Di lapangan bola, ada pertunjukan musik tradisional keliling. Teman-teman Nay ramai membicarakan dan penasaran ingin menonton. Sore hari, Osi dan beberapa teman menjemput Nay. Sebagai syarat menonton gratis, masing-masing membawa tiga buah botol kosong.

Pertunjukan musik tradisional sungguh menarik. Mereka menyanyikan lagu-lagu Sunda diiringi angklung dan gendang. Sepasang penari cilik yang lincah menggerakkan tubuh sesuai musik.

Di sela-sela pertunjukan, kakak pemandu acara bercerita tentang zero waste atau nol sampah, atau gerakan bebas sampah. Nay yakin pernah membaca hal itu walau ia lupa di buku apa.

“Sulit untuk hidup tanpa sampah. Tapi, alangkah mengerikan jika hidup bersama tumpukan sampah. Jika tidak dikurangi, bisa-bisa jumlah sampah lebih banyak daripada jumlah manusia. Kita tenggelam dalam sampah!” papar Kak Eta.

Hiii… Nay dan kawan-kawan lain bergidik.

“Berbuat kebaikan tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada lingkungan. Ayo, sayangi bumi. Sayangi lingkungan dengan cara mengurangi sampah,” lanjut Kak Eta.

“Baik, Kak!” tanggap anak-anak serempak.

“Pertama, adik-adik harus bisa membedakan mana sampah organik, mana sampah anorganik. Sampah organik berasal dari makhluk hidup yang mudah diurai tanah. Sementara itu, sampah anorganik berasal dari benda tidak hidup seperti plastik, kaca, karet, kertas, yang sulit diurai tanah. Adik-adik harus memilih dan mendaur ulang sampah. Jangan langsung dibuang.”

“Siapa yang suka menyobek buku tulis untuk membuat pesawat? Siapa yang suka membuang botol air mineral, padahal masih bagus?”

Banyak tangan teracung. Nay juga.

Hmmm, jangan, ya. Coba hitung berapa banyak sampah yang dihasilkan dalam sehari. Bumi ini sudah sangat kotor. Minggu depan, Kakak putarkan video jika sampah semakin banyak.”

Pada akhir acara, dibagikan hidangan istimewa, yaitu bubur sumsum. Tentu saja tidak menggunakan mangkok stirofoam, tetapi mangkuk plastik warna-warni.

“Daripada gelas plastik atau mangkuk stirofoam sekali pakai, bubur sumsum ini bisa menggunakan wadah daun pisang berbentuk takir agar lebih ramah lingkungan. Supaya bisa zero waste atau nol sampah, kita menggunakan mangkuk yang bisa dicuci dan dipakai lagi. Tanpa sampah. Lebih bagus lagi kalau menggunakan sabun cuci piring tanpa detergen sehingga air sisa cuci piring tidak terlalu berpolusi.”

Pelajaran zero waste atau nol sampah hari itu belum selesai. Kakak-kakak berjanji akan mengajarkan hal yang lebih seru tentang berbuat baik kepada lingkungan minggu depan. Anak-anak senang mendapat pengetahuan baru. Hmmm, ilmunya lezat, bubur sumsum pun lezat. *

 

logo baru nusantara bertutur

Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Christya Dewi Eka
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita