Suwe ora jamu, jamu godhong tela

Suwe ora ketemu, ketemu pisan melu maraton…”

 Dendang itu dinyanyikan anak-anak dan warga Dusun Brojonalan, Kecamatan Borobudur, ketika para pelari melintasi desa mereka untuk mengikuti Bank Jateng Tilik Candi 2022, Minggu (13/11/2022). Lagu itu meriah, diiringi dengan kentongan bambu dan beberapa jenis perkusi lain. Sejumlah pelari tampak terhibur. Beberapa bahkan menggoyangkan badan mengikuti irama lagu sambil berlari.

Warga Dusun Brojonalan menyambut para pelari.

Bank Jateng Tilik Candi memang menjadi ajang yang ditunggu-tunggu banyak pehobi lari. Kategori kompetisi setengah maraton di gelaran Borobudur Marathon ini menawarkan pengalaman berlari dengan rute yang menarik dan sambutan warga yang begitu hangat. Mengambil garis start  dari Taman Lumbini, pelari lantas melewati sejumlah desa untuk kembali finis di Taman Lumbini.

Istiqomah, warga Desa Ngroto yang pernah mengikuti Borobudur Marathon tahun 1990-an.

Sepanjang rute, banyak warga berdiri di pinggir jalur berlari untuk menyoraki pelari. “Semangat, Mas!” pekik Istiqomah (54) dari bangku yang sengaja diangkutnya ke pinggir jalan untuk menonton Tilik Candi. Pelari-pelari itu sedang melintasi desanya, Desa Ngroto.

“Saya pernah dua kali ikut Borobudur Marathon waktu lomba ini diadakan awal-awal dulu, tahun 1990-an. Saya lari 10 kilometer dari Blondo ke Borobudur. Makanya, sekarang juga saya senang sekali melihat para pelari ini,” Istiqomah bercerita.

 

Semua bergembira

Ribuan anak-anak dan remaja yang datang dari beragam sekolah secara kreatif menampilkan panduan sorak (cheering) untuk memeriahkan suasana dan mendorong pelari untuk dengan gembira mencapai finis. Mereka menyanyi, menari, memainkan musik, dan mengenakan kostum-kostum bernapaskan adat daerah untuk menjaga energi para pelari. Total ada 32 panduan sorak sepanjang jarak 21 kilometer yang dilalui pelari.

Di salah satu titik, anak-anak dari MI Al Huda Pasuruhan Mertoyodan bernyanyi dengan iringan marching band. Yogi Andrianto (25), guru olahraga sekaligus pendamping panduan sorak dari sekolah tersebut, mengatakan bahwa siswa-siswa sangat bersemangat menampilkan panduan sorak. Sejak masa persiapan, mereka tekun latihan. Pada hari penyelenggaraan, mereka sudah bersiap dengan kostum dan beragam perlengkapan sejak pukul 04.00 subuh.

“Anak-anak sangat antusias begitu dengar Borobudur Marathon. Mereka mau ikut memeriahkan acara ini. Ada yang bernyanyi, main musik, dan menari,” ujar Yogi.

Di titik lain, panggung kecil didirikan untuk pertunjukan kolintang dan bermacam dendang. Ini adalah persembahan dari SMPN 1 Kota Mungkid, Magelang. Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Kota Mungkid Mohammad Yusup mengatakan, mereka menyiapkan paduan menarik musik, lagu, dan gerak. Ada beberapa lagu daerah dan nasional yang dibawakan. Penampilnya adalah 120 siswa yang diseleksi dari kelas 7 dan 8.

Yusup melanjutkan, selain memeriahkan Tilik Candi sendiri, tampilnya anak-anak di depan umum juga berdampak positif bagi mereka. Rasa percaya diri dan kreativitas mereka menguat.

Kegembiraan anak-anak dalam menyambut Borobudur Marathon memang nyata. Sejak subuh pukul lima sampai sekitar empat jam kemudian, mereka tak henti bersorak.

“Saya sudah dua kali ikut cheering, waktu 2019 dan yang sekarang ini. Tadi saya membawakan tari Dayak dan tari Brodut,” cerita Cinta Indah Kirana (12), siswi kelas 6 SD Negeri Bumiharjo.

Borobudur Marathon memang menjadi bentuk perayaan bagi banyak orang. Semua larut dalam kegembiraan dan kemeriahan.