“Ingat kata-kata saya. Kombinasi antara pesawat terbang dan mobil akan tiba. Anda mungkin akan tertawa, tetapi ini akan terjadi,” kata Henry Ford.

Ucapan sang legenda otomotif yang dilontarkan pada 1940, kala itu, mendapat ejekan banyak orang. Butuh waktu yang sangat panjang untuk membuktikan perkataan dari pendiri Ford Motor Company tersebut.

Kini, belum genap delapan dekade sejak ucapan pengusaha asal Amerika Serikat tersebut mengguncang dunia otomotif, kita sudah bisa melihat tanda-tanda kebenaran tentang apa yang diucapkan Ford itu.

Seperti yang diberitakan TechCrunch, AeroMobil SRO, salah satu perusahaan mobil terbang asal Slowakia, sedang giat memproduksi mobil terbang yang akan akan ditawarkan secara komersial. Kendaraan canggih yang tersedia untuk pre-order sebelum akhir 2017 ini diharapkan selesai produksi pada 2020.

Pendiri sekaligus CEO AeroMobil SRO Juraj Vaculik mengatakan, kendaraan ini ditujukan bagi para pemilik kendaraan supercar dan orang-orang kelas atas yang menginginkan sensasi penerbangan mewah. Kendaraan ini memiliki sederet fitur yang dirancang dapat menahan cuaca kurang kondusif. Sebagai pelengkap keselamatan, tersedia parasut untuk pendaratan darurat.

Pameran otomotif Geneva Motor Show yang digelar Maret lalu di Swiss juga menjadi bukti betapa derasnya perkembangan teknologi otomotif. Pada ajang tersebut, pengunjung bisa melihat kendaraan konsep hasil kolaborasi Airbus dan Italdesign yang dikenal dengan Pop Up Concept.

Kendaraan ini disebut-sebut dapat beroperasi melalui jalur darat, rel, bahkan udara. Konsep mobil terbang tersebut muncul sebagai salah satu solusi menghadapi kemacetan yang sudah menjadi santapan rutin masyarakat perkotaan.

Untuk pengoperasiannya, pengguna cukup mengatur kolom destinasi yang terdapat pada sebuah perangkat lunak yang telah terintegrasi. Selanjutnya, sistem akan mencari jalur yang tepat untuk mengantarkan si penumpang.

Sebuah drone besar akan mengangkat pod (kabin) kendaraan tersebut dan membawanya ke tempat yang telah ditentukan. Namun, untuk perjalanan jarak dekat, tidak lebih dari 130 kilometer, pod akan ditempatkan pada sasis otonom yang dilengkapi dengan 4 ban layaknya mobil pada umumnya.

Pengguna juga dimanjakan dengan layar monitor besar yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk hiburan. Inovasi-inovasi tersebut sudah barang tentu harus dibarengi dengan sejumlah regulasi agar keselamatan dan kenyamanan pengguna maupun pengendara lain tetap terjaga.

Pengembangan

Toyota, pabrikan asal Jepang, juga tengah giat menciptakan mobil terbang. Puluhan insinyur dan ahli dari Toyota yang tergabung dalam “Cartivator”, sejak 2014 hingga kini sedang melakukan pengembangan SkyDrive, produk yang disebut-sebut sebagai salah satu kendaraan masa depan.

Seperti yang dikutip dari laman Reuters, Kepala Cartivator Tsubasa Nakamura mengatakan, mobil tersebut masih dalam tahap awal pengembangan. Diharapkan, pada akhir 2018, kendaraan ini dapat melakukan penerbangan perdananya.

Pada saat uji coba, kendaraan konsep tersebut mampu turun dan mengambang di tanah selama beberapa detik. Nakamura mengatakan, butuh banyak penyempurnaan kestabilan agar purwarupa ini dapat melaju kencang dan tinggi. Ke depannya, mobil yang hendak dipasarkan pada 2025 ini diharapkan dapat menjadi kendaraan listrik terkecil di dunia yang dapat digunakan di kota-kota kecil.

Lalu, apakah mobil-mobil terbang tersebut akan benar-benar menjadi kendaraan masa depan yang mampu mengikis kemacetan? Bagaimana dengan kita yang tinggal di Indonesia, kapan bisa melihat mobil melayang di atas jalan raya? Masihkah menjadi mimpi pada siang bolong?

Ya, sepertinya masih terlalu dini bila kita bertanya demikian. Pertumbuhan kendaraan ramah lingkungan, seperti mobil berbahan bakar hidrogen dan mobil listrik saja terasa terseok-seok. Padahal, perkembangan teknologi harus didukung semua pihak termasuk pemerintah melalui kebijakan-kebijakan. Masyarakat juga harus kritis dan semakin paham dengan perkembangan teknologi yang semakin ramah lingkungan. [BYU]

Foto Agnieszka Skalska/Shutterstock.

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 9 November 2017