Portofolio seorang kreator yang belajar secara independen biasanya merupakan konglomerasi pengalaman, impresi, dan kebisaan yang dikumpulkan selama beberapa masa.

Secara metode, mereka bisa lebih “liar”, namun kadang-kadang juga terasa lebih jujur dan bisa lebih cepat ditangkap pesan atau ekspresi yang hendak disampaikan. Dengan konsistensi, karya-karya tersebut kemudian akan membentuk jatidiri dan daya tarik unik yang menjadi identitas portofolio seorang kreator.

Figure N2
Figure N2 karya Ezra Igor

Menilik katalog yang tersedia dalam laman koleksi Kool, milik Ezra Igor, apresiator awam bisa segera menarik benang merah dari karya yang ditampilkannya. Antara pengaruh teknik coretan (doodle) dan juga konsistensi karakter yang menjadi pengikatnya. Dari sini kita bisa menerka perjalanan karya seperti apa yang membentuk karakter portofolionya kini.

“Karya saya umumnya menghadirkan banyak warna dengan coretan tak beraturan, serta penggalan kata dari apapun yang saya dengar atau rasakan ketika dalam proses kreasi,” kata Igor.

Igor merupakan self taught artist asal Semarang yang menemukan jalannya di skena NFT, bahkan mendedikasikan diri di skena ini. Ia menjawab kariernya sebagai kreator adalah buah dari skena sejak April 2021. Mulanya ia tertarik untuk mencoba menjadi trader mata uang kripto. Namun, hasrat kreasinya yang kemudian lebih sustain menjadikan dirinya eksis di ekosistem Web3.

“Saya masih yakin kripto adalah masa depan,” ujarnya. “Namun ada alternatif lain untuk mendapatkan hasil dengan menjadi seniman NFT.”

Berangkat dari hobi coret-mencoret (doodling), ia kemudian mencoba mengembangkan kreasi yang bebas dari standar estetika seni skolastik dan orang pada umumnya. Warna-warni dan tambahan naratif dalam bentuk kata atau tulisan yang menyertai karyanya memberikan dimensi yang lebih dalam bagi seseorang untuk menyerap ekspresi atau pesan di dalamnya.

“Saya mencoba konsisten untuk menghadirkan karya-karya yang non estetis dan liar,” terang Igor.

The Lonely Superman
The Lonely Superman karya Ezra Igor

Konsistensi untuk berkarya dengan ciri khasnya membuat ia bisa bersua dengan patron atau apresiatornya. Lebih dari seratus kolektor telah mengoleksi karyanya yang tersebar di berbagai lokapasar NFT. Menurut lulusan pascasarjana tersebut, para kolektor tersebut pada akhirnya bisa menangkap “pesan” yang ia coba sampaikan melalui rangkaian karyanya.

“Nilai yang terkandung di tiap karya adalah aspek terpenting bagi seniman untuk dapat ditemukan oleh kolektornya,” sebut Igor. “Itulah sebetulnya tanggung jawab seniman dalam mengembangkan ‘brand’ atau identitasnya.”

Skena NFT yang membuat kreator bertemu “langsung” dengan kolektor menjadi lahan yang menjanjikan Ezra kebebasan untuk berkarya. Ia tidak terikat dengan tuntutan pasar atau standar tertentu yang dianggap bisa lebih menjual.

“Dengan amplifikasi dan konsistensi yang baik, kita bisa menciptakan sendiri pengaruh bagi pasar,” kata Igor.

Ia membuktikannya dengan menjadi seniman NFT pertama Indonesia yang karyanya diangkat sebagai salah satu desain tiket komemoratif untuk event NFT besar dunia, NFT NYC tahun 2023 di New York, Amerika Serikat.

***

Nama
Ezra Igor

Asal
Semarang, Jawa Tengah

Tautan Portofolio
https://foundation.app/collection/kool