Menurut laporan kuartal III-2017 lembaga riset International Data Corporation (IDC), harga ponsel pintar terus merangkak naik. Laporan itu menyebut harga jual rata-rata ponsel pintar di Indonesia mengalami kenaikan tajam hingga mencapai 193 dollar atau setara dengan Rp 2,6 juta atau 9 persen lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pemberian fitur ekstra seperti kamera ganda di bagian depan ataupun belakang, layar bingkai minim kemampuan anti-air, atau memori yang lebih besar membuat harga ponsel meningkat. Fitur-fitur ini pun perlahan juga sudah ditambahkan ke ponsel pintar kelas menengah.

Laporan lembaga riset Gfk pun juga menyebutkan hal yang sama. Lembaga riset internasional ini menyebutkan beberapa industri ponsel pintar dunia telah menggeser fokusnya untuk meningkatkan nilai penjualan perangkat dan mendorong konsumen untuk membeli model flagship masing-masing merek itu. Penambahan fitur dan teknologi menjadi salah satu cara agar konsumen mau meng-upgrade perangkatnya.

Apple dan Samsung bisa dikatakan sebagai trendsetter peningkatan harga perangkat komunikasi ini. Namun, kini, dua nama raksasa itu tidak sendiri. Google dan Huawei juga mulai mengekor. Belum lagi pertumbuhan penjualan dari kompetitor dari daratan China, seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo juga mengekor dengan memberikan beberapa fitur premium yang berhasil menarik perhatian dan pembeli.

Sebut saja fitur layar bingkai minim (bezel less) yang dipopulerkan oleh Apple iPhone. Setelah itu, merek lain pun ikut menggunakan hal yang sama. Begitu juga dengan kamera lensa ganda. Sekarang, kamera lensa ganda seperti sudah menjadi keharusan untuk ikut bersaing di ranah ponsel pintar. Berbeda dengan Moto yang menggunakan strategi dengan konsep modularnya. Namun, konsumen pun juga harus menebus harga yang lumayan untuk bisa menggunakan salah satu modularnya. Fitur premium yang disematkan di ponsel pintar kelas menengah mau tidak mau membuat perangkat flagship harus naik harga.

Dalam laporan Gfk, mengutip dari Kompas.com (26/10/2017), fitur premium ini menjadi penting bagi konsumen. Tren pun menunjukkan pergeseran pembelian perangkat. Konsumen mulai lebih menyukai membeli perangkat sangat high-end ini. Hal ini terjadi di Eropa Barat.

Low-end masih tinggi

Walaupun konsumen di Indonesia juga cukup tergila-gila dengan perangkat supercanggih, pangsa pasar ponsel pintar kelas low-end masih besar. Pangsa pasar ponsel pintar kelas bawah ini masih sebesar 47 persen. Konsumen Indonesia masih tetap menggemari harga ponsel pintar yang berada pada rentang harga Rp 1,4 juta sampai sekitar Rp 2,7 juta. Sementara itu, untuk ponsel pintar kelas menengah yang berada di rentang harga Rp 2,7 juta sampai Rp 5,4 juta memiliki pangsa pasar sebesar 32 persen.

Kencangnya promosi dan pemasaran ponsel China, antara lain Oppo, Vivo, dan Xiaomi membuat konsumen kelas low-end bisa ikut menikmati fitur yang mirip dengan ponsel pintar kelas high-end. Apalagi, para produsen itu bisa menghadirkan perangkat tersebut dengan harga yang masih terjangkau, tergantung kelasnya.

Walaupun demikian, pengapalan ponsel pintar ke Indonesia mengalami penurunan. Perlambatan ekonomi dan semakin tingginya harga perangkat ponsel pintar menjadi salah satu faktor penurunan ini. Berdasarkan data IDC, pada kuartal III-2017, hanya 7,2 juta unit ponsel pintar yang dikapalkan ke Indonesia atau turun 1,1 persen dari kuartal yang sama tahun lalu. [*/VTO]

 

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 3 Januari 2018.