Antrean mobil, motor, dan bus pariwisata sudah berbaris di depan pintu pagar meski jarum jam masih menunjukkan pukul 08.45 WIB. Tempat yang kami tuju masih tertutup rapat. Perlahan kami menepikan kendaraan, turut sabar menunggu bersama pengunjung lainnya hingga pintu dibuka pukul 09.00 WIB.

Berada tepat di pinggir Jalan Raya Lembang, Bandung Barat, inilah Farm House yang tengah menjadi buah bibir. Ternyata, walau datang bukan pada hari libur pun, Farm House tak sepi pengunjung. Tetap tak sedikit yang rela datang sedari pagi.

Usianya baru hitungan bulan. Namun, sejak dibuka November lalu, Farm House dengan segera melejit sebagai salah satu destinasi utama di Bandung. Antusiasme warga menyambut tempat ini pun begitu besar.

“Dalam sehari bisa belasan ribu pengunjung yang datang pada saat awal dibuka. Sekarang, sekitar lima hingga enam ribu orang per hari pada hari biasa,” aku Elen Tristianto, pemilik Farm House.

Ditujukan pertama kali sebagai tempat hang out alias sekadar rehat sembari memanjakan indera pengecap, Farm House kini menjadi tempat yang diincar semua kalangan. Anak muda, anak-anak, hingga orangtua.

Memasuki Farm House, kita disambut hangat setusuk sosis bakar atau segelas susu segar. Pengunjung bisa memilih salah satunya dengan menukarkan tiket masuk seharga Rp 20 ribu. Bekal menyegarkan untuk menemani jalan-jalan ke penjuru Farm House yang lahannya seluas 2 hektare itu.

 

“Spot” foto di mana-mana

Pastikan memiliki cukup memori kamera ketika datang di Farm House. Sebab, spot foto ada di mana-mana. Sulit membendung hasrat untuk tidak mengabadikan diri di sudut-sudutnya yang unik itu. Kedetailan konsep dan elemen desain yang menghiasi Farm House membuatnya terlihat amat fotogenik.

Baru juga menapak langkah melewati jajaran tanaman dan akar-akar besar sebagai pemanis, mata langsung dibuai dengan bangunan-bangunan cantik. Sebuah toko mungil Peony & Pine yang menjual pernak-pernik unik hasil buruan sang pemilik dari berbagai negara.

Ya, desain Farm House begitu memanjakan mata. Toko suvenir, pernak-pernik, dan berbagai keperluan rumah tangga dirancang menarik dalam bangunan khas Eropa. Jika dahaga menyerang, kita bisa segera menyeruput jus buah segar tak jauh dari toko dan rehat sejenak di kursi-kursi kayu. Ini semua tak luput dari bidikan kamera dan tongsis yang menjulur.

Pengunjung bahkan harus sabar bergantian untuk sekadar berpose di dekat sepeda ontel yang dihias dengan gaya vintage. Keasyikan berfoto didukung suasana Farm House yang begitu asri dengan arsitektur bangunan khas pedesaan Inggris yang kental. Paving block yang melapisi permukaan jalan menguatkan kesan kita sedang berlibur ke Benua Biru.

Yang tak kalah seru, hanya dengan membayar Rp 75 ribu, pengunjung bisa menyewa kostum tradisional Eropa. Tempat untuk berpose tak hanya di balkon penyewaan kostum, tetapi juga seluruh penjuru Farm House. Jadi, jangan heran jika saat berjalan-jalan bertemu pengunjung yang tengah sibuk dengan rok panjang dan lebar, lengkap dengan topi lebar yang cantik.

Suasana Eropa kian kental terasa dengan adanya area Love Lock alias gembok cinta seperti di Paris, Wishing Well, atau sumur harapan yang berasal dari tradisi folklor Eropa, dan taman pinus.  Anak-anak juga bisa merasakan serunya bermain dengan domba dan kambing di area petting zoo, atau sekadar memberi makan kelinci dan burung. Di sini juga terdapat rumah Hobbit yang selalu penuh antrean pengunjung untuk bisa foto di fasadnya yang khas.

Itu sebabnya, selain tempat wisata keluarga, Farm House dibidik sebagai tempat field trip bagi anak-anak usia taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. “Di sini, anak-anak belajar tentang berbagai bangunan. Ada rumah Hobbit, bangunan dari Eropa, restoran, coffee shop, dan sebagainya. Informasi ini menjadi referensi bagi anak-anak untuk merangsang ide-ide membuat proyek akhir sesuai tema semester ini, yaitu bangunan,” ujar Wilda, guru dari Cendekia Leadership School yang saat itu memimpin rombongan field trip kelasnya.

Restoran di Farm House pun menghadirkan rangkaian menu Eropa dan Indonesia dengan olahan otentik. Jika ingin sekadar menikmati udara sejuk Lembang sambil menikmati pemandangan dari ketinggian, silakan menuju area rooftop dan meneguk kopi hangat. [MI RANI ADITYASARI/FELLYCIA NOVKA K]

noted: Seteguk Eropa di Bandung Barat