Berawal dari keinginan untuk menyembuhkan diri dari beberapa penyakit yang disandangnya, Helga Angelina Tjahjadi (23) malah menemukan jalan menjadi wirausahawan muda. Bersama dengan Max Elnathan Mandias (26), mereka nekad meninggalkan zona nyaman di Belanda untuk menjalankan passion-nya, yakni menyebarkan gaya hidup sehat melalui makanan sehat. Mereka menciptakan Burgreens.

“Kami berdua memulai Burgreens pada November 2013. Kita berpikir untuk membangun bisnis ini bukan semata-mata karena ingin berbisnis. Kita merasa ada satu hal yang tidak terpenuhi saat bekerja kantoran. Kami merasa, kerja kantor itu sepertinya tidak sehat karena lebih banyak duduk di belakang meja dan di depan komputer,” ujar Max.

Dua anak muda ini memang sudah tertarik akan isu mengenai makanan sehat, spiritualitas, dan keberlanjutan lingkungan hidup. Awalnya, Max bukanlah seorang vegetarian. “Di satu titik, aku merasa ingin memutuskan apa yang aku suka, yaitu raw food. Ini muncul karena aku suka dengan binatang, seperti anjing dan kucing, tetapi aku tetap makan ayam. Kenapa aku tidak bisa ‘adil’? Dari situ, aku mulai menjadi vegetarian, dan malah sempat jadi vegan sebelum kembali menjadi vegetarian.”

IMG_9343

Mereka tidak terlalu berpikir mengenai bisnis pada awalnya. Passion mereka saat itu hanyalah ingin menyebarkan konsep makanan sehat di Indonesia, terutama di Jakarta. Kota besar seperti Jakarta sudah sangat junk-food culture dan mereka ingin mengenalkan budaya sehat lewat makanan. “Konsep hijau pada kuliner ini kami melihatnya sangat tepat untuk dikenalkan di Indonesia karena bisa menguatkan ketahanan pangan dan memiliki pengaruh yang luas terhadap lingkungan hidup,” ucap Helga.

Max mengiyakan pernyataan Helga, sembari memberi contoh. Dari segi desain resto, mereka ingin suasana tetap sejuk walaupun tanpa AC. Dari segi sampah, kuliner makanan sehat bisa diolah kembali untuk bahan lain seperti pupuk. Selain itu, kuliner hijau baik untuk mulai dikenalkan kembali pada anak-anak.

Perjalanan dimulai

“Menu awal pun diputuskan untuk menggunakan burger karena konsep kami pertama kali memang ditujukan untuk anak-anak. Sayur sangat jarang sekali disukai anak-anak zaman sekarang, sedangkan burger sangat digemari anak-anak. Mereka melihat burger itu sangat enak. Oleh karena itu, kami sneaking veggies (menyembunyikan sayuran) di burger. Hasilnya, mereka tidak merasa kalau itu sayuran,” ujarnya.

IMG_9326

Sesaat mereka hendak memulai bisnis kulinernya, tentangan dari orangtua pun datang. Namun, mereka mampu meyakinkan para orangtua kalau bisnis ini bisa sukses dan memiliki efek positif bagi orang banyak. Modal awal pun mereka menggunakan tabungan hasil dari pekerjaan mereka di Belanda, sebesar Rp 150 juta. “Kami memang kembali ke Indonesia memang untuk set up  Burgreens. Pertama, barang-barang operasional pun sempat meminjam dari rumah. Dari blender hingga panci dipinjam. Ha..ha..,” kelakar Max.

Untuk urusan penciptaan menu, Max dan Helga berkolaborasi. Namun, untuk urusan memasak, Max memegang peranan. Helga menuturkan, semenjak hidup di Belanda, Max memang gemar memasak secara otodidak. Sejalan dengan itu, Max akhirnya harus mengambil sertifikasi untuk menjadi chef khusus raw food for healing di Pulau Bali.

“Pertama, kita memang tidak mau buka toko secara offline. Karena, bujet kita sangat kecil untuk membuka usaha. Namun, saat saya bercerita tentang rencana ini ke sahabat, ternyata dia mempunyai tanah dan tempat yang belum berfungsi dan sesuai dengan keinginan kita, yakni green. Sahabat saya sekarang malah jadi bagian manajemen kita,” ujar Helga.

Melangkah maju

Perlahan tapi pasti, Burgreens mulai mendapatkan tempat di pencinta kuliner Indonesia. Berawal dari dua orang saja, kini mereka memiliki 4 orang lagi di tataran manajemen. Total sudah 20 karyawan dipekerjakan. Menunya pun mulai beragam, mulai dari 5 menu, kini sudah mencapai 35 menu. “Mulai ke sini, kami sudah terpengaruh ke raw food. Banyak tamu kami pun mulai lebih tertarik mencicipi menu di luar burger. Kami ingin mengajak mereka untuk peduli dengan pilihan makanannya. Karena, apa yang kamu pilih di piring memiliki pengaruh terhadap lingkungan juga. Misalnya, makanan itu pakai pestisida tidak, petaninya dibayar layak tidak, dan lainnya,” ungkap Helga.

Beberapa andalan mereka adalah Mini Trio Burger. Menu ini menyajikan tiga burger mini dengan tiga isi yang berbeda, yakni mulai dari kacang-kacangan, jamur, dan bayam sebagai pengganti daging pada petty-nya. Cicipi juga salad Lemongrass Dressing yang akan memanjakan lidah. Jika tertarik dengan steak, sajian Mushroom Steak tak kalah enak dengan daging. Untuk penganan yang membutuhkan gula, Burgreens menggunakan gula kelapa atau madu sebagai pengganti gula pasir.

IMG_9331ed

Burgreens juga fokus mengembangkan delivery. Sejak pukul 10 pagi, pemesanan sudah mulai dibuka. Seluruh tempat pun bisa dijangkau. Walaupun restoran ini terletak di Rempoa, Ciputat, pesanan bisa diantar hingga Daan Mogot atau Sudirman dan Thamrin. Sayangnya, Helga enggan mengatakan omzet penjualan Burgreens. “Yang jelas, pelanggan kami juga kebanyakan datang dari ekspatriat dan para pekerja yang bergerak di bidang sustainability,” ucapnya.

Demi kelancaran usaha, Burgreens mengajak warga sekitar resto. Misalnya, untuk petugas kebersihan dan satpam menggunakan warga lokal. Bahkan, untuk delivery mereka menggunakan jasa tukang ojek. “Beberapa kali, kita juga membeli barang kebutuhan di luar bahan makanan di warung sekitar. Mengajak warga sekitar saat ada acara juga sering dilakukan. Kita berpikir, cara ini akan menghidupkan ekonomi lokal,” ujar Max.

Burgreens menyebarkan gaya hidup sehat tidak hanya melalui makanan. Beberapa kali, Burgreens menghelat movie screening mengenai makanan sehat, ikut serta dalam berbagai seminar, dan membuat event bersama dengan banyak pihak. “Sebisa mungkin setiap acara yang diselenggarakan, kami melibatkan supplier dan pembeli loyal untuk memperkuat hubungan mereka dengan Burgreens,” ujarnya.

Ke depan, Max dan Helga ingin membuka cabang delivery di beberapa tempat agar bisa menjangkau wilayah pemesanan lebih luas lagi. “Pemasaran tetap akan fokus melalui media sosial, sembari tetap mengikuti festival kuliner dan aktivasi lainnya seperti movie screening atau seminar tentang lingkungan dan kuliner sehat. Dengan ini, semoga masyarakat bisa lebih sadar akan kesehatan,” pungkasnya.  [VTO]

Galeri

Burgreens Organic Eatery & Home Delivery
Jl Flamboyan no 19
Rempoa, Jakarta Selatan
Jam Operasional  Resto: 11.30-22.00 WIB
Jam Operasional Delivery : 10.00 WIB

 

noted: semangat “hijau” di balik bisnis kuliner sehat