Beberapa bulan terakhir menjadi masa-masa yang tentunya terasa berat dan membosankan bagi banyak orang. Masa karantina di tengah pandemi memang menjadikan aktivitas terhambat dan rencana yang sudah disusun jauh hari sebelumnya menjadi tertunda tanpa kepastian.

Namun, daripada terus memikirkan sisi negatifnya, ada baiknya untuk melirik pada sisi positif dari keadaan ini. Misalnya saja, kita jadi punya lebih banyak waktu untuk bercengkerama dengan diri sendiri dan orang terdekat untuk sekadar berbagi pengalaman hidup. Dari sanalah akan lahir cerita-cerita tentang perjalanan hidup yang menarik, unik, bahkan inspiratif.

Membagikan cerita tersebut dengan menuliskannya mungkin bisa saja menjadi salah satu cara melampiaskan rasa bosan Anda saat ini.

Ilustrasi: Ericha Surya Tantio

Cerita itu selalu tentang perspektif. Cerita yang menarik untuk dibaca itu tidak melulu tentang kisah keberhasilan seseorang, tetapi cerita kegagalan dan proses kembali bangkit dari kegagalan itu juga menjadi menarik bagi pembaca. Begitulah ungkap penulis indie (independen) Eko Prabowo, yang juga Marketing Strategic Manager Harian Kompas, dalam webinar bertajuk “Boredom Buster: WFH Why Not Write Inspiring Story?”.

Webinar yang diselenggarakan beberapa waktu lalu ini dihadiri 57 peserta dari berbagai latar belakang usia dan profesi. Webinar dimoderasi oleh Sulyana Andikko selaku Digital Transformation Academy Lead CHR Kompas Gramedia.

Mulai saja dari cerita di sekitar kita

Bagi Eko, seseorang yang ingin mulai menulis sebuah buku dapat memulai tulisannya hanya bermodalkan cerita kehidupan sehari-hari. Baik tentang pengalaman pribadi maupun kisah hidup orang lain yang inspiratif bagi khalayak.

Namun, perlu diingat tentang pentingnya memahami makna di balik sebuah cerita sebelum mulai menulis. Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Eko Prabowo dalam beberapa buku yang ditulisnya, seperti I’m All Ears, Saya Ada di Sana, dan Catatan Grunge Lokal. Buku-buku tersebut memang banyak berangkat dari pengalaman pribadi di sekitarnya, atau juga tentang perjalanan hidup orang lain yang menarik bagi dirinya.

Banyak faktor yang dapat menggerakkan seseorang untuk mulai menulis sebuah buku. Eko berpendapat bahwa salah satu alasan yang paling baik untuk mulai menulis adalah saat seseorang merasa tertantang.

“Challenge diri sendiri itu adalah alasan terbaik untuk membuktikan bahwa kita bisa menyelesaikan tulisan itu, dan keberhasilan malah akan jadi candu dan membuat kita ingin menulis lagi,” imbuhnya.

Menurut Eko, bercerita itu sifatnya sosial, karena pembuatan dan penyampaian cerita tersebut ditujukan kepada orang lain. Dengan demikian sebuah cerita haruslah dibuat sesuai kebutuhan target audiensnya.

“Manusia hanya peduli pada kecemasannya sendiri. Cerita yang mereka ingat adalah yang terkait kecemasan tersebut, bukan soal hal lain,” ujarnya.

Ia menambahkan, orang tentu hanya ingin membaca tentang hal-hal yang berhubungan dengan apa yang pernah dan sedang mereka alami. Cerita itu bagai perspektif yang akan menuntun orang lain dalam proses menemukan jalan keluar dari persoalan hidup serupa yang sedang dialami.

Menulis dengan tulus dan penuh keyakinan

Eko memang memiliki prinsipnya sendiri dalam menulis. Salah satu hal menarik yang ia bagikan adalah tentang pentingnya penulis untuk menulis cerita dengan tujuan yang tulus disertai dengan keyakinan atau pandangan yang kuat.

Apakah tulisan itu akan disukai banyak orang nantinya, laku atau tidak di pasar menjadi faktor berikut. Namun, tulislah cerita itu dengan tulus dan jujur menjadi diri sendiri dalam prosesnya.

“Buku itu jika ditulis dengan genuine (tulus) pasti kelak akan menemukan audiensnya sendiri,” jelasnya mantap.

Saat menulis, tidak perlu takut untuk bereksplorasi. Penulis berhak untuk berpegang teguh pada caranya menulis sebuah cerita, termasuk memberikan pandangan pribadinya. Namun, penulis tidak harus merasa terbebani menyodorkan solusi, boleh saja sekadar bercerita tentang apa yang dipikirkannya. Akan tetapi, perspektif penulis itulah yang perlu dijaga.

Eko juga menambahkan tentang pentingnya ritme kerja dalam menulis. Bahkan, penulis terkenal dunia menganggap bahwa proses menulis itu bukan sebagai kegiatan seni, melainkan pekerjaan dengan jam kerja rutin.

Jika pandangan umum menyatakan bahwa menulis butuh mood dan inspirasi, sebenarnya menulis itu juga merupakan pekerjaan yang harus disertai kedisiplinan dan komitmen dalam prosesnya. Kurangnya dua hal tersebut yang menyebabkan banyak melahirkan calon penulis. Kenapa calon? Karena alasan (excuses) selalu menang sehingga tulisannya jauh dari selesai.

Memulai menulis sesuatu tentu tidak mudah, peluang berhasil juga kecil. Namun, jika tidak segera memulainya, lalu bagaimana kita tahu hasilnya? Jadi, yakinlah pada diri sendiri dan minta pendapat orang terdekat tentang tulisan Anda. Dari sanalah akan ada kesempatan untuk memperbaiki atau menulis ulang cerita tersebut menjadi lebih baik lagi sebelum dibaca oleh khalayak yang lebih luas.

Menulis juga mungkin saja dapat menjadi ajang untuk memutus rasa bosan yang terus menghantui diri selama berada di rumah terlalu lama.

Kognisi adalah platform berbasis edukasi persembahan Kompas Gramedia yang dibangun pada Mei 2019. Kognisi secara periodik juga mengadakan webinar yang terbuka untuk publik. Informasi lebih lanjut mengenai webinar Kognisi selanjutnya bisa mengunjungi akun Instagram @kognisikg dan situs learning.kompasgramedia.com (khusus karyawan Kompas Gramedia). Selamat belajar, Kogifriends! Stay safe, and stay sane!

Penulis: Brigitta Valencia Bellion; Penyunting: Sulyana Andikko;

1 Comment

Leave a Response