Bahan bakar tidak hanya berfungsi agar mesin bisa berjalan saja, tetapi bagi industri penerbangan menjadi salah satu penentu keselamatan. Oleh karena itu, jenis bahan bakar pesawat selalu dimodifikasi berdasarkan perkembangan mesin pesawat.

Semakin canggih inovasi mesin pesawat, bahan bakar yang digunakan tentu juga harus disesuaikan. Sebagian besar orang hanya tahu avtur sebagai bahan bakar pesawat. Padahal tidak hanya itu. Setidaknya ada tiga bahan bakar pesawat yang kini digunakan dalam industri aviasi.

Avgas dan aviation kerosine

Bahan bakar dibutuhkan untuk menghasilkan energi yang dipakai untuk menggenjot piston dan turbin untuk mengangkat badan pesawat ke angkasa. Jika pesawat bermesin piston bahan bakarnya aviation gasoline (avgas), pesawat yang menggotong mesin turbin lebih cocok dengan aviation kerosine.

Kedua bahan bakar tersebut mempunyai sifat titik didih yang berbeda. Avgas merupakan oplosan minyak tanah dengan hidrokarbon cair yang kisarannya antara 32 hingga 220 derajat celsius. Sementara itu, aviation kerosine berada pada derajat yang lebih tinggi, yakni antara 144 hingga 252 derajat celsius.

Perbedaan ini disesuaikan dengan toleransi metal ruang bakar mesin terhadap panas hasil pembakaran. Mesin piston atau mesin generasi awal, dianggap jauh lebih rentan dibanding mesin turbin yang terbuat dari metal jenis baru.

Baca juga: Penggunaan Ban Vulkanisasi untuk Pesawat

Avtur

Inilah bahan bakar pesawat yang paling diketahui masyarakat. Seiring kebutuhan akan kecepatan, avgas dianggap tak mampu menggenjot mesin untuk menerabas batas kecepatan subsonik. Bila pesawat ingin “ngebut”, tentu butuh bahan bakar khusus yang menghasilkan panas lebih tinggi. Dan, ini terletak pada nilai oktannya.

Agar penerbangan jarak jauh dapat lebih cepat sampai, pesawat harus menggotong mesin turbin (turbojet, turbofan, atau turboshaft) dengan kebutuhan bahan bakar yang lebih bertenaga. Di sinilah ramuan aviation kerosine dipakai.

Saat mesin turbin semakin canggih, aviation kerosine turut dimodifikasi. Misalnya, dikenal jenis Jet A, yang hanya cocok untuk mesin jet generasi pertama yang masih sederhana.

Di atas itu, dipakai jenis Jet A-1 atau yang dikenal dengan aviation turbine fuel (avtur). Bahan bakar yang satu ini banyak mengisi tangki-tangki pesawat jet komersial. NATO menyebut avtur ini dengan F-35. Karena avtur begitu luas dipakai, komposisi avtur terus dimodifikasi.

Avtag, avcat, JPTS

Negara-negara maju telah memodernkan komposisi avturnya. Mereka memberi nama Jet B atau avtag, sementara militer menyebutnya dengan JP-5 atau F-44. Penerbangan angkatan laut Amerika yang rentan air, butuh versi yang lebih canggih lagi, maka dipakailah avcat.

Untuk pesawat-pesawat intai yang terbang dalam ketinggian dan kecepatan luar biasa, Amerika punya bahan bakar khusus, yakni jet propellant thermally stable (JPTS). Bahan bakar dengan titik beku rendah. Jenis ini digunakan SR-71, pengintai tercepat legendaris yang melesat melebihi tiga kali kecepatan suara (Mach 3+).

 

Baca juga: 7 Jenis Pesawat Kargo Raksasa, Ada yang Sudah Terbang sejak 1965