Di sebuah rumah di Sidodadi, Kedaton, Bandarlampung, Lampung, pagi itu, Nina kesal karena seekor ayam betina mematuk kakinya. Rasanya Nina ingin memukulnya dengan gagang sapu milik ibu yang tergeletak di sudut rumah. Tapi, ibu memegang tangan Nina dan menggelengkan kepalanya.

“Jangan memukul ayam itu, Nina. Kita harus menyayangi makhluk hidup di bumi ini,” kata ibu.

“Tapi, ayam betina itu mematuk kaki Nina, Bu.” Nina mengentakkan kakinya dengan kesal. “Mereka juga buang kotoran sembarang.” Nina memperlihatkan sepatunya yang kotor.

Ibu tersenyum sambil membelai kepala Nina. “Ayam itu mematukmu karena lapar. Yuk, bantu ibu memberi makan ayam.” Ibu memegang tangan Nina.

Dengan segan, Nina mengikuti ibu ke dapur. Nina melihat ibu mengumpulkan makanan sisa dan memasukkannya ke dalam baskom.

“Untuk apa itu, Bu?” Nina mengerutkan dahinya.

“Pakan ayam. Kita aduk makanan sisa dengan dedak, jagung, daun pisang, atau daun kelor supaya ayamnya sehat.”

Ibu berkata lagi, “Bantu ibu mengaduknya ya, Nina. Ibu yang memotong-motong daunnya.”

Nina mengangguk. Dengan takjub, Nina memperhatikan ibu yang dengan cekatan mencacah daun hingga kecil-kecil.

“Ayo, Nina yang mencampur daunnya.” Mendengar perintah ibu, dengan sigap, Nina mengambil potongan daun-daun tersebut. Ia mencampurnya dengan makanan sisa, dedak, dan jagung yang sudah ibu campur sebelumnya di baskom. Nina sudah lupa dengan kekesalannya pada ayam betina tadi.

“Nah, sekarang, sudah jadi pakan ayamnya, Yuk, kita memberi makan ayam sekarang,” ajak ibu. Nina mengangguk dengan penuh semangat. Ibu membagi pakan ayam menjadi dua baskom. Lalu, memberikan baskom yang berukuran kecil pada Nina.

“Ker… ker… ker…” Begitulah suara ibu memanggil ayam-ayamnya. Ayam-ayam itu lalu berlarian dan menyerbu pakan ayam yang ibu letakkan di wadah pakan ayam. Beberapa ekor ayam terlihat nekat makan dari tangan ibu.

“Nina, coba ulurkan tanganmu. Seperti ini…” Ibu mengulurkan tangannya yang berisi pakan ayam. Seekor ayam mematuki pakan di tangan ibu.

“Tidak sakit, Bu?” Nina bertanya sambil takut-takut mengulurkan tangannya. Seekor ayam mendekati Nina dan mematuki pakan di tangannya. “Geli ya, Bu. Nggak sakit.” Nina tertawa sambil mengusap kepala ayam tersebut.

“Betul, kan? Mereka tidak nakal, kok. Mereka hanya lapar.” Ibu tersenyum.

Sejak pagi itu, Nina selalu rajin membantu ibu memberi makan ayam.

Dalam hati, Nina berjanji untuk merawat ayam-ayam itu dengan baik. Ia berharap ayam-ayam betina nantinya akan bisa memberikan telur-telur ayam. Nina ingin menjadikan telur-telur ayam itu sebagai hadiah ulang tahunnya ibunya.*

logo baru nusantara bertutur

Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Yoharisna
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita