Museum, bisa dikatakan, bangunan yang pasti ada hampir setiap negara. Kehadirannya biasanya sebagai bentuk apresiasi bangsa, pelestarian sejarah dan budaya, serta menjadi sarana edukasi bagi masyarakatnya. Tak heran, semua usia bisa datang, menikmati, sekaligus belajar di sini.

Indonesia sendiri juga memiliki banyak sekali museum mulai tema sejarah bangsa hingga kondisi alam. Museum tematik alam di Indonesia ini, antara lain Museum Gunungapi Merapi (MGM) di Yogyakarta dan Museum Tsunami di Aceh.

Museum Gunungapi Merapi

museum gunung api (nawa tunggal)
KOMPAS/ NAWA TUNGGAL

MGM berdiri di Yogyakarta, tepatnya di Jalan Kaliurang KM 22, Sleman. MGM menjadi bangunan yang penting, terutama sebagai arena pembelajaran dan pengenalan terhadap gunung berapi, sebab Indonesia sendiri berada di dalam kawasan “cincin api”. MGM tidak hanya ramai dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri, tak terkecuali peneliti. Di sini, Anda bisa mendapatkan berbagai macam informasi tentang segala aspek kegunungapian dan kebencanaan geologi lainnya.

Dalam penyajian informasinya, MGM mengedepankan sifat rekreatif-edukatif. Jadi, mereka bisa mendapatkan wawasan dan pemahaman tentang aspek ilmiah, sosial-budaya, dan hal lainnya terkait dengan gunung api dan sumber kebencanaan geologi lainnya dengan lebih menyenangkan. Bentuk bangunannya pun dibangun dengan artistik. Dengan latar belakang Gunung Merapi, bangunan dua lantai ini punya bentuk yang unik, yaitu trapesium dengan salah puncaknya mengerucut membentuk segitiga.

MGM sendiri terdiri dari beberapa gedung. Gedung A, yang menjadi gedung utama, menyajikan maket gunung dengan gambaran Merapi pada 1969, 1994, dan 2006. Sementara itu, Gedung B berisikan auditorium dan teater mini yang juga bisa difungsikan sebagai ruang audio visual. Bagaimana dengan ruang pamernya? MGM mengonsepnya dengan gaya modern. Ruang pamer tidak hanya menampilkan gambar saja, tetapi juga contoh-contoh mineral di gunung-gunung Indonesia.

Museum Gunungapi Merapi
KOMPAS/NAWA TUNGGAL

Setelah melewati pintu masuk, Anda akan disambut dengan berbagai bentuk maket Gunung Merapi. Di sini, Anda bisa melihat sekaligus belajar tentang lelehan erupsi Merapi dari tahun ke tahun. Tidak hanya itu, Anda bisa juga belajar tentang evolusi kerak bumi, beberapa gunung api aktif di Indonesia dan dunia, tipe letusan, hingga bagaimana memitigasi jika terjadi letusan gunung.

Berbagai peralatan di pos pengamatan Gunung Merapi dari masa ke masa ikut dipamerkan. Bahkan, pengunjung dapat merasakan getaran ketika terjadi gempa bumi karena simulatornya tersedia pada salah satu ruangan.

Keberadaan grafis dan visual mendukung daya pikat MGM. Ada berbagai tema yang diambil sebagai alur cerita, yakni Volcano World, On the Merapi Volcano Trail, Manusia dan Gunung Api, Bencana Gempa Bumi dan Tsunami, Bencana Gerakan Tanah, Diorama, Peralatan Survei, Extra-terrestrial Volcano, Film Show, dan beberapa fasilitas penunjang lain.

Untuk tiket masuk,Anda hanya dikenakan biaya Rp 5.000 per orang wisatawan Nusantara (wisnus) dan Rp 10.000 per orang wisatawan mancanegara (wisman). Tersedia juga tiket masuk ruang audio visual dengan nilai nominal yang sama dengan tiket masuknya bagi wisnus dan wisman. MGM buka mulai Selasa sampai dengan Minggu pukul 09.00–15.30. MGM bisa menjadi sarana wisata alternatif bagi Anda mungkin sedang mengunjungi Yogyakarta.

Museum Tsunami

Jika Anda sedang atau berencana mengunjungi Aceh, terutama Banda Aceh, sebaiknya sempatkan untuk berkunjung ke salah satu bangunan ikonis di sini, yaitu Museum Tsunami. Museum yang diresmikan pada 2009 ini memang menyimpan sejarah penting bagi masyarakat Aceh, yaitu saat terjadi bencana alam Tsunami di sana.

Saat berkunjung ke sini, Anda justru bisa dikatakan takjub dengan arsitekturnya. Bangunan empat lantai dengan luas mencapai 2.500 hektar ini dibentuk melengkung dengan relief geometris. Jika dilihat dari atas, bangunan ini menyerupai sebuah kapal.

Ridwan Kamil yang menjadi arsiteknya menyebut konsep bangunan ini, yaitu Rumoh Aceh Escape Hill. Dengan desain ini, Museum Tsunami ini nantinya tidak hanya berfungsi sebagai museum dan monumen peringatan saja, tetapi juga bisa menjadi tempat perlindungan dari bencana tsunami.

Fungsi ini terlihat dengan adanya sebuah taman berbentuk bukit yang dapat dijadikan lokasi penyelamatan saat bencana datang. Atap museum ini juga dibuat landai, tujuannya sama, yaitu bisa berfungsi juga untuk menampung penduduk.

Pada tahun ini, Komunitas Jejak Langkah Sejarah (Jelajah) menobatkan Museum Tsunami Aceh sebagai museum terpopuler di Indonesia. Penilaian ini diambil berdasarkan aktivitas kunjungannya yang cukup tinggi setiap harinya. Pada saat hari kerja, pengunjung yang datang berkisar antara 2.000-3.000 orang. Sedangkan, pada akhir pekan, jumlah pengunjung bisa mencapai 6.000 orang.

Museum Tsunami Aceh dibangun oleh pemerintah, dalam hal ini Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias sebagai pengingat serta lembaga pembelajaran dan mitigasi bencana bagi masyarakat. Museum ini buka setiap hari, mulai pukul 09.00 hingga 16.00. [*/ACH]