Kehidupan nyata tak selalu indah dan menarik. Bahkan, sering kali buruk dan kelam. Barangkali itu sebabnya ketika coba diungkap, tak semua orang siap. Banyak yang khawatir, hal itu akan ditiru dan memicu perilaku buruk. Itulah yang terjadi dengan Joker, film yang sedang diputar di bioskop.

Terlepas dari kepiawaian Joaquin Phoenix menampilkan karakter Arthur Fleck alias Joker, film ini mengundang reaksi pro-kontra karena kisah yang diusungnya. Selain glorifikasi tokoh kriminal, kisah tentang pengidap gangguan jiwa yang bermasalah ini dianggap mengganggu.

review film joker
Foto-foto: Dok Warner Bros Pictures

Film yang tayang di Indonesia sejak 2 Oktober 2019 ini jelas bukan untuk konsumsi anak-anak. Namun, karena karakternya termasuk dalam semesta DC dan merupakan seteru dari pahlawan super Batman, ada orangtua membiarkan anaknya menonton film ini. Padahal, oleh Lembaga Sensor Film (LSF), film ini diberi rating 17+ antara lain karena konten kekerasan dan bahasa yang vulgar.

review film joker

Plot

Dikisahkan, pada awal dekade 1980-an, Arthur Fleck (Joaquin Phonix) adalah seorang yang gagal dalam berbagai hal. Siang hari, ia bekerja sebagai badut, tetapi mengalami perundungan. Malamnya, ia menjajaki kemungkinan merintis karier sebagai komika. Sayangnya, leluconnya tidak lucu. Malah, gangguan mental yang membuat Arthur kadang tertawa di luar kendali menjadi bahan olok-olok dari sebuah program televisi yang dibawakan oleh Murray Franklin (Robert De Niro). Padahal, Arthur menaruh respek tinggi pada Murray.

review film joker

Perundungan yang dialami Arthur membuat rekan kerjanya bersimpati dan memberikan dia senjata untuk menjaga. Belakangan, senjata itu malah membuat Arthur mengalami masalah. Terus-menerus dirundung masalah, setelah mengalami suatu kejadian, Arthur “memberontak” dan keluar dari cara pandangnya selama ini. Dari seorang yang kalah dan tak berdaya, Arthur bertransformasi menjadi seorang kriminal berdarah dingin.

review film joker

Bagi mereka yang merupakan fans dan mengikuti semesta DC boleh jadi akan mempertanyakan kesinambungan kisah Joker dengan film-film lain yang sudah beredar. Secara khusus menyangkut karakter Thomas Wayne (Brett Cullen) yang di film ini justru terkesan menjadi tokoh antagonis. Namun, tampaknya Joker tidak diposisikan berhubungan langsung kisah-kisah lainnya. Bahkan, meski terinspirasi dari novel grafis Batman: The Killing Joke (1988), sutradara Todd Phillips mengatakan bahwa film ini tidak secara spesifik mengacu pada kisah tertentu. Bersama Scott Silver, Phillips mengaku memilih hal-hal yang mereka sukai dari sejarah karakter Joker dan membuat kisah orisinal sendiri.

review film jokerBaca juga : Review Film “It Chapter Two” : Bersama Melawan Rasa Takut

Reaksi

Joker merupakan film drama psikologis. Penonton akan banyak disuguhi adegan atau situasi untuk bisa mengalami atau memahami apa yang dirasakan Arthur. Akting Phoenix yang piawai dan total dalam memerankan Joker menjadi salah satu alasan film ini sangat layak ditonton. Penonton akan melihat sosok yang sangat menderita dan bermasalah, yang tidak dipedulikan dan dipandang remeh, yang meski sudah berusaha menjalani hidupnya yang berat tetapi masih menerima perlakuan yang tidak semestinya.

review film joker

Melalui jalinan kisah yang solid, amat wajar jika banyak penonton akan merasa terhubung dan mengerti perubahan perilaku Joker. Meskipun barangkali tidak setuju, dapat dipahami jika banyak penonton akan bersimpati. Dan, hal itu dianggap mengganggu, terutama di AS yang bermasalah dengan kejadian penembakan massal. Film ini dikhawatirkan dapat memicu kejadian serupa.

Di media sosial, Joker ramai diperbincangkan warganet. Tidak sedikit pula yang menolaknya dengan berbagai alasan. Dibutuhkan kedewasaan dan daya kritis dalam menikmati Joker—alih-alih langsung menolaknya. Sebagai tontonan, nasib Joker ternyata tak sesuram nuansa filmnya. Dalam sepekan pertama kehadirannya, Joker menuai sukses komersial dengan mencatatkan pemasukan kotor lebih dari 281 juta dollar AS di seluruh dunia. Ironis. Nasib tragis Joker ternyata mendatangkan keuntungan bisnis.

Sutradara:
Todd Phillips

Skenario:
Todd Phillips, Scott Silver; berdasarkan karakter DC Comics

Pemeran:
Joaquin Phoenix, Robert De Niro, Zazie Beetz, Shea Whigham, Brett Cullen, Frances Conroy, Douglas Hodge, Shea Whigham

Durasi:
122 Menit

Rilisan:
AS

Tayang Perdana:
2 Oktober 2019

Review overview

Overall8

Summary

8Mengalami perundungan, kehilangan pekerjaan, tidak diakui dan ditolak oleh orang-orang dekat dan dikagumi. Semua diderita oleh Arthur Fleck, badut dan komedian yang mengalami gangguan jiwa. Setelah menghadapi kejadian tak terduga, cara pandang dan jalan hidup Arthur berubah drastis. Dari orang pinggiran yang kalah, dia memutuskan untuk menentukan hidupnya sendiri.

1 Comment

Leave a Response