Ketika dua karakter unik bertemu pada waktu yang tidak semestinya, penonton boleh berharap akan kisah film komedi yang menarik. Apalagi, salah satu karakter utamanya adalah diperankan aktor laga Tanah Air. Sayang, Stuber gagal mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.

Stu (Kumail Nanjiani) adalah seorang milenial yang bekerja di perusahaan retail. Untuk mendapat penghasilan tambahan, ia nyambi sebagai sopir taksi daring. Stu “kejar setoran” karena ia ingin menolong Becca (Betty Gilpin) membuka bisnis. Becca lebih dari sekadar teman dekat bagi Stu. Ia memendam perasaan pada Becca, tetapi tidak berani menyatakannya.

Saat menarik taksi daring, Stu berjuang keras untuk mendapatkan rating tertinggi. Ia tampil ramah dan sopan, menyediakan camilan, dan berusaha agar penumpang merasa nyaman. Hingga suatu ketika, ia bertemu dengan Vic (Dave Bautista).

FOTO-FOTO: DOKUMEN 20th CENTURY FOX

Vic adalah polisi detektif old school di Kepolisian Los Angeles. Ia selalu percaya pada otot dan peluru. Dalam sebuah penyergapan terhadap gembong narkoba bernama Tedjo (Iko Uwais), partner Vic tewas. Vic pun bertekad untuk mengejar dan menangkap Tedjo.

Begitu terobsesinya Vic pada pekerjaan sehingga ia kerap melupakan anak semata wayangnya, Nicole (Natalie Morales), yang sedang merintis karier sebagai seniman.

Vic baru saja menjalani operasi Lasik saat menerima informasi tentang keberadaan Tedjo. Dalam kondisi gangguan penglihatan terganggu, tidak ada pilihan lain bagi Vic untuk mengejar Tedjo kecuali menggunakan jasa taksi daring. Dan, bertemulah ia dengan Stu.

Duet maut

Vic memaksa Stu untuk mengantarnya mengejar Tedjo, padahal Stu ada temu janji dengan Becca. Jadilah beberapa jam kebersamaan Stu dan Vic menjadi waktu yang paling sulit bagi mereka berdua.

Kombinasi maut dua karakter yang sangat bertolak belakang ini sendiri menghadirkan banyak situasi yang kocak. Stu digambarkan sangat melek dan percaya pada keunggulan teknologi. Ia juga karakter yang ramah, tapi menjurus cerewet. Sebaliknya, Vic tidak banyak omong. Ia mungkin tipe polisi yang “gebuk dulu baru tanya kemudian” dan cenderung gaptek. Namun, dengan keterbatasan penglihatan, ia terpaksa bergantung pada Stu.

Stu tentu tidak begitu saja mau menolong Vic. Selain karena sudah punya janji, ia merasa kekerasan bukanlah dunianya—meskipun atas nama penegakan hukum. Kumail mampu menghadirkan sosok Stu yang begitu menghibur.

Sosok Vic sebenarnya tidak terlalu menonjol, kecuali kesenangannya untuk langsung menghajar orang lain. Namun, chemistry antara Stu dan Vic begitu kental di film ini. Dua karakter yang bagaikan bumi dan langit ini ternyata bisa bekerja sama. Memang, hal itu tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses dan konflik yang membuat keduanya lebih memahami satu sama lain.

Film ini banyak mengungkap suka-duka kehidupan seorang sopir taksi daring. Ternyata tidak mudah untuk menyukakan hati penumpang, apalagi jika yang menumpang seperti Vic. Meski durasi film termasuk sedang-sedang saja, ada bagian film yang cenderung datar dan membosankan.

Porsi cerita dan drama yang ditawarkan cukup kuat, tentang bagaimana Vic harus menghadapi anaknya. Sementara itu, Stu melawan dirinya sendiri agar berani menyatakan isi hati pada perempuan pujaannya. Sayang, selain cuma menjadi pelengkap, tidak jelas benar bagaimana kedua masalah tersebut diatasi.

Sementara itu, porsi Tedjo sebagai gembong narkoba yang brutal dan licin sayangnya amat minim. Bahkan, porsi dialognya juga hanya sebaris. Iko Uwais lebih banyak “berbicara” melalui aksi-aksi bela dirinya yang memang keren.

Sebagai tontonan, Stuber cukup menghibur walau barangkali bisa jauh lebih menghibur lagi.

Sutradara:
Michael Dowse

Produser:
Jonathan Goldstein, John Francis Daley

Skenario:
Tripper Clancy

Pemain:
Kumail Nanjiani, Dave Bautista, Iko Uwais, Natalie Morales, Betty Gilpin, Jimmy Tatro, Mira Sorvino, Karen Gillan

Rilisan:
AS

Durasi:
93 menit

Tayang perdana:
12 Juli 2019

Leave a Response