Internet menjadi kebutuhan banyak orang, antara lain sebagai sarana belajar dan hiburan. Tak luput bagi anak-anak. Namun, bagaikan pedang bermata dua. Selain memberikan manfaat, internet berpotensi membahayakan anak. Tanpa pendampingan dan penyaringan informasi, mereka bisa mendapatkan informasi atau tayangan kekerasan maupun seks secara eksplisit. Bahkan, media ini banyak dimanfaatkan para pedofil untuk memikat anak maupun mengancam korban.

Dilansir dari Mayo Clinic Family Health Book, setiap orangtua sebaiknya tetap mengontrol perilaku putra-putri Anda saat berinternet. Anda dapat menaruh rasa curiga dengan memperhatikan beberapa tanda berikut ini.

Pemakaian internet di rumah secara berlebihan, khususnya ketika larut malam. Saat berada dalam halaman chatting tanpa pengawasan yang belum selayaknya. Banyaknya gambar-gambar yang diunduh dan disimpan dalam komputer atau ponsel. Anak sering menerima panggilan telepon dari orang asing atau tidak dikenal.

Jika ingin meminimalkan risiko, pertimbangkan beberapa saran sebagai berikut. Beri tahu anak supaya tidak menyebarluaskan informasi pribadi di internet, termasuk nama lengkap, nomor telepon, alamat rumah, dan alamat sekolah. Izinkan anak membuka halaman chatting yang dikelola server bereputasi.

Letakkan komputer di ruang keluarga yang mudah dipantau. Pilih jasa internet secara saksama. Ada beberapa server yang memungkinkan Anda memblokir bidang atau topik yang dianggap tidak cocok bagi anak, atau Anda dapat membeli perangkat  lunak untuk menyaringnya. Perdalam pengetahuan Anda tentang komputer.

Selain itu, Anda perlu mendapatkan potongan-potongan informasi yang menunjukkan situs mana saja yang telah diakses anak dari komputer. Minta anak menyepakati atau menandatangani perjanjian berisi semua peraturan orangtua lalu ajarkan dia untuk menyepakati hal-hal yang telah tercantum. Berikan batasan waktu ketika anak berinternet dalam sehari. [*/AJG]

Foto Shutterstock.com

 Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 7 Mei 2018