonial.

Karier Tirto

Merasa butuh “kendaraan” sendiri, Tirto pada 1903 menerbitkan Soenda Berita, surat kabar pertama di Indonesia yang diterbitkan, dikelola, dan dimodali sendiri oleh orang bumiputra, yaitu dirinya sendiri.

Agar dikenal dan bisa memenuhi visinya menjadi alat mencapai cita-cita perjuangan bangsa, Tirto menyematkan tagline “kepoenjaan kami pribumi”. Sayangnya, surat kabar ini kesulitan keuangan dan terpaksa tutup. Namun, Tirto tak berhenti.

Ia kemudian meluncurkan Medan Prijaji pada 1 September 1907. Tirto bertindak sebagai editor dan administrator mingguan. Medan Prijaji pun resmi berbadan hukum dan melahirkan media lain bernama Soeloeh Keadilan. Dari dua media ini, Tirto memperkenalkan jurnalisme advokasi. Dia kerap mengangkat tema perlawanan melawan penindasan terhadap kaum bumiputra.

Tirto juga menghidupkan peranan perempuan dengan membuat surat kabar Poetri Hindia. Surat kabar ini dikelola oleh para perempuan Indonesia dan berisikan konten tentang hal-hal yang dekat dengan perempuan. Sempat memiliki jaringan luas, surat kabar ini akhirnya tetap berhenti terbit pada 1912.

Tulisan Tirto cukup tajam dan kerap membuat kalangan pribumi dan kolonial yang disinggung menjadi marah. Tirto pernah membeberkan tentang kesewenang-wenangan pejabat daerah. Misalnya, A Simon, pejabat lokal di Purworejo disebut snoot-aap yang berarti monyet ingusan. Dia menulis itu karena menerima laporan bahwa Simon bersekongkol memuluskan calon pilihan mereka daripada calon pilihan rakyat.

Tirto pun diadukan dan terkena Delik Pers dengan tuduhan pencemaran nama baik. Hasilnya, Tirto diasingkan ke Lampung selama 2 bulan. Namun, sekembalinya dari Lampung, Tirto malah makin beringas. Dia menulis artikel dengan tajuk “Oleh-oleh dari Tempat Pembuangan” yang menceritakan penyelewengan dari level kepala kampung sampai residen Lampung.

Puncaknya, Tirto kembali dibuang dan diasingkan ke Maluku selama 6 bulan. Hal ini karena Tirto mengecam Bupati Rembang dan menyinggung Gubernur Jenderal Idenburg. Selama dibuang, semua asetnya diambil pemerintah kolonial.

Sekembali dari pembuangan, Tirto tak memiliki apa-apa. Teman-temannya pun menjauh karena takut diasosiasikan sebagai teman dekat Tirto. Dia pun mengalami depresi akut selama bertahun-tahun. Selepas pembuangan, Tirto ditampung oleh anak didiknya bernama Raden Goenawan. Mental dan kesehatan Tirto pun terus menurun, bahkan nyaris gila hingga akhirnya Tirto tutup usia akibat disentri.

INFOGRAFIS: IKLAN KOMPAS/ ARIEF KRESTIONO.

Meninggal dalam sepi

Akhir 1918, surat kabar De Locomotief memuat berita tentang “Sebuah kuburan di Mangga Dua, Batavia, yang sedikit pun tak berbeda dari kuburan-kuburan lain di sekitarnya, adalah tempat istirahat terakhir pekerja dan jurnalis ini.”

Kematian Tirto tidaklah masif. Jenazah Tirto tidak ada iringan besar, tidak ada orang besar, dan tidak ada pidato. Sepi. Tak ada orang yang akan menceritakan jasa dan amal hidupnya. Hal ini tertulis dalam buku 7 Bapak Bangsa karya M Rodhi As’ad.

Tirto meninggal pada usia 38 tahun. Pemerintah Indonesia menetapkan Raden Mas Djokomono sebagai Bapak Pers Nasional pada 1973 dan 10 November 2006 dinobatkan gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adiprana.

Jalan hidup Tirto pun menjadi inspirasi penulis besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Pulau Buru. Nama Minke dipakai untuk menyebut Tirto. Selain itu, Tirto pun menjadi inspirasi nama salah satu situs berita di Indonesia, yaitu Tirto.id.

Leave a Response