Ada kalanya matahari yang bersinar terik berada dalam suatu lingkaran layaknya pelangi. Inilah fenomena optik yang dikenal sebagai halo. Fenomena ini sering terlihat di berbagai belahan bumi.

Dalam bahasa Latin, fenomena langit ini disebut nimbus atau gloriole. Meski bisa terlihat di berbagai negara, kemunculan halo boleh dibilang jarang dan tak bisa diprediksi. Bentuk lingkarannya yang hampir sempurna menjadi salah satu keunikan halo.

Kenapa bisa terjadi?

Halo disebabkan kristal-kristal air yang terbawa awan cirrus lalu dibiaskan oleh sinar matahari dengan sudut tertentu sehingga membentuk nuansa pelangi. Cirrus adalah salah satu jenis awan yang memiliki ketinggian mencapai 5–10 kilometer dari permukaan bumi atau berada di tingkatan atmosfer yang disebut troposfer.

Di troposfer, volume kristal air amat banyak. Posisi sudut yang tepat antara awan cirrus dan matahari, cuaca cerah, dan banyaknya volume kristal air memicu pembiasan cahaya yang membentuk lingkaran dan dinamakan halo. Selain berbentuk lingkaran penuh dengan “bingkai” pelangi, halo bisa dijumpai dalam bentuk lingkaran separuh yang berpusat pada cahaya matahari.

Baca juga :

Serupa pelangi

Bisa dikatakan, fenomena halo serupa dengan proses terbentuknya pelangi pada pagi atau sore hari setelah hujan. Pelangi yang melengkung sering kali tampak di bagian bawah cakrawala karena partikel uap air yang membiaskan cahaya matahari berkumpul di bagian bawah atmosfer. Penyebabnya, pada pagi dan sore, matahari berada pada sudut yang rendah. Pada kemiringan ini, kemampuan air membiaskan cahaya lebih besar. Warna-warna yang muncul pun lebih jelas dan lengkap.

Namun, saat siang hari, posisi matahari tegak lurus dengan bumi sehingga kemampuan untuk membelokkan cahaya menjadi lebih rendah. Akibatnya, warna yang terlihat terbatas. Adanya debu juga menghalangi pandangan ke arah matahari sehingga muncul warna yang lebih gelap. Sedangkan ketika pagi, saat udara masih bersih, yang terlihat pun warna kemerahan. Oleh karena itu, fenomena halo hanya terjadi pada siang hari, sekitar tengah hari. Hampir sama dengan pelangi, fenomena halo banyak dijumpai di musim hujan.

Meski tergolong unik, fenomena halo biasa terjadi dan tidak berdampak pada kondisi cuaca dan manusia, serta bukan merupakan indikasi akan adanya bencana. Fenomena halo bisa dikatakan jarang terjadi di daerah-daerah tropis. Di Eropa dan Amerika Utara, fenomena halo sering terjadi. Fenomena halo tak hanya terjadi pada matahari pada waktu siang, bulan yang tampak pada malam hari pun bisa mengalami fenomena halo.

Jadi, cobalah sesekali kita memandang langit. Jika beruntung, kita bisa menyaksikan keelokan halo di atas sana.

1 Comment

Leave a Response