Ada yang istimewa di hari Selasa. Terutama bagi Namira, Razzaq, Intan, Shanon, dan teman-temannya. Meski baru saja tiba di rumah selepas mengikuti kelas rutin tiap Selasa petang, pertanyaan ini segera mengemuka, “Mama, kapan hari Selasa lagi? Ini sudah hari Selasa, belum?”

Hari Selasa memang menjadi waktu spesial bagi 18 anak-anak penyandang down syndrome yang mengikuti kelas tari khusus down syndrome di Gigi Art of Dance, di bilangan Pondok Indah, Jakarta. Selama satu jam, mereka mengikuti instruksi pengajar untuk menari, mengikuti irama musik, dan bersenang-senang.

tari down syndrome, karina syahna
Karina Syahna, pengajar tari khusus kelas down syndrome. Foto dok. Egy Siagian

Hal ini pun diakui tim pengajar, yang bisa merasakan tingginya antusiasme anak-anak baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Bahkan, alih-alih senang mendapat kesempatan rehat setelah melewati kegiatan pertunjukan yang padat dengan tidak ada kelas sebanyak dua kali pertemuan pada beberapa waktu lalu, anak-anak murid justru protes keras pada guru.

Karina Syahna, pengajar tari khusus kelas down syndrome di Gigi Art of Dance, segera kembali menggiatkan kelas pada minggu berikutnya. Hasilnya, tawa dan bahagia kembali menghiasi wajah mereka.

“Anak-anak ini satu sama lain sangat loveable. Memang, saya harus benar-benar bisa jaga stamina dan mood selama mengajar. Tetapi, entah kenapa, rasa capek dan apa pun itu, selalu hilang saat ketemu mereka,” ungkap Karina.

Anak-anak down syndrome berusia 19–35 tahun itu saling bertukar tawa, saling menjaga, dan bahkan saling mengingatkan jika teman lain lupa formasi atau gerakan tari. Menari memang menjadi wadah bagi mereka untuk saling berinteraksi. Namun, sejatinya bukan hanya dengan sesama penyandang down syndrome, tetapi juga bersosialisasi dengan khalayak umum.

namira
Namira(20) terlihat layaknya remaja pada umumnya. Senang dandan, bergaya, bermain media sosial.

“Untuk anak DS (down syndrome), hampir semuanya lambat. Umur Namira 20 tahun, tetapi mundur tujuh tahun dari usia sebenarnya. Itu semua bisa kita minimalkan dengan begini, bersosialisasi. Kita ajak mereka keluar. Dan mereka happy banget di sini. Musik dan tari, kan, memang bisa bikin happy mood, untuk semua usia dan kalangan,” ungkap Ninik (49) yang rutin mengantarkan putrinya, Namira (20), ke kelas ini sejak lima tahun lalu.

Tari menjadi alat

Namira menyadari jatuh cinta pada seni tari sejak mengidolakan Cherrybelle, girlband Indonesia. Mengetahui ada kelas tari di Gigi Art of Dance membuatnya semakin bersemangat belajar menari.

Gara-gara kini beralih menjadi fans berat BTS, band asal Korea, Namira pun ingin mempelajari langgam gerak K-Pop. Konsisten berlatih menari, gadis berambut panjang ini menjadi salah satu murid pertama kelas down syndrome di Gigi Art of Dance yang konsisten hingga hari ini.

“Namira terlihat layaknya remaja pada umumnya. Senang dandan, bergaya, bermain media sosial. Kadang kita lupa kalau Namira punya DS. Saya sering ajak dia tampil, di mana hanya dia penyandang DS. Bahkan ketika latihan di kelas pun, saya tidak pernah membedakan,” jelas Gianti Giadi (Gigi), pendiri Gigi Art of Dance.

Shanon (24), putra tunggal Lydia (63), juga kini bukan lagi pribadi introver dan sulit mengangkat kepala saat bertemu orang lain. “Dia sudah mau diajak berkomunikasi dengan orang lain. Dia pun amat menikmati kelas, berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya, dan menunjukkan antusiasme tinggi saat di kelas. Dan sekarang, selalu menari tiap kali mendengarkan musik, malah suka menjadikan tempat tidurnya sebagai ‘panggung’ untuk menari.”

tari down syndrome
Kepekaan pengajar menjadi kunci untuk melihat perkembangan setiap anak muridnya, mengingat setiap anak memiliki kondisi yang berbeda.

Dari sekadar menambah keterampilan dan mengisi waktu, pertemuan setiap minggu di Gigi Art of Dance ibarat menjadi wadah bertransformasi. Ia terinspirasi bagaimana seni tari dapat mengubah kehidupan, suasana hati, gerak, dan koordinasi anak-anak berkebutuhan khusus saat bekerja di sebuah perusahaan tari di Singapura. Bukan hanya mempelajari teknik, ia pun belajar cara memahami perubahan emosi lewat perilaku murid di kelas, mengatur posisi dalam formasi tari, dan masih banyak lagi.

“Hal-hal seperti ini lebih membuka awareness mereka. Jadi, sebenarnya tari hanyalah alat untuk meningkatkan kepercayaan diri, menghargai diri sendiri dan orang lain, serta koordinasi tubuh dan pikiran,” terangnya.

Kepekaan pengajar menjadi kunci untuk melihat perkembangan setiap anak muridnya, mengingat setiap anak memiliki kondisi yang berbeda. Pemberian materi juga perlu selalu ditinjau ulang untuk melihat tingkat efektivitasnya. Yang paling utama, kreativitas dalam mengajar.

Menurut Karina, penjabaran visual amat membantu murid dalam memahami gerakan. “Misalnya membuat gerakan seperti mengambil bulan, mengelilingi bulan, lalu arahkan ke bintang. Kita harus bermain dengan imajinasi. Berdasarkan riset juga dikatakan kalau kita kasih gerakan dan imajinasi, akan lebih mudah dipahami murid.”

Pun halnya dengan tempo musik. Semakin mudah perubahan tempo musik, akan semakin mudah dikenali. Anak-anak pun akan dengan mudahnya menunjukkan perubahan reaksi tubuh dan ekspresi wajah seiring perubahan tempo.

Apalagi jika musik yang diputar adalah kesukaan murid. Otomatis akan membuat kelas hidup. “Misalnya, Razzaq suka Justin Bieber jadi pancingannya pakai lagu Justin Bieber. Atau Ika dan Nina suka Cherrybelle dan Syahrini. Kita pakai lagu-lagu mereka sebagai pancingan supaya mereka otomatis langsung menikmati. Baru dari situ, kita arahkan ke yang lain,” ujar Gigi.

Dari panggung ke panggung

Perjalanan menari dari kelas mingguan pun mengantar anak-anak menjelajahi dunia baru, dari panggung ke panggung. “Banyak panggung yang berkesan buat kita. Salah satunya undangan dari sebuah klien besar untuk mengisi acara yang juga besar beberapa waktu lalu. Seluruh fasilitas, tiket pesawat, hotel, dan lain-lainnya ditanggung pengundang. Momen ini memberi kesan yang amat mendalam dan berharga, terutama bagi orangtua murid. Hampir setiap malam mereka menangis saat di Bali karena tidak percaya anak-anaknya diberi kesempatan seperti itu,” ujar Karina.

Jadwal panggung memang tergolong padat merayap. Selain kerap mengisi acara di car free day, Jakarta, tahun ini mereka juga mendapat undangan berkolaborasi dengan Down Syndrome Association dari Singapura untuk membuat pertunjukan tari. Juga dengan sebuah kelompok dari Bandung untuk membuat pertunjukan musikal khusus untuk anak DS, autisme, dan kaum difabel lainnya. Sementara pada November akan tampil di Asian Youth Theater Festival, Singapura.

Tiga orang murid berkesempatan mengikuti ajang bergengsi ini. Inklusivitas dan persamaan hak menjadi tema yang selalu diangkat Gigi. “Karena kita ingin mereka yang punya passion yang sama, bisa diberikan platform dan hak yang sama dengan yang bukan DS. Aku ingin mimpi mereka tercapai,” pungkasnya.

OLEH MI RANI ADITYASARI

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 3 Juli 2018

foto dok. Egy Siagian