Kerak telor adalah salah satu kuliner khas Jakarta yang legendaris. Kerak telor, salah satu olahan bentuknya seperti omelette atau telur dadar, biasanya disebut dengan omelette Betawi. Makanan legendari ini terbentuk dari hasil kreasi warga asli Jakarta yang tinggal di daerah Menteng pada masa penjajahan VOC di Tanah Air. 

Sejarah Kerak Telor

Awalnya, kerak telor berasal dari pada masa penjajahan Belanda, tepatnya pada abad ke-18 ketika pengaruh berbagai budaya mulai bermunculan di daerah Batavia (sekarang Jakarta). Kota ini telah menjadi pusat perdagangan antara suku, bangsa, dan budaya, mulai dari penduduk asli Betawi, Arab, China, sampai ke Eropa.

Orang-orang Belanda biasa mengonsumsi omellete yang terbuat dari mi dan ingin makanan yang lebih sehat. Kemudian, masyarakat sekitar menggantinya mi dengan beras ketan. Ketan putih, udang kering, garam, merica, serta telur ayam dan bebek yang pada saat itu sedang melimpah di daerah Batavia, menjadi bahan utama dalam pembuatan kerak telor. 

Telur ayam dan bebek dipilih memiliki tujuan, yaitu telur bebek memiliki rasa yang gurih, sedangkan telur ayam membuat tekstur kerak telor tidak cenderung kering. 

Kerak Telor Simbolisme Warga Betawi

Sebagai kuliner khas Betawi, makanan ini biasanya dijual oleh pedagang pinggiran di sekitar pasar atau tempat-tempat wisata. Biasanya, kerak telor kerap dijumpai di sekitar Monas, Taman Mini Indonesia Indah, atau museum-museum. Kuliner ini tidak hanya sebagai kuliner khas Betawi, tetapi juga sebagai simbol-simbol orang Betawi dalam perayaan, adat istiadat, dan kehidupan sehari-hari masyarakat betawi. 

Kerak telor adalah kuliner tradisional yang masih bertahan hingga era modern seperti sekarang. Maksudnya, selain sebagai simbol orang Betawi, makanan ini telah menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan budaya di tengah modernitas. Ketahanan terwujudkan karena masyarakat Betawi tidak hanya memelihara budaya yang ada, tetapi juga berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan tradisi yang ada. 

Kerak telor bukan hanya sekadar kuliner, tetapi sebagai bagian dari warisan budaya yang menggambarkan identitas masyarakat Betawi. Kuliner ini telah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa sekarang, yang menghubungkan antar generasi, serta menjadi simbol kekayaan budaya Betawi yang kaya dan beragam. Dengan menjaganya, masyarakat Betawi dapat mempertahankan identitas budaya yang ada terhadap perkembangan dan perubahan zaman.

Baca juga: Sejarah Rendang: Asal-usul Makanan Legendaris khas Minang